Home » CAGAR BUDAYA » BENDUNGAN JATI GEDE DAN SEJARAH SUMEDANG

BENDUNGAN JATI GEDE DAN SEJARAH SUMEDANG


Tanggal:  Sat, 03 Apr 2010 07:30:17 WIB

DIGUNUNG LINGGA KARUHUN BERKUMPUL

Banyak yang percaya bahwa Gunung Lingga yang berlokasi di Desa Cimarga, Kec. Darmaraja, Kab. Sumedang adalah tempat keramat. Di tempat itu, konon, Prabu Tajimalela, Raja Sumedanglarang menghilang alias ngahyang. Sebelumnya, Prabu Tajimalela mewariskan kerajaannya (yang juga terkenal dengan nama Himbar Buana) kepada seorang putranya, Prabu Gajah Agung.

Sebelum bernama Sumedanglarang, kerajaan tersebut bernama Tembong Agung dan diperintah oleh tokoh bernama Guru Aji Putih. Tokoh ini, disebut-sebut masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi I).

Nama Sumedanglarang, menurut sahibul hikayat, bermula dari kalimat yang diucapkan Prabu Tajimalela: insun medal madangan (aku lahir di tempat ini). Seiring perkembangan zaman, kalimat itu kemudian berubah menjadi Sumedanglarang. Belakangan, kata “larang” yang berada di belakang Sumedang dihilangkan.

Lantas, betulkah Tajimalela bersemayam di Gunung Lingga? Cerita itu, sebenarnya sulit dipercaya. Apalagi, bukti-bukti pendukung cerita itu sangatlah minim. Bahwa di puncak Gunung Lingga memang terdapat menhir, itu betul. Akan tetapi, pertanyaan apakah menhir itu ada kaitannya dengan Prabu Tajimalela, sampai kini hal tersebut masih menjadi misteri.

**

TERLEPAS benar atau tidaknya cerita itu, yang jelas dalam waktu dekat, Gunung Lingga bakal kedatangan “penghuni” baru. Situs-situs makam kuno di daerah genangan Bendung Jatigede bakal dipindahkan ke sana. Dengan demikian, warga Sumedang tidak “kehilangan” karuhun-nya, setelah projek Bendung Jatigede terealisasi.

Kenapa dipindahkan ke Gunung Lingga? Alasan utamanya karena gunung itu tidak termasuk daerah genangan Bendung Jatigede. “Alasan” lainnya, agar para karuhun urang Sumedang bisa “berkumpul” dengan Prabu Tajimalela.

Soal pemindahan situs di Jatigede ke Gunung Lingga itu disampaikan Kepala Seksi Kepurbakalaan dan Permuseuman Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Drs. Edi Sunarto, belum lama ini. Menurut dia, di kawasan Jatigede, sedikitnya ada 64 situs yang perlu diselamatkan.

“Situs-situs yang akan terendam, sebagian merupakan peninggalan masa prasejarah dan masa Kerajaan Tembong Agung atau Sumedanglarang. Sebagian lagi, makam leluhur pendiri desa setempat,” tuturnya.

Ia mengatakan, lahan yang disediakan untuk pemindahan situs-situs tersebut seluas 3 hektare. Site plan-nya sudah rampung. Kendati demikian, hingga kini, upaya pemindahan itu masih mengundang pro-kontra di kalangan masyarakat.

Oleh karena itu, hingga kini, pemerintah masih berfokus pada pendekatan kepada masyarakat agar rencana itu diterima. Ia optimistis, upaya itu segera membuahkan hasil positif dan pada akhirnya, seluruh situs dapat dipindahkan sebelum tahun 2011.

Memindahkan situs di genangan Bendung Jatigede itu, sebenarnya, tak semata keingingan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Pada tahun 1994, pengurus Yayasan Pangeran Geusan Ulun Sumedang H. Djamhir Sumawilaga (kini sudah meninggal dunia), dalam percakapannya dengan “PR”, sudah mengemukakan hal itu.

