Gunem Catur 4:

Kenapa Orang Dari Tatar Sunda Tidak Ada yang Jadi Presiden?

Konon menurut ramalan dari Joyoboyo (raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157), bakal pemimpin negeri ini adalah memiliki initial nama “notonegoro” atau “no-to-no-go-ro”, bila diartikan secara sederhana menunjukan bahwa yang bakal menjadi presiden itu “harus” orang Jawa.

Hal ini nampaknya tidak berlebihan bila ternyata yang jadi presiden sebagai pemenang pemilu adalah: “soekarno”, “soeharto” dan “yudoyono”, adapun habibie, gusdur dan megawati, adalah presiden yang dipilih akibat dari peralihan saja.

Namun demikian hampir dari semuanya mereka adalah berasal dari orang Jawa, hal ini tentunya tidak berlebihan karena menurut data statistik pun jumlah penduduk Indonesia itu hampir separuhnya lebih adalah suku Jawa, sehingga peluang / probabilitasnya sangat besar dibandingkan yg lainnya, apalagi sekarang dipilih secara langsung oleh rakyat.

Di balik itu semua, bila melihat kembali ke Sejarah Bangsa nampaknya hampir seluruh Pemimpin Bangsa ini cara kepemimpinannya merujuk kepada falsafah dari Gadjah Mada, yang terkenal dengan “Sumpah Palapa” nya (tahun 1331), dan gaya kepemimpinannya pun nampaknya tidak lebihnya adalah merupakan ‘reinkarnasi’ dari cara kepemimpinan seorang Patih Gadjah Mada.

Bila dilihat secara garis besar, kaidah kepemimpinan Gadjah Mada dapat diklasifikasikan menjadi tiga dimensi, yaitu: Spiritual, Moral, dan Manajerial.

 

Dimensi Spiritual terdiri dari tiga prinsip, yaitu:

  1. 1. Wijaya: tenang, sabar, bijaksana;
  2. 2. Masihi Samasta Bhuwana: mencintai alam semesta; dan
  3. 3. Prasaja: hidup sederhana.

 

Dimensi Moral terdiri dari enam prinsip, yaitu:

  1. 4. Mantriwira: berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan;
  2. 5. SarJawa Upasama: rendah hati;
  3. 6. Tan Satrsna: tidak pilih kasih;
  4. 7. Sumantri: tegas, jujur, bersih, berwibawa;
  5. 8. Sih Samasta Bhuwana: dicintai segenap lapisan masyarakat dan mencintai rakyat;
  6. 9. Nagara Gineng Pratijna: mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, golongan, dan keluarga.

 

Dimensi Manajerial terdiri dari sembilan prinsip, yaitu:

  1. 10. Natangguan: Mendapat dan menjaga kepercayaan dari masyarakat;
  2. 11. Satya Bhakti Prabhu: loyal dan setia kepada nusa dan bangsa;
  3. 12. Wagmiwag: pandai bicara dengan sopan;
  4. 13. Wicaksaneng Naya: pandai diplomasi, strategi, dan siasat;
  5. 14. Dhirotsaha: rajin dan tekun bekerja dan mengabdi untuk kepentingan umum;
  6. 15. Dibyacitta: lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain;
  7. 16. Nayaken Musuh: menguasai musuh dari dalam dan dari luar;
  8. 17. Ambek Paramartha: pandai menentukan prioritas yang penting;
  9. 18. Waspada Purwartha: selalu waspada dan introspeksi untuk melakukan perbaikan.

Prinsip-prinsip tersebut dijadikan sebagai sumber dari filsafat dan way of life yang diyakininya, dan mencerminkan spiritualitas Jawa yang bersifat holistic spirituality, yang memberikan inspirasi pandangan hidup pada Gadjah Mada.

Kenapa Orang Tatar Sunda Tidak Mau dibilang Jawa ?

Ketika saya bepergian keluar negara dari Indonesia, atau bahkan pergi keluar pulau Jawa seperti ke Bali, Sumatera atau Kalimantan, orang akan memanggil saya sebagai orang Jawa. Itu dikarenakan memiliki KTP Bandung yang memang terletak di Pulau Jawa,

Padahal, bagi masyarakat di pulau Jawa bagian Barat atau lebih dikenal dengan propinsi Jawa Barat, mereka tidak bisa disebut sebagai ‘orang Jawa’ atau berasal dari ‘suku Jawa’. Penduduk di provinsi ini lebih dikenal dengan sebutan ‘orang Sunda’ atau ‘suku Sunda’, sementara daerahnya sering terkenal dengan sebutan ‘Tatar Sunda’, PaSundan, atau ‘Bumi Parahyangan’ dengan Bandung sebagai pusatnya.

