Home » CAGAR BUDAYA » Cerita : Prabu Adji Putih

Cerita : Prabu Adji Putih


Tanggal:  Sat, 07 Jul 2012 23:59:51 WIB

PADA saat terang bulan 14 Muharam, Adji Putih mendirikan kerajaan Tembng Agung di kampung Muhara Leuwihideung. Keraton di buat model panggung menggunakan bahan serba kayu, gaya atap julang ngapak menghadap ke alun-alun maya datar tempat kegiatan kenegaraan dan latihan prajurit. Halaman keraton di kelilingi pagar kayu, di samping keraton terdapat rumah besar tempat musyawarah para pembesar kerajaan, di sebelahnhya terdapat rumah kecil tempat tinggal keluarga raja.

Prabu Adji Putih menikah dengan Dewi Ratna Inten atau Dewi Nawang Wulan yaitu putri Jagat Jayanata, keponakan Purbasora atau cucunya Resi Demunawan dari permesuri Saribanon Kencana. Buah perkawinan Adji Putih dengan Dewi Nawang Wulan melahirkan Bratakusumah, Sokawayana, Harisdarma dan Langlangbuana.

Pada suatu waktu, Adji Putih mimpi kedatangan seorang kiai berparas tampan, badannya tinggi dan berkulit kuning menyampaikan petunjuk baha Negara akan terhindar dari bencana peperangan dan rakyat selamat dari bencana penyakit demam berdarah apabila mendapatkan bintang kerti.

Petunjuk itulah direnungi siang dan malam membuat dirinya gelisah, oleh karena belum tahu bagaimana mengambilnya. Pikirnya bintang yang bertaburan di langit tidak mungkin bisa di ambil. Oleh karena itulah segera menyepi untuk memohon petunjuk gaib.

Pada saat nyepi, Resi yang pernah hadir dalam mimpinya muncul kembali, pembicaraannya sama dengan kata-kata yang disampaikan dalam mimpi.

Oleh karena itu makin bingung, lalu memohon petunjuk kepada Resi tegasnya. “Mimpi adalah suatu tanda-tanda, seandainya mimpi itu diyakini prasangka-prasangka akan menjadi kenyataan”.

 

Teringatlah pada amanat leluhurnya, “ Suatu saat jalan kearifan membujur dari pintu Mekah sampai ke pulau hitam, manusia berbondong-bondong mencari kearifan tetapi mereka tidak tahu apa yang di sebut arif”. Teringatlah pula pada cerita kakeknya, “Agama terakhir diturunkan di Negeri Mekah”. Timbullah niat untuk meyakinkan.

Pada suatu hari, Prabu Adji Putih mengundang para bawahannya untuk menyaksikan penyerahan kekuasan kepada Bratakusumah, oleh karena akan meninggalkan keraton. Setelah mendapat restu dari istrinya, parbu Adji Putih meninggalkan keraton menuju daratan Teluk Persi, penyebrangan menggunakan ilmu kesaktian yaitu ilmu Rasjleg (Khowat), ketika pikiran tertuju pada tempat yang dimaksud, sampailah di tempat itu. Di Teluk Persi bertemu dengan seorang ulama besar bernama Syekh Ali. Pertemuan itu kerap kali di lakukan kemudian Adji Putih diterima menjadi muridnya, dengan syarat harus membaca Shahadat kesaksian menganut agama Islam. Setelah diterima menjadi murid, diwirid ilmu Usuludin, Syareatm, Torekat dan marifat. Dalam menyempurnakan Islamnya Adji Putih menunaikan Ibadah Haji ke Mekah dengan gelar Haji Purwa Darmaraja yaitu orang yang pertama gelar haji di bumi Darmaraja.

Menjelang kepulangannya, mendapat perintah dari gurunya agar mendirikan mesjid jami dan tempat-tempat wudlu di tujuh tempat. Sepulangnya dari Mekah Adji Putih melaksanakan perintah gurunya dengan membangun mesjid jami di sekitar gunung Lingga, namun gagal karena bekerja sendirian, dan mendapat penolakan dari penduduk setempat bahan ditertawakan karena belum tahu apa yang di sebut mesjid atat masigit. Untuk mengenang peristiwa tersebut, Adji Putih memberi nama Gunung Masigit.

Walaupun demikian, Adji Putih tidak merasa tersinggung, karena menyadari bahwa mengubah keyakinan agama bukan pekerjaan yang mudah, tetapi memerlukan cara-cara yang lembut agar tidak menyinggung umat lain dan tidak menimbulkan permusuhan. Kemudian membuat tempat-tempat wudlu di tujuh titik sumber mata air yaitu Cikajayaan, Cikahuripan, Cikawedukan, Cikatimbulan, Cimaraja, Cisundajaya dan Cilemahtama.