Waktu itu, Djamhir memercayai, tertundanya pembangunan Bendung Jatigede itu karena situs karuhun di Darmaraja dan sekitarnya belum dipindahkan. Jika seluruhnya sudah dipindahkan, ia percaya pembangunan Bendung Jatigede takkan menemui kendala. Hal itu, ujar dia, berkaitan dengan tata krama terhadap karuhun. “Masa, karuhun kita akan dibiarkan kakeueum?” ujarnya.

Berdasarkan pemantauan “PR”, upaya relokasi sudah dimulai Satuan Tugas (Satgas) Penanganan dan Percepatan Relokasi Situs/Cagar Budaya di Jatigede. Baru lima situs yang diekskavasi.

“Upaya eskavasi lima situs, ditargetkan tuntas akhir tahun ini,” kata Ketua Satgas Nunun Nurhayati kepada wartawan, di Bandung, belum lama ini.

Nunun menjelaskan, ekskavasi terhadap kelima situs itu tidak mudah. Pertama, kata dia, pihaknya harus mengidentifikasi dan mengobservasi situs secara seksama. Dengan demikian, mereka mendapatkan cara atau mengetahui susunan situs itu agar tak berubah. Dalam mengekskavasi, kata dia, satgas menggunakan pendekatan ritual masyarakat setempat.

**

BENDUNG Jatigede diharapkan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar bendungan. Tak hanya yang tinggal di wilayah Sumedang, tetapi juga di luar Sumedang. Sungai yang akan di bendung adalah Sungai Cimanuk. Rencananya, bendungan ini akan dibangun di Kampung Jatigede Kulon, Desa Cijeungjing.

Rencana pembangunan bendungan, sebenarnya muncul pada tahun 1963. Sejak itu, pemerintah menggelar serangkaian studi banding untuk melihat sejauh mana manfaat bendungan tersebut. Berdasarkan catatan, studi banding itu, antara lain, dilakukan oleh Consultan Coyne et Billick (1967), Nedeco-SMEC (1973), dan SMEC (1978-1980). Hasilnya: pembangunan Bendung Jatigede, memang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Menilik hasil itu, kemudian, sejak tahun 1984, pemerintah membebaskan tanah warga. Ribuan warga di tiga kecamatan yang akan terendam –Wado, Cadasngampar dan Darmaraja– diberikan uang ganti rugi. Selanjutnya, sebagian dari mereka mengikuti program transmigrasi ke luar Jawa, ada juga yang ikut program bedol desa ke wilayah terdekat ke Arinem (Kab. Garut) atau ke wilayah lain Kab. Sumedang.

Bila melihat rentang waktu sejak munculnya rencana pembangunan, sejatinya, bendung itu sudah selesai, kini. Bayangkan saja, sudah 46 tahun! Namun, entah kenapa, sampai sekarang Bendung Jatigede belum juga mewujud.

Ketidakpastian itu, kini memunculkan beraneka masalah. Salah satunya: warga yang dulu menerima uang ganti rugi, tak sedikit yang pulang kampung. Mereka membangun rumah di tempatnya dulu dan kembali memanfaatkan lahan untuk mencari penghidupan. Pemerintah sempat kebingungan untuk mengatasinya.

Belakangan, diperoleh kabar, dana pembangunan Bendung Jatigede itu sudah tersedia setelah pemerintah pusat menerima bantuan pinjaman dari Cina dan Jepang. Kalau begitu, apakah Bendung Jatigede akan segera mewujud? Kita lihat saja!

**

KEMBALI kepada persoalan situs, menurut Edi Sunarto, di kawasan itu, seluruhnya terdapat dua puluh lima kompleks makam kuno, tersebar di Kec. Darmaraja dan Kec. Wado.

Data itu sama dengan data yang dikeluarkan Balai Arkeologi Bandung dan penelusuran Sejarawan Nina Herlina Lubis. Di kawasan tersebut, ditemukan punden berundak dan arca peninggalan masa lalu.

Menurut Nina, situs di Jatigede itu, sebagian merupakan peninggalan masa prasejarah, masa Kerajaan Tembong Agung (cikal bakal Sumedanglarang), dan makam leluhur pendiri desa. Akan tetapi, ada juga situs yang tidak diketahui asal-usulnya.