Kultur Budaya

Suku Sunda atau masyarakat Sunda merupakan mayoritas penduduk Jawa Barat. Dalam catatan sejarah, pada tahun 1851 suku Sunda sudah merupakan penduduk terbesar di Jawa Barat yang berjumlah 786.000 jiwa. Pada tahun 2008, suku Sunda diperkirakan berjumlah lebih kurang 34 juta jiwa.

Secara fisik sulit dibedakan antara orang Sunda dan orang Jawa yang sama-sama mendiami Pulau Jawa. Perbedaan yang nampak sebagai penduduk Pulau Jawa, akan tampak jelas ditinjau dari segi kebudayaannya, termasuk bahasa, jenis makanan yang disukai dan kesenian yang dimiliki.

Berbeda dengan ‘suku Jawa’ yang mayoritas hidup di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, suku Sunda tidak menggunakan bahasa Jawa tetapi bahasa ‘Sunda’.

Bahasa Jawa dan bahasa Sunda jelas memiliki perbedaan yang signifikan. Selain memang mempunyai perbedaan ejaan, pengucapan dan arti, bahasa Jawa lebih dominant dengan penggunaan vocal ‘O’ diakhir sebuah kata baik itu dalam pemberian nama orang atau nama tempat, seperti Sukarno, Suharto, Yudhoyono, Purwokerto, Solo dan Ponorogo. Sementara bahasa Sunda lebih dominant berakhiran huruf ‘A’ seperti Nana Sutresna, Wiranata, Iskandar Dinata, Purwakarta dan Majalaya.

Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, suku Sunda dikenal sebagai masyarakat yang senang memakan sayuran atau daun-daunan sebagai ‘lalaban’ (sayuran yang dimakan mentah-mentah dengan sambal). Bagi orang Sunda, dedaunan dan sambal merupakan salah satu menu utama setiap makan selain tentunya lauk pauk lain seperti ikan dan daging.

Selain kebudayaan dan makanan, salah satu karakteristik orang Sunda adalah terkenal dengan karakternya yang lembut, tidak ngotot dan tidak keras. Mereka bersikap baik terhadap kaum pendatang atau dalam bahasa Sunda ‘someaah hade ka semah’.

Karena sifat inilah tak heran kalau penetrasi agam Islam ke daerah Sunda ketika pertama kali Islam datang, sangat mudah diterima oleh suku ini. Sebagaimana mayoritas penduduk Indonesia, Islam merupakan agama mayoritas orang Sunda. Yang membedakannya, kelekatan (attachment) orang Sunda terhadap Islam dipandang lebih kuat dibanding dengan orang Jawa pada umumnya. Meskipun tentunya tidak sekuat orang Madura dan Bugis di Makassar.

Karena karakternya yang lembut banyak orang berasumsi bahwa orang Sunda ‘kurang fight’, kurang berambisi dalam menggapai jabatan. Mereka mempunyai sifat ‘mengalah’ daripada harus bersaing dalam memperebutkan suatu jabatan. Tidak heran kalau dalam sejarah Indonesia, kurang sekali tokoh-tokoh Sunda yang menjadi pemimpin di tingkat Nasional dibandingkan dengan Orang Jawa.

Contohnya, tidak ada satupun presiden Indonesia yang berasal dari suku Sunda, bahkan dari sembilan orang wakil presiden yang pernah menjabat sejak zaman Presiden pertama Soekarno sampai sekarang Presiden Yudhoyono, hanya seorang yang berasal dari suku Sunda yaitu Umar Wirahadikusuma yang pernah menjabat sebagai wakil presiden di zaman Presiden Soeharto.

Bila dilihat dari unsur sosial dan budaya seperti tersebut di atas, orang dari tatar Sunda memang tidak sama dengan Jawa, sehingga dengan demikian walaupun tinggal di satu pulau, tetap saja tidak bisa disamakan. Namun nampaknya faktor alam yang “lohjinawi” itulah yang membentuk karakter dan kepribadian seperti itu, sehingga membentuk kultur budaya dan perilaku yang membedakan dengan orang Jawa.

Perang Bubat.

Adalah perang yang kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja MajapahitHayam Wuruk dengan Mahapatih Gadjah Mada. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gadjah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M.

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan SundaRaden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran.

Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya.

Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gadjah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan Sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan makksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gadjah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gadjah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

 

Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gadjah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gadjah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gadjah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gadjah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gadjah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.

Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali – yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka – untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gadjah Mada menjadi renggang. Gadjah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).

Dengan demikian nampaknya kejadian seperti tersebut di atas telah membuat orang dari tatar Sunda, tidak menerima kebijakan politik dari Gadjah Mada tersebut, walau tujuannya untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Nusantara itu, namun caranya seperti itu ‘tidak elegant’ dan telah melukai harkat martabat dan harga diri orang Sunda, sehingga sampai kini di wilayah tatar Sunda itu tidak ada nama Jalan Gadjah Mada atau Hayam Wuruk.

Nah…., bila kembali kepada pertanyaan di atas:”Kenapa Orang Dari Tatar Sunda Tidak Ada yang Jadi Presiden?“ nampaknya memang kalau mau jadi Pemimpin Negeri di negeri ini, harus berani seperti Gadjah Mada tersebut, sehingga wajar saja saat ini Partai-Partai / Golongan Politik itu tidak lebihnya seperti “reinkarnasi” dari jaman kerajaan Majapahit, kawan dapat menjadi lawan demi kekuasaaan !

Namun bukan berarti orang Sunda itu tidak bisa jadi pemimpin, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak bisa menerima norma-norma bila harus seperti Gadjah Mada itu yang cenderung ‘licik’ dan ‘menghalalkan segala cara’ demi kekuasan. Hal itulah rupanya yang membuat orang dari tatar Sunda tidak tertarik untuk menjadi pemimpin di negeri ini karena tidak sesuai dengan tabiat dan norma-norma kehidupannya.

Adapun selama ini orang dari tatar Sunda itu cocoknya hanya jadi pemimpin untuk di daerahnya sendiri, walau sebenarnya menurut sejarah tersebut di atas, kerjaan Sunda Padjadjaran adalah Kerajaan Besar yang memliki ‘Komara’ dan ‘Wibawa’ dan satu-satunya kerajaan yang tidak terkalahkan oleh Majapahit !

Akan tetapi rupanya hal itu pada saat ini sudah tidak menjadi keharusan lagi, karena sekarang Partai Politiklah yang menentukan untuk menjadi Pemimpin itu, sebagai salah satu contohnya di Kab.Sumedang, yang konon adalah merupakan cikal bakal kerajaan Sunda Padjadjaran, kini malah menjadi satu-satunya daerah di Jawa Barat yang ‘radja’ nya bukan lagi orang dari daerah tempatan. Hal ini nampaknya pengaruh unsur poltik lebih dominan dalam kehidupan masyarakatnya sehingga norma-norma Budaya Sunda itu terkalahkan oleh kepentingan politik dan kekuasaan.

Namun bagaimanapun seharusnya “Bangsa yang baik itu adalah bangsa yang menghargai Sejarah dan Budayanya”, sehingga dengan demikian nilai-nilai luhur kultur budaya tersebut tidak hilang ditelan jaman,  dan tentunya hal itu tidak bisa hanya dijadikan selogan “nyandang kahayang” namun harus dapat diwujudkannya menjadi kenyataan, sehingga “dina budaya urang napak, tina budaya urang ngapak” dapat tercapai !

Semoga hal ini dapat menjadi pemacu semangat generasi muda selanjutnya untuk “BANGKIT” kembali dan tidak terbuai oleh jebakan politik yang cenderung menghalalkan segala cara. SEMOGA…!

Salam sono ti Urang Wado, (Ir.H.Surahman,M.Tech,M.Eng,MBA)

Wed, 16 Jun 2010 01:01:20 WIB
  Sent using Telkomsel Mobile Internet Service powered by
    telomsel
  • Yoyon Darsono

    hatur nuhun tulisana nambihan wawasan. sok sanaos kantos maos dina buku2, tapi kaemutkeun deui…janten kumaha atuh..tah…nya mudah2an wae kapayun mah aya atuh urang Sunda nu leber wawanen kanggo janten pamingpin di nagara urang.

