SUMEDANG — Ketua Paguyuban Pasundan Kabupaten Sumedang, Apip Hadi Susanto, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan kegiatan Mapag Dangiang Tembong Agung yang dinilai sebagai upaya nyata dalam melestarikan sekaligus meregenerasi budaya di Kabupaten Sumedang.
Menurut Apip, keterlibatan pelajar dalam rangkaian kegiatan menjadi poin penting yang harus terus ditindaklanjuti agar nilai-nilai budaya tidak terputus di generasi saat ini.
“Kami dari Paguyuban Pasundan sangat mendukung dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya Mapag Dangiang Tembong Agung ini. Kegiatan seperti ini harus ada tindak lanjutnya, karena menjadi bagian penting dalam regenerasi budaya di Sumedang,” ujarnya.
Ia menegaskan, kegiatan tersebut bukan hanya seremoni budaya, melainkan bagian dari warisan leluhur yang perlu dijaga, dikembangkan, dan diwariskan secara berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan Mapag Dangiang Tembong Agung diawali dengan Dialog Budaya Tembong Agung yang menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kusnandar, dosen Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Fikom Universitas Padjadjaran, kemudian Agus Mulyana sebagai praktisi budaya, serta Luky Djohari Soemawilaga, selaku Radya Anom Keraton Sumedang Larang yang juga merupakan generasi ke-13 dari Pangeran Geusan Ulun.
Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi Ngukus Agung, yang kemudian diikuti ritual nganunggalkeun atau penyatuan air dari tujuh sumber cikahuripan sebagai simbol persatuan dan kesucian.
Memasuki hari berikutnya, Minggu siang, acara diawali dengan tawasulan di Karomah Munjul, kemudian dilanjutkan dengan Helaran Budaya berupa pawai jalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer menuju Alun-Alun Kecamatan Darmaraja. Sepanjang perjalanan, peserta dan masyarakat diberikan kesempatan untuk meminum maupun membawa air karomah yang telah didoakan pada prosesi sebelumnya.
Puncak acara diisi dengan berbagai pertunjukan seni tradisional, mulai dari Rajah, penampilan seni Celempung Karinding Sekar Wirahma dari Desa Ranggon, Angklung Buncis Buhun dari Desa Darmajaya, hingga Sendra Tari yang dibawakan pelajar SMAN Darmaraja bersama Dalang Rangga Haryadi dari SMK Inovasi Mandiri.
Apip menambahkan, kegiatan ini menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki ruang yang kuat di tengah masyarakat, terutama jika melibatkan generasi muda secara aktif.
“Ini adalah warisan budaya Kabupaten Sumedang yang harus kita jaga bersama. Dengan melibatkan pelajar, kita sedang menanamkan nilai-nilai budaya sejak dini agar tetap hidup dan berkembang di masa depan,” pungkasnya.***