Setelah mendirikan tempat-tempat wudlu menetap di padepokan Cipeueut melanjutkan perjuangan ayahnya sanghyang Resi Agung. Sejak itulah Cipeueut di ganti namanya menjadi Cipaku. Dalam perkembangannya padepokan tersebut banyak didatangi penduduk yang sengaja untuk menjadi muridnya. Mereka mulai diperkeenalkan kepada prinsip-prinsip Islam, melalui falsafah sastra haksara, dengan meusupkan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi-tradisi budaya peninggalan nenek moyang. “ Yang disebut Sanghyang Widi adalah Tuhan Pencipta Alam, disebut Gusti Alloh. Untuk mengetahuinya, Sir budi Cipta rasa sir rasa papan raga dzat marifat wujud kula maring Alloh, Malaikat, Khodam karomah roh suci maring Ingsun sejeroning urif, laillaha ilalloh Muhamadarosululloh. Artinya : Getaran Jiwa adalah untuk menciptakan perasaan, getaran perasaan untuk menghidupkan jasmani. Dzat (Roh) untuk mengetahui diri sendiri, untuk mendekatkan diri dengan malaikat, medekatkan diri dengan Kharommah roh suci (leluhur). Tidak ada Tuhan selain Alloh, Muhamad utusan Alloh.

Pada suatu hari, Prabu Adji Putih menjelaskan tata cara menunaikan ibadah haji, berkata kepada muridnya,” kalian jangan dulu menunaikan ibadah haji selama kalian masih melihat tetangga sengsara atau kelaparan, sementara cukup mewakilkan kepadaku, seandainya belum mampu menyediakan biaya perjalanan, kalian cukup menjadi haji batinnya saja”. Namun tidak semua muridnya mampu menafsirkannya, timbullah ketabuan,” Orang Cipaku tidak boleh naik haji”. Karena pada saat itu penafsiran mereka terbatas.

Adji Putih menjelaskan pula tentang makna shahadat adalah ikrar janji, yaitu janji kepada dirinya sendiri, janji kepada Tuhannya, janji kepada Rosulnya. Seandainya shahadat telah menyatu dalam diri, keimanannya tidak akan tergoda, kokoh dan kuat memegang keyakinan dan kepribadian. Selain itu kalian harus berjanji kepada leluhur yaitu roh-roh yang lebih dulu ada, jika tidak ada leluhur, tidak akan ada ilmu pengetahuan dan benda-benda yang diwariskan. Tidak akan ada sekarang kalau tidak ada yang lalu, dulu bukan sekarang, dan sekarang bukan dulu. Tetapi yang sekarang karena ada yang dulu.” Untuk mempertebal keyakinan murid-muridnya terhadap tumpah darahnya, diciptakan sastra ritual disebut shahadat Cipaku bunyinya, “ Sang Kuncung batara wenang, sari sanika ku Alloh langit ngait jagat rapak, tarima badan kaula sirna Adam, Hu Alloh, Hu Alloh, Hu Alloh, Hu Alloh, Hu Alloh, Lailahailalloh muhamadarrosululloh. Maknanya : sesuatu yang menyerupai benda lancip menjulur ke langit Maha Kuasa, keindahan atas kuasa Alloh langit seperti dikaitkan pada sesuatu, bumi terhampar luas, terimalah diriku ya Alloh, setelah Adam lenyap dari muka bumi. Atas kebesaran Alloh, tidak ada Tuhan selain Alloh.

Dewi Nawang Wulan

Gadis cantik rupawan putri Jagat Jayanata atau cicitnya Demunawan bernama Ratna Inten, sejak kecil tinggal di sebuah dusun yang jauh dari keramain kota. Bakat seninya dari sejak kecil dikembangkan oleh ayahnya, sehingga menjadi seniman penari . pertama kali pentas di Kampung Munjul, jejak itulah Ratna Inten menjadi penari terkenal.

Keahlinya yang dikuasainya banyak menyita waktu untuk memenuhi undangan mentas, terutama menghibur keluarga raja. Waditra atau musik pengiring tarian sangat sederhana berupa seperangkat dodog dan terompet, disebut Seni Doger yaitu paduan Waditra dogdog dengan terompet jenis alat tiup bunyinya nyaring, karena itulah terompet disebut beger.