  • putra pajajaran

    aslmlkm..

    punten sateuacana, naha bapak terang cerita asli perang bubat? timana sumberna? da panginten kisah nu aslina mah persis sapertos nu dicarioskeun ku bapa..

    panginten sakedap deui urang sunda teh bangkit… sakedap deui.. da pajajaran tos bade digelar saurnamah…

  • wardi

    tapi ingat booos…orang sumedang ada yg pernah jd wakil presiden hehe

  • IKITASYA

    Assalamualaikum Kang Haji,
    Salam silaturahmi,
    Hatur nuhun pisan ku wejangannana eta perkawis kepemimpinan Maha patih gajah mada anu di bagi kn 3 dimensi anu paling tertarikna dina Manajerial,eta tiasa diangge kangge basic seorang manajer.Insyaallah ieu bahan ku abi bade di simpen kangge bekel sim abdi.
    Wassalam ti urang Cikijing Majalengka nu nj n gumbara di Phnom Penh Kamboja.
    Asep R(Ikitasya)

  • Kang Haji

    Sampurasun anu kasuhun..,
    Haturnuhun ka sadayana anu maos atikel nu kapidangkeun, mugi wae tiasa ngajantenkeun I’tibar sareng lenyepaneun kanggo urang sadaya, Insya Alloh “lamun keyeng mah tangtu pareng…!”
    Baktos,
    Dubai,20 July 2010.

  • boy wangsapraja

    Assalammu alaikum.
    Ada beberapa buku sejarah yang menceritakan ttg kerajaan di Indonesia hanya menceritakan sekilas saja ttg Kerajaan Tarumanagara dan Pajajaran. Malah ada yang sepertinya sengaja mengaburkan, mengecilkan bahkan memutarbalikan fakta. Tolong para tokoh sunda untuk membuat buku sejarah tatar sunda sebagai tandingan buku sejarah tersebut. Di alam demokrasi bebas untuk membuat tulisan. Biar masyarakat yang menilai mana yang benar !

  • agus

    leres pisan tah tulisan teh, karaos pisan, urang sunda mah sok dizalimi wae di kancah nasional.

  • http://anggadoet.blogspot.com agaga

    hatur nuhun kang, nambih wawasan pisan. salaku urang sumedang, sanajan jauh ti lembur abdi reueus pisan janten urang sunda. kumaha carana ngahijkeun urang sunda sareng ngapertahankeun budaya sundanya?

  • http://tempatebook.com tempat ebook

    sae sae artikelna si Akang teh nya, hehe.. punten ngiring ngalangkung, mudah2an ambisi urang sunda lebih ageung, someah hade ka semah <— like this :)

  • popi

    aduh gak tau bahasanya.ingat sob,,,jaga persatuan..tapi memang tidak mudah mendapatkan gelar seorang pemimpin.hanya orang tertentu dan pasti dari kalangan tertentu.salah 1 ciri seorang pemimpin adalah dia bisa menguasai..ini yang tidak dapat di miliki *maap*sunda.mereka selalu mengalah..tapi kenapa?..kalau mereka bisa tidak berbuat?..dan salah 1 peradapan yg maju adalah mereka yg bisa berbuat . menciptakan .kalw diem mengalah ya gak ada perubahan..pizzzz

  • none w

    Hatur nuhun Kang elmuna kalintang mangrupikeun cahya kanggo sim kuring nu ampir pareumeun obor…

  • muhsinin

    punten kang,abdi pameget org sunda gaduh pacar org jawa,tapi teu diwidian ku istri org tuana!!!alesanana kuanon nya???emang aya hubunganana sareng cerita anu ntos dipaparkeun,mengingat org tua abdi oge henteu ngawidian deuih???

  • ubas darajatun

    Muhun Abdi Kantos Ngareungeu Sajarah Eta Anu Pastina PATIH GAJAH MADA teh Jalma Picik.
    Oge Sajarah Soekarno Anu Numutkeun Sajarah Sunda Rehna Soekarno Teh Urang Sunda Anu Dilahirkeuna Di Cianjur,Tepatna Di Kp Sukanagara.

  • http://facebook dede yunus basri

    saparantos maca ieu abdi asli urang sunda anu lahirna d sumedang jadi sumangeut hoyong janteun pamimpin nagara….

    abdi bade ngageuntos mitos urang bandung mwal bisa janteun pamimpin..
    ka sadayana d suhunkeun pidu’ana…

    maju urang SUNDA…

  • Mamad Hudori

    tong hariwang & tong saleumpang k baraya, sementawis trah sunda mah moal manggung ayeuna, kdah emut kana wangsit siliwangi. bandungan weh, kumaha rek hayang jadi pamimpin nasional, jadi pamimpin daerah oge loba nu teu amanah, teu kaelmuan jeung teu ngarti hakekat pamimpin. Bapak Soekarno leureus ti jawa & bali, tapi mun apal saha anu nitisna, saha nu jadi guruna, saha karomah anu ngapingna, dimana wae tempat tatapana, sadayana hampir ti trah sunda, ku sabab di diri Bapak Sukarno aya simbol Tanah & Air jeung Simbol jaman karajaan & jaman Para Wali, anu mempersatukeun Nusantara……

