Home / BISNIS

Kamis, 11 Juni 2020 - 18:18 WIB

Butuh Kolaborasi dan Komitmen Bersama dalam Penerapan AKB di Pasar Tradisional

Pasar Inpres Sumedang kembali disemprot disinfektan. Kali ini dilakukan oleh salah satu organisasi masyarakat yakni Pemuda Panca Marga Kabupaten Sumedang. Selasa 9 Juni 2020.

IWAN RAHMAT/SUMEDANGONLINE KEMBALI DISEMPROT: Pasar Inpres Sumedang kembali disemprot disinfektan. Kali ini dilakukan oleh salah satu organisasi masyarakat yakni Pemuda Panca Marga Kabupaten Sumedang. Selasa 9 Juni 2020.


KOTA BANDUNG¬†— Penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di pasar tradisional butuh komitmen semua pihak, mulai dari pemerintah, pengelola pasar, pedagang, sampai pembeli, supaya kegiatan perdagangan dan pencegahan sebaran COVID-19 berjalan optimal.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Provinsi Jabar, Mohamad Arifin Soedjayana mengatakan, kolaborasi amat penting dalam penerapan AKB. Semua pihak mesti berkomitmen menerapkan protokol kesehatan.

“Dengan begitu, Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di sektor perdagangan, khususnya Pasar Rakyat, dapat berjalan dengan baik dan tanpa hambatan,” kata Arifin, Rabu (10/6/20).

Protokol AKB di pasar tradisional se-Jabar mengacu pada Surat Edaran Kementerian Perdagangan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pemulihan Aktivitas Perdagangan yang Dilakukan pada Masa pandemi COVID-19 dan New Normal, dan Peraturan Gubernur (Pergub) Jabar Nomor 46 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar secara Proporsional sesuai Level Kewaspadaan Daerah Kabupaten/Kota sebagai Persiapan Pelaksanaan Adaptasi Kebiasaan Baru untuk Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.

Baca Juga  Harga Cabai Semakin 'Pedas'

Arifin menyatakan, sejumlah upaya sudah ditempuh pihaknya guna menyambut AKB. Selain menyosialisasikan protokol kesehatan COVID-19, Dinas Indag berkolaborasi dengan Bank Indonesia menyediakan fasilitas bak cuci tangan dan alat pelindung diri bagi pengelola, pedagang, pemasok dan pembeli.

“Kami mendorong dinas kabupaten/kota yang membidangi pasar tradisional maupun pengelola unit pasar untuk memfasilitasi belanja via daring dan pembayaran non tunai. Tujuannya mendekatkan pembeli dan pedagang dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.

“Digitalisasi pasar tradisional terus kami lakukan. Dengan layanan yang memudahkan penjual dan pembeli berinteraksi secara aman, dan memudahkan penerapan protokol kesehatan di pasar tradisional,” imbuhnya.

Baca Juga  Prospek Jagung Menjanjikan

Sebelumnya, Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Provinsi Jawa Barat (Jabar) akan memfokuskan pengetesan masif di pasar-pasar tradisional guna menekan potensi sebaran COVID-19. Sekitar 627 Mobil COVID-19 Test diturunkan dalam pengetesan tersebut.

Supaya penerapan AKB berjalan efektif, menurut Arifin, semua pihak mesti beradaptasi dan bersama-sama melakukan tugasnya sekaligus mematuhi seluruh protokol yang sudah dibuat, baik pemerintah, pelaku usaha perdagangan, pembeli, dan masyarakat.

“Komunikasi dan konsolidasi intensif terus dilakukan dengan dinas kabupaten/kota terkait untuk melakukan kontrol penerapan AKB. Kemudian, monitoring dan evaluasi pelaksanaan, serta pengawasan penerapan protokol COVID-19 ke lapangan,” katanya. *HUMAS JABAR/RADIO RAJA*

Sumber Berita: SUMEDANG ONLINE

Share :

Baca Juga

BISNIS

Temu pengusaha besar. Yayan: peluang kemitraan

BISNIS

Gubernur Jabar-Bekraf Tekan MoU Pengembangan Ekonomi Kreatif

BISNIS

Wow, Produk Bumdes Dipamerkan di Malaysia

BISNIS

Harga Jengkol di Pasar Inpres Sumedang Rp 60 Ribu Per Kilogram

BISNIS

Ini Bisnis dan Profesi Prospektif di Era AKB

BISNIS

Harga Cabai Semakin ‘Pedas’
Wakil Bupati Sumedang, Erwan Setiawan saat mengunjungi pelaku perajin yang ada di Desa Cibunar Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Selasa, 8 September 2020.

BISNIS

Curhat ke Wabup Sumedang, UMKM Cibunar Terkendala Produksi dan Pemasaran

BISNIS

Asosiasi UMKM Sumedang Ajak Pelaku Usaha Berjualan di Pasar Kaget Jatigede Setiap Hari Minggu