Menu

Mode Gelap

Kearifan Lokal · 17 Apr 2018 12:37 WIB

Mengandung Nilai Sakral, Kirab Panji Sumedang Larang Harus Ada

Reporter: Admin | Editor: Admin


 Mengandung Nilai Sakral, Kirab Panji Sumedang Larang Harus Ada Perbesar

SUMEDANG – Para budayawan meminta pemerintah daerah untuk tetap menggelar prosesi budaya kirab panji setiap tahunnya. Kegiatan itu merupakan rangkaian tak terpisah dari Hari Jadi Sumedang.

Budayawan Sumedang Away Kurnia menilai kirab panji merupakan kegiatan budaya yang dinilainya sakral. Karena itu seharusnya pemerintah daerah maupun masyarakat menjadikannya sebuah kegiatan yang prioritas dan menjadi kalender budaya.

“Kirab panji merupakan representasi dari sejarah perjalanan kerajaan Sumedang Larang. Secara historis, kegiatan ini adalah bentuk menghormati sejarah leluhur Sumedang. Sehingga selayaknya mendapatkan perhatian tak hanya dari pemerintah daerah, melainkan dari semua masyarakat Sumedang,” ujarnya.

“Kirab panji itu didalamnya ada nilai-nilai yang menggambarkan sejarah panjang berdirinya Sumedang.
Dimana, perjalanan sejarah itu dimulai dari Darmaraja sebagai pamiangan (keberangkatan). Untuk itu prosesi kirab panji harus tetap ada,” tambah Away di Cipaku, kecamatan Darmaraja Selasa (17/4).

Ia menggambarkan, prosesi kirab panji adalah amanah yang harus dilaksanakan oleh masyarakat budaya.

Sejarah mencatat, kirab panji adalah prosesi penyerahan panji-panji agung dari raja ke raja sebagai awal sejarah berdirinya Sumedang. “Paling tidak kita bisa mengingat terus sejarah tersebut. Ya caranya dengan kirab panji tersebut,” katanya.

Away menyebutkan, sebelumnya para aktivis budaya dari wilayah Sumedang telah menggelar kirab panji.

Dalam kirab panji tersebut, prosesi dimulai dengan ziarah ke makam-makam keramat diantaranya, ke makam Eyang Prabu Lembu Agung di situs Astana Gede, makam Cisema, makam Paniis, makam Prabu Tadjimalele di Gunung Lingga dan makam Eyang Prabu Gajah Agung di Cicanting Desa Cisurat.

“Nah ziarah tersebut adalah proses mengisi ruh. Prosesi tersebut dinamakan “Ngaruhan”,” ungkap Away, yang juga, orang terakhir pindah dari wilayah genangan Jatigede.

Pelaksanaan kirab panji kemarin kata dia, sudah dilaksanakan dengan tim utama lebih dari 100 orang membawa Panji Sumedang Larang, Panji Nonoman keraton Sumedang Larang (NKSL) Panji Tembong Agung dan Panji Himbar Buana.

Sementara itu, aktivis budaya lainnya, Hadi Barkah Nalendra menyebutkan, prosesi kirab panji akan tetap dilaksanakan meski dalam kondisi apapun.

Dirinya ingin membuktikan bahwa para budayawan mampu melaksanakan kegiatan kirab panji sebagai amanah budaya leluhur.

“Harus ada penekanan bahwa agenda kirab panji ini akan menjadi agenda tahunan masyarakat adat Sumedang Larang meski tidak ada bantuan dari Pemerintah,” ujarnya. (NS/Forkowas)

Artikel ini telah dibaca 364 kali

Baca Lainnya

Kabid Aset BKAD Sumedang Serahkan 9 Unit Motor Dinas Bertenaga Listrik

12 Juli 2024 - 14:12 WIB

17 Klub Siap Bertanding di Piala Doamu Cup U-45

11 Juli 2024 - 16:34 WIB

Technical Meeting Dony Ahmad Munir Cup di Cafe Si Bungsu Darmaraja, Sumedang. Rabu, 10 Juli 2024.

Sumedang Sedang Bentuk Badan Riset dan Inovasi Daerah

5 Juli 2024 - 17:23 WIB

Pj. Sekda Sumedang, Tuti Ruswati saat melakukan monitoring Tanah dan Bangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Kantor BRIN Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Jumat (5/7/2024).

Atasi Kemiskinan, Sumedang Luncurkan Kartu TANGKIS

3 Juli 2024 - 21:09 WIB

Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang meluncurkan program inovatif bernama Kartu Tangkal Kemiskinan (TANGKIS) sebagai solusi penanganan miskin ekstrem di Sumedang. Peluncuran Kartu TANGKIS diawali dengan tapping kartu oleh Penjabat (Pj) Bupati Sumedang, Yudia Ramli didampingi Forkopimda di Saphire City Park (SACIPA). Rabu (3/7/2024).

Sumedang Terbitkan Edaran Larangan Judi Online

3 Juli 2024 - 21:07 WIB

Pj Bupati Sumedang Yudia Ramli

Ngalaksa dan Tarawangsa Rancakalong Masuk Warisan Budaya Tak Benda

2 Juli 2024 - 22:56 WIB

Pj. Bupati Sumedang Yudia Ramli menyerahkan secara simbolis sertifikat penetapan upacara adat Ngalaksa dan Seni Tarawangsa yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kepada Camat Rancakalong Cecep Supriatna dan para pelaku seni Tarawangsa dalam acara pembukaan Upacara Adat Ngalaksa di Desa Wisata Rancakalong. Selasa (2/7/2024).
Trending di SUMEDANG