  • putra kusuma

    KALAU MENURUT RAMALAN JOYOBOYO BAHWA TDK BOLEH PEMIMPIN DI NEGERI INI SELAIN DARI SUKU xxxO, MAKA RAMALAN RAJA2 DARI KERAJAAN (SUMATERA, KALIMANTAN, SULAWESI, PAPUA) BAHWA SUKU xxxO LAH YANG MEMBUAT HANCUR NEGERI INI!!!!!

  • ujang

    Kang, referensi (daftar pustaka) tulisan ulah hilap.

  • caca

    HATUR NUHUN ARTIKELNA,TOS NAMIH WAWASAN ABDI,TERUS TERANG NEMBE TERANG AYENA

  • koko hendrik handriyuso

    TONG salempangdulur dulur , jaman baheula aya perjanjian penguasa laut kidul pernah ngayaken perjanjian jeng raja 2 di jawa ,kerajaan sunda kudu aya nu jadi pamimpin, ,suatu saat INDONESIA kudu nu jadi pamimpin teh ti tatar sunda cenah.aya bagean , makana ayeuna teu subur makmur wae da di doliman wae, satria piningit bakal ada ,cenah ti tatar sunda ,pan pusat na INDONESIA teh di mna cina ,aya nu terang teu, MANGKU BUMI nangey bumi nya , tah raja2SAJAWA TEH karumpulna di tatar sunda nya eta di kota BOGOR prabu siliwangi .coba urang sing aringet ka karuhun2 uarang.INDOSIA TEH BAKAL SUBUR MAKMUR LOH JINAWI KUDU DI PIMPIN TI TATAR SUNDA AMIIN ,TINGAL COBA SUATU SAAT PASTI.

  • koko hendrik handriyuso

    TONG salempangdulur dulur , jaman baheula aya perjanjian penguasa laut kidul pernah ngayaken perjanjian jeng raja 2 di jawa ,kerajaan sunda kudu aya nu jadi pamimpin, ,suatu saat INDONESIA kudu nu jadi pamimpin teh ti tatar sunda cenah.aya bagean , makana ayeuna teu subur makmur wae da di doliman wae, satria piningit bakal ada ,cenah ti tatar sunda ,pan pusat na INDONESIA teh di mna cOna ,aya nu terang teu, MANGKU BUMI nangey bumi nya , tah raja2SAJAWA TEH karumpulna di tatar sunda nya eta di kota BOGOR prabu siliwangi .coba urang sing aringet ka karuhun2 uarang.INDOSIA TEH BAKAL SUBUR MAKMUR LOH JINAWI KUDU DI PIMPIN TI TATAR SUNDA AMIIN ,TINGAL COBA SUATU SAAT PASTI.

  • ratu

    ari ningali ka-ayan kiwari, sigana urang sunda teh bakal tumpur, ajur ku bangsa sunda sorangan, budaya sunda geus jadi budaya campuran, aya erpa,aya jawa aya amerika, tur anu ngalakukeun budaya teh malah bangga lain era, atuh lulugu sunda masih leletak ka luluhur jawa da butuh ku hirup jeung kahirupan, teu boga harga diri jeung kapribadian, somahan lain di bela da somahan mah tara mere duit atawa mere pangkat, sabab ari meuli beas mah angger ku duit lain ku kanyaah…, budaya urang dihaja di leuleungit, Pulau Sunda Besar geus leungit tina peta, tinggal sunda kecil, urang jawa ngahaja kararawin jeung urang sunda sangkan rundayana bisa ngaheurinan tatar sunda ku budaya manehna, kitu deui suku laina, jadi tatar sunda kiwari budayanan nano-nano, geus kitu teh urang sunda kalahka bangga majarkeun berbudaya nasional… heu.. ulah haliwu lur, mun isuk siduru geus teu manggihan deui naon ari anu disebut SUNDA

  • Rizal

    @ratu: sumuhun tonk boro budaya, caritana ge tos moal aya da jgana teh kedap deui ge!! oh enya abdi prnh ngadangu prkawis “The Greater Jakarta” eta teh Kmha??

  • Dachlan Bin Sumadja H.

    Punten wae anu atosmah janten pangeran di Sumedang mah.

