GAZA, Sabtu (30/5/2026) – Trauma berat yang dialami anak-anak di Gaza akibat perang berkepanjangan memunculkan dampak psikologis serius. Sejumlah anak dilaporkan kehilangan kemampuan berbicara sebagai respons terhadap kekerasan, kematian, pengungsian, dan ketidakpastian yang terus mereka alami selama konflik berlangsung.

Salah satu kasus dialami Adam, seorang anak yang sebelumnya dikenal ceria dan banyak bicara. Namun saat berusia lima tahun, ia tiba-tiba berhenti berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya setelah mengalami dampak perang yang berkepanjangan.

Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, yang menjalankan misi kemanusiaan bersama Médecins Sans Frontières pada 2024 dan 2025, mengatakan tidak ada satu pun anak di Gaza yang luput dari trauma.

“Tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma. Ada lebih dari satu juta anak yang telah menderita trauma parah,” ujarnya dalam wawancara dengan BBC Mundo.

Menurut Katrin, sebagian anak menunjukkan gejala yang lebih mudah dikenali seperti gelisah, sulit tidur, mudah marah, atau sering berteriak. Namun, sebagian lainnya memilih diam sepenuhnya sebagai bentuk perlindungan diri dari tekanan psikologis yang ekstrem.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan keputusan sadar dari anak-anak, melainkan respons neurologis terhadap stres berkepanjangan. Dalam kondisi tertentu, sistem saraf anak dapat mengalami kelelahan sehingga mendorong mereka menarik diri dari lingkungan sosial, termasuk berhenti berbicara.

Katrin mengaku menemukan puluhan kasus serupa selama bertugas di Gaza. Sementara itu, tenaga medis setempat menyebut jumlah anak yang mengalami kondisi tersebut terus bertambah seiring berlanjutnya konflik.

Anak-anak di Gaza, kata Katrin, tidak hanya kehilangan rumah dan akses pendidikan, tetapi juga harus menghadapi kehilangan anggota keluarga, teman, guru, hingga tetangga. Banyak dari mereka juga menyaksikan langsung korban tewas dan kehancuran akibat perang.

“Beberapa anak bercerita kepada saya bahwa mereka membantu mengumpulkan sisa-sisa tubuh manusia atau bagian-bagian otak di jalan. Itu adalah trauma ekstrem,” ungkapnya.

Menurut data UNICEF, sejak Oktober 2023 lebih dari 20.000 anak dilaporkan tewas dan lebih dari 41.000 lainnya mengalami luka-luka akibat konflik di Gaza. Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya dampak perang terhadap kesehatan mental dan perkembangan anak-anak di wilayah tersebut.

Meski sempat diumumkan gencatan senjata, berbagai laporan menyebut kekerasan masih terus terjadi. Situasi tersebut membuat proses pemulihan psikologis anak-anak Gaza menjadi semakin sulit karena mereka masih hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian setiap hari.***