Kecantikannya melahirkan julukan Dewi Nawang Wulan seolah-olah titisan bidadari Dewi Nawang Wulan dari khayangan. Ketenarannya tidak hanya dikenal oleh kalangan raja semata, tetapi menyentuh kalangan saudagar, tak mengherankan apabila banyak saudagar yang tertarik oleh penampilan seninya. Namun di balik ketenarannya menorehkan kekuatiran orang tuanya, karena setiap Nyi Ronggeng tampil di arena hiburan, selalu berakhir dengan keributan bahkan sering kali menimbulkan korban jiwa, sebagai akibat persaingan tidak sehat di kalangan bajidor (penggemar). Itu sebabnya Jagat Jayanata diam-diam hendak menjodohkan dengan putra mahkota kerajaan Galuh, Dewi Nawang Wulan menolak keinginan ayahnyam karena belum punya niat mengakhiri masa-masa lajangnya.

Tiba-tiba rombongan pengagung Galuh datang melamar, dengan lamran benda-benda berharga, namun mereka tersinggung, karena lamarannya ditolak, kemudian mereka meninggalkan pribumi tanpa pamit, pulang langgang sambil membawa hati hampa. Jagat Jayanata peka membaca sikap putrinya. Dewi Nawang Wulan berterus terang kepada ayahnya bahwa dirinya telah lama dihantui bayangan mimpi yang telah mempertemukan dirinya dengan sosok raja muda, berparas tampan, berhati lembut, dan arif bijaksana. Mimpinya menorehkan harapan, walaupun belum tahu entah kapan pertemuan terjadi, rupanya Ronggeng sadunya ini, tetap bersabar menunggu kehadiran pria pilihannya. Tetapi ayahnya berpandangan bahwa mimpi adalah dongeng-dongeng kosong, mustahil akan terjadi. Timbul dari keinginan yang berlebihan, kadang-kadang membuat manusia larut ke dalam harapan-harapan yang hampa. Nawang Wulan berpandangan lain, baginya mimpi adalah petunjuk. Semua mimpi anugerah Tuhan yang mengisyaratkan akan terjadi sesuatu. Namun benar dan tidaknya tergantung dari sisi mana seseorang melihatnya. Alasan itulah yang membuat dirinya tidak mau menerima kehadiran pria yang hadir dalam mimpinya.

Tiba-tiba Prabu Adji Putih datang melamarnya dengan membawa lamaran berupa sirih hitam lima lembar dan sebuah benda berpetuah berupa tusuk konde. Kehadiran rombongan pelamar membuat Yahnya terheran-heran, lagi pula Dewi Nawang menerima lamaran Raja Tembong, bahkan memutuskan dalam waktu dekat akan meresmikan perkawinan.

Di hari kemudian datanglah rombongan Heulawirang membawa lamaran berupa Gamelan Salawe Bangunan. Dengan penuh keyakinan lamarannya akan diterima, karena pasti ronggeng sadunya memerlukan gamelan untuk mengiringi tarian. Saudagar yang mengaku keturunan Surasowan Banten itu, rupanya sudah lama memesan Gamelan Salawe Bangunan dari Mataram. Gamelan tersebut terbuat dari bahan Perunggu, terdiri dari 25 buah, bonang 17 buah, jengglong 5 buah, seperangkat gong, gendang besar 1 buah, gendang kecil 1 buah dan kecrek 1 buah, jumlahnya 25 bentuk, menggunakan laras pelog saptanada di sebut gamelan Kromong atau Ajeng.

Nawang Wulan menolak lamaran, membuat Heulangwirang tersinggung, kemudian pulang membawa perasaan kecewa. Sepanjang jalan marah-marah dan berkata kepada pengawalnya. “ Benda-benda itu buang saja, buat apa di bawa pulang! Satu persatu wilahan gamelan dibuang, di ambil oleh penduduk yang kebetulan kampungnya di lewati rombongan pelamar.

Tersiarlah berita ke setiap penjuru desa, bahwa Prabu Adji Putih mempersunting Dewi Nawang Wulan di boyong ke keraton Tembong Agung, sungguh-sungguh menyalakan dendam asmara yang demikian membara. Akhirnya Prabu Heulangwirang membawa pasukan, lalu membuat kekacauan di perbatasan Kerajaan Tembong Agung. Namun Prabu Adji Putih berhasil menumpas pemberontakan, dan Heulangwirang berhasil ditangkap, setelah takluk menjadi pengabdi Prabu Adji Putih kedudukannya pupuhu daerah pagerucukan.(*)

Leave a Reply



Free SEO Tools
Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!

© 2011 SUMEDANGONLINE :: Portal Berita Seputar Sumedang · RSS · Modified by sumedangonline.com · Powered by WordPress
Real Estate Link Exchange Directory
Free link exchange and link building service for real estate themed websites.