  • http://- xxxo

    punteun sadayana…sepertinya komentar putra kusuma klo dibaca sama org jawa pasti tersinggung, jagalah perasaan suku laen yg bkn sunda jgn asal nulis bung!!tulisan anda sengaja atau tdk mengandung bahasa yg kurang bijak……

  • Kayana Sunadi

    Wah, kalau soal “begituan”, saya jadi ikutan pusing nih. Soalnya menurut sejarahnya, leluhur kakek dari ibu saya adalah Urang Leles Garut asli. Sementara dari leluhur nenek (dr pihak ibu) adalah blasteran Sunda-Surabaya, nenek sendiri lahir & besar di Sukabumi. Sementara dari pihak bapak, nenek saya orang Parung dan kakek keturunan Cina Tangerang.

    Makanya saya suka uring2an kalo orang2 ngebahas soal suku. Memang darah Sunda terasa lebih dominan ditubuh saya. Itulah sebabnya saya suka sebel kalau membaca soal Perang Bubat, terutama mengenai kelakuan Gajah Mada. Saya sering sewot pada Mahapatih Majapahit itu. Meski pada perspektif lain, saya salut dengan kegigihannya “menyatukan dan menjajah” Nusantara.

    Demikian saudara2 sadayana…
    Mohon maaf jika tidak berkenan…

  • oim

    leres pisan abdi gaduh pangalaman pribadi…..ngaraoskeun pisan karakter sunda sareng jawa saat memmimpin LSM LMPP (lembaga mahasiswa peduli pertanian link ketua senat mahasiswa se malang). janten senat mahasiswa di malang abdi gaduh pelajaran berharga tiasa menyelami karakter manusia dari 33 propinsi nu tersebar disetiap kabupaten (karakter asli daerah). Ari urang sunda mah tara ngotot untuk menonjolkan diri ingin didepan, benten sareng urang jawa timur kompetisina kiat pisan/keras/hampir tidak sehat/saling menjatuhkan walaupun diantara mereka sendiri hanya untuk sekedar mendapatkan yang terdepan, tapi tong lepat pami tos dipasihan tanggung jawab urang sunda mah pantang mundur (sapertos carita diluhur)langkung sae gugur dipakalangan, benten deui urang jawa tengah berpolitiknya cenderung halus penuh staregi memperhitungkan pertahanan sebelum menyerang sehingga cenderung mematikan” sapertos pak harto seuri dipayuneun tapi tipengker leungit eta jalmi anu tidak sepaham”"”"hiji catatan ti abdi “ngajak” mangga membiasakan diri membentuk dilingkungan tatar sunda bersaing sehat untuk memposisikan diri menjadi yang terdepan melalui kompetisi santun sebagaimana kepribadian urang sunda mulai dari organisasi kecil kecilan hingga besar contoh pami aya pelatihan atanapi pertemuan mangga kumaha cara untuk meraih simpati orang bahwa kita pantas menjadi pemimpin sehingga akhirnya kita dapat dijadikan pemimpin secara psikologis karakter lokal tersebut akan terbentuk memposisikan diri orang sunda meraih di pemimpin ditingkat nasional. itu yang dimiliki orang jawa dan hampir tidak dimiliki orang sunda secara umum (orang sunda mah cenderung kumaha hadena). menyelami karakter sosial dimasing masing propinsi tersebut wajar dari jawa timur banyak menjadi presiden
    “”ieu pangalaman pribadi anu disimpulkeun ku pemikiran pribadi anu terbatas, teu rumaos bade ngawonkeun masing masing suku hanya sebagai kajian supados urang sunda janten nomor hiji”nuhun kana tulisan kenapa orang sunda tidak ada yg jadi presiden” sangat menggelitik”

  • RASA

    tong hariwang lur inget wae wangsit siliwangi lain teu aya tapi teu acan waktos kang oim kade tong lepat getih moal leungit dugi ka akhirul zaman! sing emut saha ari RAMAWIJAYA nu ngadegkeun MAJAPAHIT! moal aya Majapahit nu dinastina /katurunana nu dugi ka ayeuna jareneng janten Pamimpin di NUSANTARA upami teu aya RAMAWIJAYA moal aya MAJAPAHIT. SAHA atuh RAMAWIJAYA???????? pun sapun nya paralun hapunten sanes bade memperdebatkeun tapi simkuring ngarasa wajib ngabela terah sorangan. Sunda Jawa sami waelah nu penting bisa ngarobah nagara kana kamajuan! wajar kang oim mun urang sunda hese naek sabab urang sunda lain make politik Kerisna Mpu Gandring, aya keneh rasa mikanyaah lain parebut kakuasan ku sagala jalan sok mangga pelajari. nu jelas gaya politik sunda jawa ampir samimawon aya oge politikna GAJAHMADA nu klaim Ala politik jawa padahalmah teuing urang mana, asah asih asuh

