Home » ARSIP » tentang Penusukan Jamaah HKBP Itu

tentang Penusukan Jamaah HKBP Itu


Tanggal:  Fri, 17 Sep 2010 18:22:29 WIB

Apapun alasannya, penusukan dan tindak kekerasan itu tetap tak boleh terjadi, terlebih kepada pemeluk agama yang hendak mengibadahi  Tuhannya. Apapun agamanya, betapapun salahnya keyakinan mereka menurut pandangan dan pemikiran kita, namun tetap penghalangan apalagi laku kerkerasan itu haram—sekaligus pidana–hukumnya. Karena setiap manusia memiliki hak asasi untuk  beribadah dan mengekspresikan keyakinannya masing-masing.

Walau yang saya utarakan ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan telah dipahami bersama dan menjadi nilai universal, namun ternyata pemahaman ini tetap tak menyurutkan niat kekeresan pada pemeluk agama lain. Hingga akhirnya, pendeta dan beberapa jamaat gerja HKBP di Ciketing Bekasi yang waktu itu hendak melaksanakan ibadah, mereka dicegat masa sampai akhirnya terjadilah tradegi memilukan itu: Sintua Hasian Sihombing mendapat tusukan pisau di perutnya.

Mendengar tragedi–yang tak apa-apa disebut bar-bar–itu semua kaget. Para tweeps dengan tweets nya seperti tak henti meneriaki Presiden yang mereka anggap lamban dalam merespon kasus ini, tak seperti ketika menyikapi insiden rencana pembakaran Al-Quran di Amerika. “Masa kasus di luar negeri direspon sedemikian rupa sedangkan insiden di negeri sendiri seperti kurang digubris?” Mungkin seperti itu pikir mereka. Yang paling mengejutkan—Anda boleh percaya boleh juga tidak—elit organisasi yang doyannya berbuat kekerasan pun sama ikut mengecam juga insiden penusukan ini. Entah cuci tangan atau justru benar-benar tulus, mereka sepakat mengutuk aksi kekerasan itu. Pendeknya, semua pihak sama-sama tak rela dengan terjadinya kasus kekerasan ini.

Kalau semuanya menghujat kejadian ini, semuanya menyesalkan persitiwa berdarah ini, maka pertanyaan selanjutnya ialah: kenapa pesitiwa ini sampai terjadi? Jika semuanya tidak setuju dengan aksi brutal ini, lalu siapa yang melakukannya? Apakah kita akan begitu saja percaya keterangan sementara dari pihak kepolisian yang menyatakan bahwa ini adalah tindak pidana murni, setelah nyata-nyata sebelumnya ada perkara tentang perizinan rumah ibadah (gereja) yang berarti ada pihak-pihak  yang tak setuju dengan adanya gereja HKBP itu.  Apa kita juga begitu saja percaya bahwa pelaku adalah “perseorangan” yang memiliki “masalah” dengan penganut iman yang berbeda, setelah kita terbiasa menyaksikan bahwa tindakan teror sekecil apapun pasti melibatkan sebuah organisasi atau setidaknya terorganisir dengan baik.

Seyogyanya aparat memahami kasus ini tak hanya dari persepektif tindakan melawan hukumnya semata, namun harus mulai percaya bahwa kasus pensusukan terhadap tokoh agama ini begitu kental degnan isu “agama” dan bisa digolongkan pada tindakan teror. Maka pengusutan mendalam dan meluas bagi kasus ini adalah niscaya karena tindakan seberani ini tak mungkin kalau hanya dilakukan oleh perseorangan. Penangkapan pelakunya saja tak akan bisa menguak jaringan sistemik yang mendalanginya. Sementara justru yang kita butuhkan adalah itu.

Dan ini juga seharusnya menjadi catatan penting bagi para tokoh agama (khususnya bagi tokoh agama yang dianut pelaku), bahwa kasus ini merupakan bukti kongkrit dari masih banyaknya kesalahan tafsir beberapa doktrin agama di level akar rumput.  Para elite agama tak bisa hanya beramah tamah dengan elite agama lain di forum-forum lintas agama, sementara para pengikutnya masih berpersepsi salah terhadap umat dan iman yang berlainan.

Sikap sementara tokoh agama, khususnya Islam, yang masih belum menerima secara jujur dan terbuka bahwa tindak kekerasan yang kerap dilakukan umat muslim ini didasari oleh motif agama, dan malah mengkambinghitamkan hal-hal lain seperti kesenjangan sosial, politik dan lainnya, itu hanya akan memperpanjang daftar teror yang dilakukan oleh umat muslim di negeri ini. Para tokoh agama harus lebih jujur mengakui bahwa tindakan-tindakan anti-toleran itu adalah karena kesalahan membaca dan menafsirkan ajaran-ajaran agama. Dan sebagai seorang alim maka wajiblah untuk berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahan itu dengan cara-cara persuasif dan mengedepankan dialogis daripada tindakan represif. Wallahu “alam.

Insan Setia N, penulis adalah pegiat seni di Komunitas Absurd dan pengelola blog www.insanitis37.com

2 Responses

  1. Hatur nuhun to kersa ngamuat seratan pribados nu tebh di saeu ieu. Jazakillah

  2. admin says:

    sip diantos deui artikelna langsung we ka redaksi@sumedangonline.com

Leave a Reply

© 2011 SUMEDANGONLINE :: Portal Berita Seputar Sumedang · RSS · Modified by sumedangonline.com · Powered by WordPress