Penampilan Grup Seni Terbang Buhun Pusaka Karuhun saat pentas di Acara Ngabungbang. Kamis, 20 Juni 2024 malam.

Igun Gunawan/SUMEDANG ONLINE

Penampilan Grup Seni Terbang Buhun Pusaka Karuhun saat pentas di Acara Ngabungbang. Kamis, 20 Juni 2024 malam.

Kesenian Abad XV, Terbang Buhun Pusaka Karuhun Masih Tetap Eksis

SUMEDANG – Kesenian yang konon sudah ada sejak abad XV, seni terbang buhun masih tetap lestari hingga saat ini. Salahsatu pelestarinya yakni Grup Seni Terbang Buhun Pusaka Karuhun dari Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Sulaeman selaku pupuhu Grup Seni Terbang Buhun Pusaka Karuhun mengatakan pada zamannya hingga saat ini seni terbang buhun digunakan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam. Identitas sebagai media penyebaran agama Islam sangat ketara dari tembang yang dibawakan berupa pupujian (memuji kebesaran Allah SWT dan Rasulullah, Red.).

Begitu pun pada saat pementasan acara Ngabungbang di Desa Cikeusi, Kecamatan Darmaraja di kaki Gunung Padang mereka membawakan tembang puji-pujian dan tembang tembang buhun lainnya.

“Seni terbang itu merupakan seni turun temurun, saya sendiri baru memainkan seni terbang ini sejak Tahun 2000 sampai dengan sekarang. Alhamdulillah, saya merupakan generasi ke-6. Saya tidak tahu ke depannya sampai ke generasi berapa,” ujar Sulaeman disela jeda pementasan.

Identitas seni untuk penyebaran Agama Islam pun terlihat dari personel pemain yang berjumlah 5 orang. Menurut Pria yang karib disapa kang Ojon, jumlah 5 orang itu merujuk pada rukun Islam.

Alhamdulillah sampai sekarang masih aktif, juga personelnya diambil dari rukun Islam. Makanya jumlahnya ada 5 orang. Karena dulunya pada masa abad ke-15, kesenian terbang ini dijadikan alat untuk penyebaran Agama Islam,” ungkapnya.

Tentang Seni Terbang Buhun Pusaka Karuhun, dia menjelaskan yang menjadi pusakanya dari sejumlah waditranya seperti terbang alit, terbang gede, menurut dia usianya sudah ratusan tahun. Hanya saja untuk kendang, masih bisa diganti.

“Dan yang aslinya, untuk goong tiupnya itu terbuat dari bambu. Bahkan dikita juga memiliki kitab rujukannya,” bebernya.

Salahsatu pakem yang masih dianut hingga saat ini oleh Grup Terbang Buhun Pusaka Karuhun yakni tidak boleh berkolaborasi dengan kesenian modern.

“Tetap mempertahankan originalitasnya, selain tidak boleh berkolaborasi dengan kesenian modern, juga untuk waditranya seperti terbang alit dan gede itu tidak boleh di plitur atau dicat. Jadi intinya harus tetap alami, kecuali kendang. Bahkan dulu kendangnya itu hanya satu. Hanya saja saya juga tidak pernah mengetahuinya,” imbuhnya.

Adanya pakem pemain hanya dari turun temurun, lantas apa upaya Kan Ojon untuk dapat terus melestarikan kesenian buhun ini.

“Pada Tahun 2014 dibuat oleh Provinsi semacam pelajaran mulai dari sekolah dasar, SMP. Itu untuk regenerasi diambil 6 orang sesuai dengan rukun iman. Jadi personel pemainnya ada 6 orang, kalau yang buhun itu ada 5 orang. Dan semuanya itu anak-anak atau keturunan dari para pemain terbang buhun itu sendiri, masih aya runtuyanna. Jadi (untuk regenerasi) sudah disepakati oleh Provinsi, supaya tidak punah,” tandasnya.

Hanya saja yang menjadi kendala hingga saat ini, Grup Terbang Pusaka Karuhun belum memiliki sanggar yang representative untuk mereka Latihan. Jika ada pementasan, mereka terpaksa melakukan Latihan di rumah salahsatu pemain.

“Kedepannya saya berharap kesenian terbang ini mendapat perhatian dari Pemerintah. Juga mudah-mudahan menjadi catatan bagi pemerintah, utamanya; kami belum memiliki sanggar,” pungkasnya. ***