  • http://ronaldo.juhari@yahoo.co.id hamba allah

    sukuisme kalian pada tinggi…
    Sifat manusia itu sama saja,tidak peduli dari suku manapun….
    Di jaman yang semaju ini masih banyak saja pemikiran-pemikiran jahiliah yang menyeret diri mereka dalam kesesatan…
    Semoga allah swt memberi hidayah pada kalian,,,
    dan ingat firman allah swt bahwa allah menciptakan manusia besuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal….
    Bukan saling menjelek-jelekkan seperti ini.

  • jalak raksa

    sampurasun….
    Ass…bade naon anu terjadi simkuring bangga janten urang sunda,mangga urang sasarengan jaga lestarikeun budaya buhun sunda seungitkeun heula d lembur sorangan ke beberkeun sayap ka kancah nasional buktikeun urang sunda pangmakmurna kudu jdi conto keur pamingpin” nu sejen

  • ifey

    urang sunda itu cenderung tidak suka di bohongi jadi wajar ketika patih gajahmada berdampak mengakibatkan perang bubat dan kelicikannya pun masih terasa sampai sekarang.
    siapa pun dan dari golongan mana pun yang akan jadi pemimpin maka harus mempertangjawabkan kepemimpinannya.
    dan seorang pemimpin itu harus bersikap tablig, sidiq, fathonah dan amanah. tidak bersikap licik menghalalkan segala cara meskipun tujuannya mempersatukan nusantara. kalau saya analogikan sama saja dengan kita berdagang minuman keras dan keuntungannya di berikan pada orang miskin dan yatim. mau jadi apa bangsa ini kalau sumbernya saja berasal dari yang jelek, pastilah melahirkan kararteristik yang jelek pula.

    hatur nuhun artikelna, mugia di aos kasaennana di piceun nuawonna,,,,

  • http://www.Sumedangonline.com nimas

    Ass. Sok atuh urang Sunda geura tandang, tembongkeun wawanen pikeun kamaslahatan balarea,ulah pagirang-girang tampian, urang Sunda kudu sareundeuk saigel, sauyunan ngahontal tujuan jeung udagan nu didadasaran ku kaiklasan jeung kaadilan.

  • http://tanpasekolah.wordpress.com/ budi elekesekeng

    asa reueus pami pendak sareng urang sunda deui dipangumbaraan tetep someaah hade ka semah.
    haturnuhun baraya

  • amin Ujang

    Cocok pisan urang sunda mah langkung sae,nyandak jalan aman supados teu aya penyesalan,tibatan nga halalkeun sagala cara.mangga semoga keturunan sunda sareng keluargi lebet sawarga.tetep jaga someah,ngahormat kasaha wae teu ngebeda-bedakeun.ngahaturkeun nuhun ka Alloh sareng karuhun sunda.

  • koko

    aduuh muhun nya kang,lamun ngaguar dei ka carios ti kolot, mani reueus teh jadi urang sunda,majar ceunah ari urang sumedang mah bade angkat kamana bae ge bakal jadi pi oboreun,bisa nyaangan ka sakurilingna,kumargi ceunah,ari sumedang teh ngarangrangan,tah kukituna urang teh keudah ngaguar deui,milarian’elmuna karuhun urang,cenahmah naminateh,kasumedangan anu di agem ku eyang prabu tajimalela. moga wae kapayuna presidan urang teh urang sumedang sa awon2na aya trah nah ti urang nya.

  • H Alief Djatisunda Dipasundan

    Insya Allah, saya yakin suatu saat ada orang Sunda yg jadi presiden… Masa negara Indonesia yang pusat kekuasaannya ada di daerah Sunda(Jakarta) tidak melahirkan presiden dari tanahnya sendiri.
    Tapi ingat, kalau Presidennya orang Sunda, negara ini harus bebas korupsi, jangan sampai seperti presiden sebelumnya yang hobi banget korupsi semenjak jaman majapahit sampai sekarang…

  • H Alief Djatisunda Dipasundan (Bogor)

    Jampe Jampe Harupat, geura gede geura lumpat…
    Putra putri Sunda geura hudang tong sare wae, geus waktuna mimpin ieu bangsa warisan ti eyang Prabu Siliwangi…

