Menu

Mode Gelap

Kearifan Lokal · 10 Jul 2012 10:31 WIB ·

Kisah Hanjuang (Babad Sumedang, Waruga Jagat)

REPORTER: REDAKSI | EDITOR: REDAKSI

Situs Pohon Hanjuang Kutamaya

ISTIMEWA HANJUANG KUTAMAYA: Situs Pohon Hanjuang Kutamaya

Eyang Jaya Perkosa sebagai senapati terakhir sebelum runtuhnya kerajaan Pakuan Padjajaran, berhasil menyelamatkan Mahkota Kerajaan (Binokasih) serta atribut kerajaan lainnya dan diserahkan ke raja Sumedang Larang, sejak penyerahan mahkota tersebut beliau menjadi Senapati Kerajaan Sumedang Larang.

Persoalan Putri Harisbaya dengan Pangeran Geusan Ulun menjadi sebuah perselisihan antara Cirebon dan Sumedang Larang, hingga Cirebon mengirim pasukannya menyerang Kutamaya.

Namun pasukan Cirebon tak berhasil mencapai sasarannya karena dihadang pasukan Sumedang Larang yang berada di bawah pimpinan Senapati Eyang Jaya Perkosa. Konon sebelum Eyang Jaya Perkosa pergi menghadang pasukan Cirebon, beliau menanam pohon Hanjuang di Kutamaya dan meninggalkan amanat :

“Jika Pohon hanjuang ini masih segar, menandakan aku masih hidup dan jangan tinggalkan Kutamaya,” begitu amanat Eyang Jaya Perkosa.

Baca Juga  Agroteknobis - KAS

Syahdan menurut cerita pada saat pertempuran, Eyang Jaya Perkosa terpisah dari ketiga saudaranya yang turut dalam pertempuran itu. Salah satu dari saudaranya yang bernama Nangganan, menduga bahwa Eyang Jaya Perkosa telah gugur dalam pertempuran tersebut, sehingga mereka memutuskan kembali ke Kutamaya untuk menyarankan Pangeran Geusan Ulun agar memindahkan pusat Pemerintahan Sumedang Larang dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur sebagai basis pertahanan yang sangat strategis.

Penyerahan daerah Sindangkasih (Majalengka) sebagai pembayaran talak kepada raja Cirebon serta perkawinan putri Harisbaya dengan Pangeran Geusan Ulun telah mendamaikan perselisihan antara Cirebon dan Sumedang Larang.

Senapati Eyang Jaya Perkosa yang kembali dari medan perang menemukan Kutamaya telah di tinggalkan. Tentu saja beliau sangat menyesalkan tindakan Pangeran Geusan Ulun dan sesampainya di Dayeuh Luhur beliau membunuh Nangganan, saudaranya atas kesalahannya itu.

Baca Juga  Cipanas

Konon kekecewaan Eyang Jaya Pekosa yang sebenarnya adalah harapan untuk mengembalikan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Pakuan Padjajaran melalui kerajaan Sumedang Larang telah gagal.

Sementara pohon Hanjuang yang ditanam oleh Eyang Jaya Perkosa sampai saat ini masih tumbuh subur di Kutamaya (Sekarang Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara).

Dendam dan kebencian terhadap musuh juga diisyaratkan kepada keturunannya kelak apabila berziarah ke makamnya dilarang berpakaian batik yang menurut pendapatnya sebagai ciri khas pakaian musuh-musuhnya.

Ditulis oleh : Rd Wiraatmadja

Foto kiriman : Rd Wiraatmadja

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 160 kali

Baca Lainnya

Radio Trimekar FM, Diapresiasi Dewan Kebudayaan Sumedang

18 Januari 2020 - 21:53 WIB

Mengandung Nilai Sakral, Kirab Panji Sumedang Larang Harus Ada

17 April 2018 - 12:37 WIB

Ssst ini ternyata makna dari nama Ciung Wanara

9 Juni 2017 - 02:39 WIB

Ilustrasi

Ini dia terjemah Bahasa Indonesia Kitab Waruga Jagat

9 Juni 2017 - 02:33 WIB

Ilustrasi

Ketika Raden Jamu Belum Sawawa

26 September 2016 - 23:37 WIB

Ada dolmen di Bukit Taman, belum diteliti

27 Agustus 2016 - 02:24 WIB

Trending di Kearifan Lokal