BENDUNGAN JATI GEDE DAN SEJARAH SUMEDANG – SUMEDANGONLINE | Berita Seputar Sumedang
Sedang Dibaca
Home > Kearifan Lokal > BENDUNGAN JATI GEDE DAN SEJARAH SUMEDANG

BENDUNGAN JATI GEDE DAN SEJARAH SUMEDANG

DIGUNUNG LINGGA KARUHUN BERKUMPUL

Banyak yang percaya bahwa Gunung Lingga yang berlokasi di Desa Cimarga, Kec. Darmaraja, Kab. Sumedang adalah tempat keramat. Di tempat itu, konon, Prabu Tajimalela, Raja Sumedanglarang menghilang alias ngahyang. Sebelumnya, Prabu Tajimalela mewariskan kerajaannya (yang juga terkenal dengan nama Himbar Buana) kepada seorang putranya, Prabu Gajah Agung.

Sebelum bernama Sumedanglarang, kerajaan tersebut bernama Tembong Agung dan diperintah oleh tokoh bernama Guru Aji Putih. Tokoh ini, disebut-sebut masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi I).

Nama Sumedanglarang, menurut sahibul hikayat, bermula dari kalimat yang diucapkan Prabu Tajimalela: insun medal madangan (aku lahir di tempat ini). Seiring perkembangan zaman, kalimat itu kemudian berubah menjadi Sumedanglarang. Belakangan, kata “larang” yang berada di belakang Sumedang dihilangkan.

Lantas, betulkah Tajimalela bersemayam di Gunung Lingga? Cerita itu, sebenarnya sulit dipercaya. Apalagi, bukti-bukti pendukung cerita itu sangatlah minim. Bahwa di puncak Gunung Lingga memang terdapat menhir, itu betul. Akan tetapi, pertanyaan apakah menhir itu ada kaitannya dengan Prabu Tajimalela, sampai kini hal tersebut masih menjadi misteri.

**

TERLEPAS benar atau tidaknya cerita itu, yang jelas dalam waktu dekat, Gunung Lingga bakal kedatangan “penghuni” baru. Situs-situs makam kuno di daerah genangan Bendung Jatigede bakal dipindahkan ke sana. Dengan demikian, warga Sumedang tidak “kehilangan” karuhun-nya, setelah projek Bendung Jatigede terealisasi.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
3
0
0
0
0
0
1

1 2 3 4 5 6







3 thoughts on “BENDUNGAN JATI GEDE DAN SEJARAH SUMEDANG

  1. Jadi inget carita aki di kampung (Peundeuy, Conggeang) Tong, coba tingalikeun, ti taun 1960 jatigede rek dijeiun bendungan nu pang gede-gedena, tapi karuhun urang moal rido jeungn nyatujuan, coba we bandungan dina jadina oge bakal jadi mamala. Karuhun urang dikeueum nu ahirna jebol deui-jebol deui.

  2. hmmmm, sebenarnya saya tidak setuju… karena di desa tanjungsari kp kebontiwu kec,darmaraja. itu rumah nenek saya dan kakek saya, apabila benar semua akan dipindah apakah mungkin … karena kompleks pemakamannya banyak sekali serta saya sendiri bingung jika nanti saya pulang kampung kemana ? saya masih ingat saat kecil saya berada disana !!!!

  3. saya pikir kita yang masih hidup tidak mengerti mereka yang sudah tiada, sehingga kita hanya bisa merusak yang ada…. nenek saya ada dikebon tiwu tanjungsari kec,darmaraja dan lebaran tahun ini saya akan kesana… semoga belum dipindahkan makam makamnya dan saya bisa mengingat semasa kecil saya disana dengan alm,kake saya …

Leave a Reply

Top