Iran Peringatkan AS Atas Serangan ke Fasilitas Nuklir: “Bertanggung Jawab Penuh atas Konsekuensi Berbahaya”

Alex Brandon AP via Aljazeera/SUMEDANGONLINE
Para jurnalis tampak sibuk mengambil foto grafik serangan yang ditampilkan dalam konferensi pers saat Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberikan keterangan resmi di Pentagon, Washington, DC, pada Minggu, 22 Juni 2025.

Istanbul/TeheranIran memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan “bertanggung jawab penuh dan sepenuhnya” atas konsekuensi berbahaya dari serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Dalam pernyataan keras yang disampaikan pada pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyebut Presiden AS Donald Trump telah mengkhianati rakyat Amerika dengan tunduk pada tekanan Israel.

Amerika Serikat telah melewati garis merah besar,” tegas Araghchi, merujuk pada serangan udara AS terhadap tiga fasilitas utama nuklir Iran — Fordow, Natanz, dan Isfahan — yang dilakukan hanya beberapa jam sebelumnya.

Araghchi mengecam serangan tersebut sebagai tindakan “biadab, melanggar hukum, dan tidak berperikemanusiaan” yang melanggar Piagam PBB dan hukum internasional. Ia juga menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil tindakan atas agresi ini.

“Ini adalah pelanggaran berat, keterlaluan, dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap prinsip-prinsip dasar Piagam PBB. Pemerintahan AS yang haus perang dan melanggar hukum akan memikul tanggung jawab penuh atas semua konsekuensi jangka panjang dari agresi ini,” ujarnya.

Araghchi menegaskan bahwa serangan militer AS terhadap kedaulatan wilayah Iran dilakukan berkolusi dengan rezim Israel, yang ia sebut sebagai “rezim genosida”.

“Ini sekali lagi membuktikan permusuhan AS terhadap rakyat Iran yang cinta damai. Kami tidak akan pernah berkompromi dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan nasional kami,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa Republik Islam Iran akan menggunakan segala cara yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah dan rakyatnya, tak hanya dari agresi AS, tetapi juga dari “tindakan sembrono dan melanggar hukum rezim Israel.”

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji keputusan Trump sebagai langkah “berani” dan mengatakan bahwa Israel dan AS telah bertindak dalam koordinasi penuh. Netanyahu bersumpah akan terus menyerang Iran “selama diperlukan” demi menghentikan apa yang ia klaim sebagai ancaman nuklir.

Trump, dalam pernyataannya pasca-serangan, menuntut agar Iran “mengakhiri perang ini sekarang juga” dan menegaskan bahwa “dalam keadaan apa pun, Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.”

Namun, Araghchi menolak permintaan untuk kembali ke meja perundingan, menyebutnya sebagai “tidak relevan”. Menurutnya, pembicaraan nuklir yang sedang berlangsung sebelumnya telah dikhianati oleh serangan Israel yang dilakukan dengan dukungan terang-terangan dari Washington.

“Dunia tidak boleh lupa bahwa Amerika Serikat, di tengah proses diplomasi, justru mengkhianati jalan damai dengan memberikan lampu hijau — jika bukan instruksi langsung — kepada Israel untuk meluncurkan perang ilegal terhadap Iran,” ujar Araghchi.

“Kami sedang berproses lewat diplomasi, lalu kami diserang. Ini membuktikan bahwa mereka bukan orang-orang yang memahami diplomasi, melainkan hanya bahasa ancaman dan kekuatan,” katanya.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan masih ada harapan untuk Iran kembali ke jalur negosiasi. “Saya hanya bisa mengonfirmasi bahwa ada pesan publik dan tertutup yang disampaikan kepada Iran melalui berbagai saluran, memberi mereka kesempatan penuh untuk kembali ke meja perundingan,” katanya kepada awak media.***

Disclaimer: Iklan atau Konten dalam kotak ini bukan dibuat oleh Redaksi, tetapi pihak ke-tiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE Terima Tidak