Penandatanganan MoU antara Pt Telkom dengan 16 penerbit dalam acara pembukaan Pameran Buku di Bale Santika, Kampus Unpad Jatinangor, Sumedang, Senin (3/12/2012).

UNPAD – Dunia maya menjadi salahsatu tantangan tersendiri dalam dunia pernebitan saat ini, karena dengan satu kalimat orang sudah dapat dengan mudah mencari referensi sumber tulisan.

Untuk menyikapi tantangan duni maya tersebut Ikatan PenerbitIndonesia(Ikapi) Jawa Barat (Jabar) meluncurkan program QBaca Digitalisasi Sejuta Buku. Program brilian yang diluncurkan Ikapi Jabar ini bekerjasama dengan Pt Telkom, memudahkan pemilik gadget untuk mendapatkan informasi yang seluas-luasnya.

“Saat ini saya melihat gadget itu hanya dipergunakan untuk fungsi komunikasi saja, sementara fungsi informasinya kurang dikembangkan,” ujar Wakil Ikapi Jabar, Mahpudi, di Bale Santika, Kampus Unpad Jatinangor dalam Pameran Buku bertajuk Pesta Diskon 2012.

Lanjutnya, dengan system digitalisasi buku tersebut akan memberikan manfaat besar bagi pembaca hingga pelosok. Karena menurut survey yang dilakukan Ikapi, selama ini jumlah toko buku jauh lebih banyak diperkotaan, sementara jumlah counter hp merata hingga di pedesaan.

“Dengan QBaca, faktor penghambat penerbitan selama ini, seperti ongkos cetak, distribusi dapat terpangkas. Hingga buku tak hanya terbatas dibaca oleh orangkotasaja, tetapi juga oleh masyarkat di pelosok, hingga keinginan untuk mencerdaskan kehidupan baca akan merata, menerbitkan buku sama mudahnya dengan kita menulis di blog,” kata Mahpudi.

Ia pun mengaku tak khawatir dengan munculnya QBaca, akan mematikan usaha penerbitan buku terutama penerbit yang mempunyai percetakan. “Karena buku yang secara online terpopuler, biasanya diburu masyarakat versi cetaknya. Sehingga kalau dulu cetak baru dipikirkan bagaimana promosi secara online sekarang kita balikan,” jelasnya.

Di tempat yang sama perwakilan Telkom, Ahmad Sugianto, menyambut baik ide brilian dari Ikapi Jabar tersebut. Sebagai penyedia aplikasi, ditekankan Anto –sapaannya-, dirinya tak akan masuk ke ranah apakah nantinya content yang diterbitkan secara digital itu akan free atau premium. “Kalau urusan itu saya serahkan ke Ikapi,” tutur Anto.(DEDE/ATIS)