DAERAH  

Musim Hujan, Peternak Ayam Waspada

Perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim penghujan, patut diwaspadai para peternak ayam. Perubahan cuaca yang mendadak dapat menyebabkan kematian bagi ayam.

DARMARAJA – Perubahan musim kemarau ke musim penghujan menyebabkan ratusan ekor ayam mati di Kecamatan Darmaraja. Hal itu seperti terjadi pada peternakan ayam milik Cecep Somantri, warga Dusun Cikarut, Desa Cikeusi, Kecamatan Darmaraja, Jumat (7/12).

Dikatakan Cecep, dari sekitar 3 ribu ayam yang dipeliharanya, 800 diantaranya mati diduga akibat perubahan cuaca tersebut. “Dalam sebulan ini saja sudah ada sekitar 800-an yang mati karena cuaca,” terang Cecep kepada sejumlah wartawan yang menemuinya, kemarin.

Baca Juga  DJOKO: 2014 Bendungan Jatigede, Jadi

Lanjutnya, berbeda saat musim kemarau ia menyebutkan ayam-ayamnya dalam kondisi sehat. Imbasnya menghadapi musim penghujan kali ini ia harus mengeluarkan cost produksi tambahan untuk menjaga kerugian yang lebih fatal akibat matinya sejumlah ayamnya, salahsatunya dengan memberikan pemanasan dan menutup kandang dengan tirai plastik.

Sementara itu bagi penjual arang yang merupakan salahsatu alternative pemanas saat musim hujan. Masuknya musim memberikan berkah tersendiri, meski mereka pun kesulitan dalam menjemur arang-arangnya. Salahsatunya, Dodi, warga Dusun Samoja, Desa Malaka, Kecamatan Situraja, masuknya musim penghujan dan mahalnya mesin pemanas untuk ayam, banyak diantara peternak ayam yang melirik arang sebagai alternative pemanasan. “Dulu para peternak itu banyak yang menggunakan gas, tapi seiring harganya terus melonjak naik, para peternak pun beralih mencari alternative lain untuk menjaga agar ayam-ayamnya tak sampai mati, maka pilihannya jatuh pada arang,” terang Dodi.

Baca Juga  Malam Jumat, warga OTD Jatigede dihebohkan babi

Pria yang pernah mengelola peternakan ayam itu pun menjelaskan, penggunaan arang untuk penghangat ayam terutama yang masih DOC (anak ayam) menurutnya sesuatu hal yang sangat penting. Dalam satu kandang sebut Dodi, memerlukan sedikitnya 20 karung arang dalam sebulan, yang dibakar dalam kaleng bekas cat. “Kalau menggunakan gas kan costnya bisa lebih besar dari itu, dengan arang sebulan hanya 20 karung harganya antara Rp 10-15 ribu per-karung, kalau gas dalam sebulan itu 20 tabung.Adapenghematan sekitar 50 persen,” beber Dodi.(ign)

Baca Juga  Tina Tak Akan Jual 'Berlian'-nya

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE OK TIDAK