Secara arkeologis, kata dia, peninggalan-peninggalan itu memperlihatkan adanya transformasi dari masa prasejarah (masa sebelum dikenal tulisan) ke masa sejarah (masa setelah dikenal tulisan). Jadi, menurut dia, makam kuno yang tergolong budaya megalit itu adalah warisan prasejarah yang terus difungsikan pada masa sejarah.

Salah satu situs di Jatigede yang selama ini benar-benar dijaga dan dikeramatkan masyarakat adalah Situs Tanjungsari. Situs ini berupa kompleks makam kuno Embah H. Dalem Santapura bin Betara Sakti, penyebar agama Islam di Darmaraja, berikut enam makam putranya. Situs tersebut berlokasi di Dusun Kebon Tiwu, Desa Cibogo, Kec. Darmaraja.

“Di lokasi ini, juga terdapat makam Demang Patih Mangkupraja, Patih Sumedang semasa Pangeran Kornel, dan makam-makam para juru kunci, berikut sumur kuno yang disebut Cikahuripan,” kata Edi.

Selain itu, ada juga Situs Astana Gede Cipeueut di Kp. Cipeueut, Desa Cipaku, Kec. Darmaraja. Situs tersebut berupa makam Prabu Lembu Agung (Raja Sumedanglarang), Embah Jalul, dan istri Prabu Lembu Agung. Ada lagi Situs makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan, makam Prabu Aji Putih, dan makam Resi Agung.

Selain itu, terdapat pula Situs Pasir Limus yang merupakan kompleks makam Kuno Eyang Jamanggala, Eyang Istri Ratna Komala Inten, Eyang Jayaraksa (Eyang Nanti), dan makam lain.

Di sebelah timur, kedua makam ini terdapat monolit. Diduga, ada tatanan batu membentuk bangunan berundak. Makam ini disebut juga petilasan Tilem.

**

BILA proses ekskavasi dan pemindahan sudah selesai, maka situs-situs dan “penghuninya” itu akan berkumpul di Gunung Lingga yang dipercaya sebagai Keraton Prabu Tajimalela. Dari gunung yang tingginya lebih dari seribu meter di atas permukaan laut itu pula, nanti, para karuhun Sumedang akan “menyaksikan” kawasan yang dulu mereka huni berubah menjadi bendungan.

Lalu, bagaimana perasaan para karuhun itu ketika menyaksikan kawasan Darmaraja dan Wado berubah menjadi bendungan? Entahlah. (Tulisan Aam Permana Sutarwan/Sumber www.ahmadheryawan.com)

3 Responses

  1. dadang says:

    Jadi inget carita aki di kampung (Peundeuy, Conggeang) Tong, coba tingalikeun, ti taun 1960 jatigede rek dijeiun bendungan nu pang gede-gedena, tapi karuhun urang moal rido jeungn nyatujuan, coba we bandungan dina jadina oge bakal jadi mamala. Karuhun urang dikeueum nu ahirna jebol deui-jebol deui.

  2. adi wahyudin says:

    hmmmm, sebenarnya saya tidak setuju… karena di desa tanjungsari kp kebontiwu kec,darmaraja. itu rumah nenek saya dan kakek saya, apabila benar semua akan dipindah apakah mungkin … karena kompleks pemakamannya banyak sekali serta saya sendiri bingung jika nanti saya pulang kampung kemana ? saya masih ingat saat kecil saya berada disana !!!!

  3. adi wahyudin says:

    saya pikir kita yang masih hidup tidak mengerti mereka yang sudah tiada, sehingga kita hanya bisa merusak yang ada…. nenek saya ada dikebon tiwu tanjungsari kec,darmaraja dan lebaran tahun ini saya akan kesana… semoga belum dipindahkan makam makamnya dan saya bisa mengingat semasa kecil saya disana dengan alm,kake saya …

Leave a Reply

© 2011 SUMEDANGONLINE :: Portal Berita Seputar Sumedang · RSS · Modified by sumedangonline.com · Powered by WordPress