[caption id="attachment_3662" align="alignleft" width="233"] Makam Aji Putih[/caption] Belum terjawab tuntutan warga yang mendesak proses ganti rugi dan relokasi warga diselesaikan, kali ini Warga yang terkena dampak Jatigede memprotes proses Relokasi Situs yang ada di wilayah tersebut. Warga menolak proses relokasi tersebut, dan perlawanan itu, di antaranya dilakukan warga Desa Cipaku, Kec. Darmaraja, Kab. Sumedang. Mereka menolak rencana penanganan situs oleh Dinas Pariwisata dan Balai Kepurbakalaan Provinsi Jawa Barat tersebut. Salah satu situs yang akan digusur adalah situs Cipeueut yang ada di desa mereka. “Bagaimanapun situ situ tidak akan diberikan atau tidak rela dipindahkan” kata Dharmawan, budayawan Desa Cipaku. Menurut Darmawan, warga sudah sepakat akan melakukan perlawanan, jika ada pihak-pihak yang berusaha memindahkan situs tersebut ke tempat lain. Dari watak warga Desa Cipaku yang terkenal tukuh, muncul sebutan "tukuh cipaku". Karena itu, jika warga menyatakan tidak setuju dengan penggusuran situs yang berada di desa mereka, maka siapa pun akan mendapat sandungan jika memaksakan kehendaknya untuk menindahkan situs Cipeueut. warga juga menolak jika situs tersebut harus tergenang Waduk Jatigede. "Situs Cipeueut harus tetap berada di Desa Cipaku dan tidak boleh tergenang Waduk Jatigede. Jika ada pihak-pihak yang tetap memaksa, jangan disalahkan jika ada kejadian seperti di Tanjung Priok," tandasnya. Dikatakan, situs Cipeueut adalah makam Prabu Aji Putih dan istrinya, Ratna Inten Nawang Wulan serta makam Sanghiang Resi Agung.  Prabu Aji Putih sendiri ayah Prabu Tadjimalela yang menurunkan raja-raja di Kerajaan Sumedang. "Seandainya situs Cipeueut tetap digusur atau tergenang Waduk Jatigede, kami akan berdoa, semoga warga Desa Cipaku tidak kawalat”./SUMEDANG ONLINE

WARGA TOLAK RELOKASI SITUS MAKAM AJI PUTIH

Makam Aji Putih

Belum terjawab tuntutan warga yang mendesak proses ganti rugi dan relokasi warga diselesaikan, kali ini Warga yang terkena dampak Jatigede memprotes proses Relokasi Situs yang ada di wilayah tersebut. Warga menolak proses relokasi tersebut, dan perlawanan itu, di antaranya dilakukan warga Desa Cipaku, Kec. Darmaraja, Kab. Sumedang. Mereka menolak rencana penanganan situs oleh Dinas Pariwisata dan Balai Kepurbakalaan Provinsi Jawa Barat tersebut. Salah satu situs yang akan digusur adalah situs Cipeueut yang ada di desa mereka. “Bagaimanapun situ situ tidak akan diberikan atau tidak rela dipindahkan” kata Dharmawan, budayawan Desa Cipaku.
Menurut Darmawan, warga sudah sepakat akan melakukan perlawanan, jika ada pihak-pihak yang berusaha memindahkan situs tersebut ke tempat lain. Dari watak warga Desa Cipaku yang terkenal tukuh, muncul sebutan “tukuh cipaku”. Karena itu, jika warga menyatakan tidak setuju dengan penggusuran situs yang berada di desa mereka, maka siapa pun akan mendapat sandungan jika memaksakan kehendaknya untuk menindahkan situs Cipeueut.

warga juga menolak jika situs tersebut harus tergenang Waduk Jatigede. “Situs Cipeueut harus tetap berada di Desa Cipaku dan tidak boleh tergenang Waduk Jatigede. Jika ada pihak-pihak yang tetap memaksa, jangan disalahkan jika ada kejadian seperti di Tanjung Priok,” tandasnya. Dikatakan, situs Cipeueut adalah makam Prabu Aji Putih dan istrinya, Ratna Inten Nawang Wulan serta makam Sanghiang Resi Agung.  Prabu Aji Putih sendiri ayah Prabu Tadjimalela yang menurunkan raja-raja di Kerajaan Sumedang. “Seandainya situs Cipeueut tetap digusur atau tergenang Waduk Jatigede, kami akan berdoa, semoga warga Desa Cipaku tidak kawalat”.