Bagi jemaah haji asal Indonesia, ibadah haji bukan hanya soal menjalankan rukun Islam kelima, tetapi juga menjadi perjalanan spiritual yang penuh pengalaman tak terlupakan.
Dua kota suci, Mekkah dan Madinah, menjadi saksi bisu atas setiap doa yang terpanjat dan langkah yang tertapaki. Namun di balik khidmatnya ibadah, terselip satu kerinduan yang begitu manusiawi: rindu rasa kampung halaman. Arab Saudi, minggu, 22 Juni 2025.
Dari ribuan kilometer jauhnya, rasa nusantara justru hadir di tempat paling suci di muka bumi meski dengan cita rasa yang kadang sederhana namun membekas.
Mekkah: Surga Kuliner di Sekitar Hotel
Bagi para jemaah, Mekkah adalah kota yang penuh dinamika. Selepas ibadah di Masjidil Haram, langkah kaki seolah secara otomatis menuju jejeran pedagang makanan Indonesia yang bermunculan di sekitar hotel. Dari pagi buta hingga malam hari, beragam jajanan khas tanah air hadir memanjakan lidah.
Ada gorengan hangat seperti bakwan dan tahu isi, bubur kacang hijau, nasi kuning lengkap dengan lauknya, mie goreng dadakan, hingga bakso yang aromanya menggoda. Harga yang ditawarkan pun cukup bersahabat untuk ukuran kota suci.
Keluar hotel langsung disambut aroma bumbu dapur Indonesia. Rasanya seperti pulang ke rumah.
Madinah: Tenang, Rapi dan Lebih Teratur
Berbeda dengan Mekkah, Madinah menyuguhkan suasana yang lebih tenang. Aktivitas perdagangan jajanan Nusantara tidak semeriah di Mekkah. Di kota Nabi ini, para pencinta makanan khas Indonesia harus sedikit bersabar dan lebih banyak berjalan.
Makanan khas tanah air memang tetap tersedia, namun tidak dijajakan di pinggir jalan. Umumnya, jajanan Indonesia dijual di ruko atau kedai yang letaknya strategis dan tidak tersembunyi. Harga pun relatif lebih tinggi dibandingkan di Mekkah,
Namun semua itu tak mengurangi rasa syukur para jemaah. Justru dari kesederhanaan itu, kenangan tentang rasa menjadi lebih bermakna.
Kisah yang Tak Terlupakan
Perjalanan spiritual ini bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang pengalaman hidup yang penuh warna termasuk rasa. Perbedaan antara Mekkah dan Madinah dalam menyajikan kuliner Nusantara mungkin sepele, tapi justru menjadi bagian dari kisah yang tak akan pernah dilupakan oleh para jemaah haji.
Di Mekkah kami merasa seperti di pasar malam tanah air. Di Madinah, kami diajak merenung dalam ketenangan. Keduanya berbeda, tapi sama-sama mengisi hati.
Inilah potongan kisah kecil dari Tanah Suci, di mana setiap rasa, aroma, dan langkah menjadi bagian dari ibadah yang menyentuh jiwa. Sebuah kisah yang akan selalu hidup dalam kenangan para tamu Allah.***


