  • Nike Anita

    Saya optimis, Insya Allah nanti ada presiden dari orang Sunda, yang bisa memimpin bangsa ini dengan adil dan bijak… yang membebaskan bangsa ini dari koruptor.
    Masa sih Indonesia yang pusatnya ada di tanah Sunda, tidak melahirkan presiden dari tanahnya sendiri…lihat aja nanti

  • Yayan

    Anyiiiirrrr…. aya ku HADE ieu lalakon, Hatur nuhun kana kasaeanana, alaaah kutan teh kitu nya gning sajarahna? keun mudah2an ageug manfaatna kasadayana utamina urang SUNDA, ari Abdi mah kmha atuh nya? ukur bisa ngurut dada we jeung nga Du’a, kalayan sing engal2 ieu nagara teh sing meunang Pamingpin/Raja anu bener2 nyatria jeung luhung ku Elmu anu masagi.
    salam Baktos ka sadayana, Abdi Urang Sunda ti Tasikmalaya, SABANDA SARIKSA, SABALE GANDRUNG SASUNDA SASILIWANGI…

  • edi

    Assalamu alaiqum wr wb..
    nya upami di cukcruk galur dibedah caritamah para rajateh geuning orang sunda wungkul..ti mimiti raja anu turunan dugi ka raja anu di pilih…da saur info anu katampimah para raja teh asal ti sunda anumatak aya anu katelah tatar sunda manjing kana wanci cunduk kana waktu, tah kujalaran eta para raja di kuasai ku urang sunda geura sok emutan…..

  • edi

    tina badan abdi ngalir darah sareng nyawa titisan sunda……

  • Joe

    sejarah perlu di hargai,untuk saat ini jiwa nasionalis yang paling penting.biar pemimpin yang mempertanggung jwbkan semuanya di depan TUHAN.

  • Arif

    Tidak juga. Presiden Soekarno keturunan ningrat Pajajaran dari Ayah, dan ningrat Kediri dari Ibu. Kota Blitar tempat beliau dibesarkan, dan Pulau Bali yang merupakan tempat asal Ibu-nya, dulunya masuk yurisdiksi Kerajaan Kediri. Lagipula, bukannya tanpa alasan, Jakarta dijadikan Ibu Kota sejak zaman Hindia Belanda. Padahal posisinya di Jawa bagian barat. Satu hal lagi, Istana termegah di Indonesia yang masih menjalankan fungsinya, terletak di Kota Bogor, Jawa Barat.

  • Albert

    Ngan awonna urang Sunda teh kirang kiat kakulawargiannana benten sareng suku tatanggi.

  • Asep

    tinak getih jeng tulang iyek masih asli sunda.

  • aca mulyana

    Ass ww Kang Surachman urang bangkit sadaya anu kagugah ku paparan Akang. Masih aya kesempatan tahun 2014 urang usung dan majukeun ti orang sunda nu kira2na mumpuni sareng kanggo bupati Sumedang coba dirangkul sadaya kanggo berembuk Sumedang kan ayeuna tiasa calon independen. Hatur nuhun sadayana

  • aca mulyana

    Ass ww melalui media ini saya ingin lebih kenal dekat dengan pak Surachman bisa dibantu no hp atau emailnya.

  • admin

    Terima kasih Pak Aca Mulyana
    Email bisa langsung via redaksi@sumedangonline.com saja karena Pak Surahman adalah Pembina kami.

    Terima kasih.

  • aca mulyana

    Hatur nuhun pak/admin atas perhatosanna. Mungkin urang Sumedang oge seer anu jantem jalma palinter nya namun marajeung na diluar Sumedang tah itu panginteun tugas urang sadaya ngempelkeun dina hiji acara silaturakhmi paguyuban anu akbar. Tapi mungkin ayeuna tos aya tapi masih parsial.

  • aca mulyana

    Urang Sumedang harus optimis suat saat ada yg menjadi pemimpin besar. Kita didik anak2 kita menjadi orang yg cerdas dan tidk melupakan tanah leluhurnya

  • SHMILYNEH

    teu sakeudik murang kalih ayeuna seuseurna nyariosna sanes ku bahasa sunda, tapi ku bahasa nasional,padahal calik na teh di lembur rek ka mana keun tuh bahasa nu tos nga darah daging ti urang teh. bahasa nasional memang penting tapi da engke ge sakola pasti di ajar bahasa nasional

Switch to our mobile site

<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>