JENEWA, Jumat (29/5/2026) – World Health Organization untuk Kawasan Mediterania Timur menggambarkan kehancuran yang melanda sektor kesehatan di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, sebagai “tragedi yang sangat berat” akibat konflik berkepanjangan sejak Oktober 2023.
Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, Hanan Balkhy, mengatakan lebih dari 72 ribu orang tewas dan 182 ribu lainnya terluka sejak konflik pecah. Pada tahun 2025 saja, tercatat hampir 26 ribu kematian tambahan.
Menurut Balkhy, meski gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025, pembunuhan warga sipil masih terus terjadi. Layanan kesehatan juga disebut tetap terganggu, sementara akses bantuan kemanusiaan masih sangat terbatas.
“Saat ini tidak ada rumah sakit yang beroperasi penuh di Gaza,” ujarnya dalam pernyataan resmi WHO, Kamis (28/5/2026).
Ia menambahkan, seluruh rumah sakit di Gaza utara sudah tidak berfungsi. Selain itu, lebih dari separuh stok obat-obatan penting dilaporkan habis, sementara ribuan pasien masih membutuhkan evakuasi medis darurat.
WHO juga memperingatkan penyebaran penyakit menular yang terus meningkat akibat kepadatan penduduk dan memburuknya kondisi sanitasi. Kebutuhan layanan kesehatan mental disebut sangat besar, sementara risiko bagi ibu hamil dan bayi baru lahir meningkat tajam.
Di wilayah Tepi Barat, situasi kesehatan disebut terus memburuk akibat meningkatnya kekerasan dan pembatasan pergerakan masyarakat.
Balkhy menjelaskan krisis keuangan yang dialami Otoritas Palestina turut membatasi layanan kesehatan. Rumah sakit umum di wilayah tersebut kini hanya mampu memberikan layanan darurat.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, WHO bersama mitra kemanusiaannya tetap berupaya menjalankan bantuan kesehatan. Organisasi itu mengajukan pendanaan sebesar 648 juta dolar AS untuk respons kesehatan tahun 2025, namun lebih dari 75 persen kebutuhan dana tersebut belum terpenuhi.
WHO mengaku telah membantu pengiriman lebih dari empat ton metrik pasokan medis darurat ke Gaza serta memfasilitasi distribusi bahan bakar untuk menjaga sistem kesehatan tetap berjalan.
Di Tepi Barat, organisasi itu juga terus memperluas layanan perawatan darurat dan penanganan korban luka akibat konflik.
Balkhy menegaskan bahwa pernyataan politik saja tidak cukup untuk mempertahankan operasi kemanusiaan di Palestina. Ia menyerukan perlindungan terhadap fasilitas kesehatan, kelancaran distribusi bantuan kemanusiaan, serta pencabutan pembatasan yang menghambat masuknya pasokan medis dan tim kesehatan darurat.
Selain itu, WHO meminta dukungan internasional berkelanjutan guna memulihkan dan memperluas layanan kesehatan, mengurangi ketergantungan terhadap evakuasi medis, serta membuka kembali jalur rujukan pasien dari Tepi Barat.***
