SUMEDANG — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat dari Partai Gerindra, Heri Ukasah Sulaeman, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Mapag Dangiang Tembong Agung yang dinilai sebagai upaya nyata dalam melestarikan seni dan budaya Sunda.
Dalam kesempatan tersebut, Heri juga menyampaikan rasa bangga sekaligus syukur atas undangan yang diberikan oleh panitia, sehingga dirinya dapat hadir langsung menyaksikan rangkaian kegiatan budaya tersebut.
“Saya melihat betapa kaya dan indahnya seni budaya Sunda yang kita miliki, mulai dari tari, musik, hingga berbagai bentuk seni dan budaya lainnya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kita sebagai orang Jawa Barat,” ujarnya di sela kegiatan. Minggu, 12 April 2026.
Ia menegaskan, seni budaya Sunda bukan sekadar hiburan, melainkan aset daerah yang sangat berharga yang harus dijaga, dilestarikan, serta dikembangkan bagi generasi mendatang.
“Seni budaya Sunda bukan hanya sekadar hiburan, tetapi aset daerah yang sangat berharga. Kita tidak boleh membiarkan budaya kita sampai punah, terlupakan, atau tidak mendapatkan perhatian yang cukup,” tegasnya.
Sebagai wakil rakyat, Heri menyatakan komitmennya untuk terus mendukung berbagai upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya Sunda di seluruh wilayah Jawa Barat.
“Sebagai wakil rakyat, saya berkomitmen mendukung pelestarian budaya Sunda. Acara seperti ini sangat perlu dilestarikan. Apalagi saat ini kebudayaan berada di titik dasar yang perlu kita kembangkan kembali. Ini sangat positif, terlebih dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-448 Sumedang,” tambahnya.
Menurutnya, kegiatan seperti Mapag Dangiang Tembong Agung harus terus diberdayakan dan diwariskan kepada generasi muda di Kabupaten Sumedang agar mampu mengangkat kembali nilai-nilai budaya lokal.
Sebagai informasi, rangkaian kegiatan Mapag Dangiang Tembong Agung diawali dengan Dialog Budaya yang menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kusnandar dari Universitas Padjadjaran, Agus Mulyana sebagai praktisi budaya, serta Luky Djohari Soemawilaga selaku Radya Anom Keraton Sumedang Larang yang juga merupakan keturunan ke-13 Pangeran Geusan Ulun.
Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi Ngukus Agung dan ritual nganunggalkeun atau penyatuan air dari tujuh sumber cikahuripan.
Sementara itu, pada Minggu siang, acara diawali dengan tawasulan di Karomah Munjul, kemudian dilanjutkan Helaran Budaya berupa jalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer menuju Alun-Alun Kecamatan Darmaraja. Sepanjang perjalanan, peserta dan masyarakat diperkenankan meminum maupun membawa air karomah yang telah didoakan.
Puncak acara diisi dengan berbagai pertunjukan seni tradisional, seperti Rajah, Celempung Karinding Sekar Wirahma dari Desa Ranggon, Angklung Buncis Buhun dari Desa Darmajaya, hingga Sendra Tari yang dibawakan pelajar SMAN Darmaraja bersama Dalang Rangga Haryadi dari SMK Inovasi Mandiri.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya semakin meningkat, sekaligus memperkuat identitas kearifan lokal di tengah arus modernisasi.***










