Home » CAGAR BUDAYA » Kisah Hanjuang (Babad Sumedang, Waruga Jagat)

Kisah Hanjuang (Babad Sumedang, Waruga Jagat)


Tanggal:  Tue, 10 Jul 2012 10:31:36 WIB
Editor:  Redaktur

Pohon hanjuang sebagai lambang kejayaan Kerajaan Sumedang Larang

Eyang Jaya Perkosa sebagai senapati terakhir sebelum runtuhnya kerajaan Pakuan Padjajaran, berhasil menyelamatkan Mahkota Kerajaan (Binokasih) serta atribut kerajaan lainnya dan diserahkan ke raja Sumedang Larang, sejak penyerahan mahkota tersebut beliau menjadi Senapati Kerajaan Sumedang Larang. Persoalan Putri Harisbaya dengan Pangeran Geusan Ulun menjadi sebuah perselisihan antara Cirebon dan Sumedang Larang, hingga Cirebon mengirim pasukannya menyerang Kutamaya.
Namun pasukan Cirebon tak berhasil mencapai sasarannya karena dihadang pasukan Sumedang Larang yang berada di bawah pimpinan Senapati Eyang Jaya Perkosa. Konon sebelum Eyang Jaya Perkosa pergi menghadang pasukan Cirebon, beliau menanam pohon Hanjuang di Kutamaya dan meninggalkan amanat : “Jika Pohon hanjuang ini masih segar, menandakan aku masih hidup dan jangan tinggalkan Kutamaya,” begitu amanat Eyang Jaya Perkosa.
Syahdan menurut cerita pada saat pertempuran, Eyang Jaya Perkosa terpisah dari ketiga saudaranya yang turut dalam pertempuran itu. Salah satu dari saudaranya yang bernama Nangganan, menduga bahwa Eyang Jaya Perkosa telah gugur dalam pertempuran tersebut, sehingga mereka memutuskan kembali ke Kutamaya untuk menyarankan Pangeran Geusan Ulun agar memindahkan pusat Pemerintahan Sumedang Larang dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur sebagai basis pertahanan yang sangat strategis.
Penyerahan daerah Sindangkasih (Majalengka) sebagai pembayaran talak kepada raja Cirebon serta perkawinan putri Harisbaya dengan Pangeran Geusan Ulun telah mendamaikan perselisihan antara Cirebon dan Sumedang Larang.
Senapati Eyang Jaya Perkosa yang kembali dari medan perang menemukan Kutamaya telah di tinggalkan. Tentu saja beliau sangat menyesalkan tindakan Pangeran Geusan Ulun dan sesampainya di Dayeuh Luhur beliau membunuh Nangganan, saudaranya atas kesalahannya itu.
Konon kekecewaan Eyang Jaya Pekosa yang sebenarnya adalah harapan untuk mengembalikan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Pakuan Padjajaran melalui kerajaan Sumedang Larang telah gagal.
Sementara pohon Hanjuang yang ditanam oleh Eyang Jaya Perkosa sampai saat ini masih tumbuh subur di Kutamaya (Sekarang Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara).
Dendam dan kebencian terhadap musuh juga diisyaratkan kepada keturunannya kelak apabila berziarah ke makamnya dilarang berpakaian batik yang menurut pendapatnya sebagai ciri khas pakaian musuh-musuhnya.

Ditulis oleh : Rd Wiraatmadja

Foto kiriman : Rd Wiraatmadja

Cagar Budaya lainnya baca juga :

http://sumedangonline.com/news/cagar-budaya/

Wawan Rifas liked this post

Leave a Reply

© 2011 SUMEDANGONLINE :: Portal Berita Seputar Sumedang · RSS · Modified by sumedangonline.com · Powered by WordPress