Indeks

Iran Perketat Selat Hormuz, Krisis Energi dan Pangan Global Terancam

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah mengoordinasikan perlintasan 26 kapal melalui Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir di tengah mandeknya negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan energi global hingga ancaman krisis pangan dunia.
istimewa/SUMEDANGONLINE
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah mengoordinasikan perlintasan 26 kapal melalui Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir di tengah mandeknya negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan energi global hingga ancaman krisis pangan dunia.

TEHERAN, Kamis (21 Mei 2026) — Wartawan: Fitriyani — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah mengoordinasikan perlintasan 26 kapal melalui Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir di tengah mandeknya negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat terkait pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan energi global hingga ancaman krisis pangan dunia.

Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, IRGC menyebut seluruh lalu lintas kapal di Selat Hormuz saat ini berlangsung dengan izin dan koordinasi Angkatan Laut IRGC.

“Lalu lintas melalui Selat Hormuz dilakukan dengan izin dan koordinasi Angkatan Laut IRGC,” demikian pernyataan tersebut.

Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) juga merilis peta terbaru yang menunjukkan zona maritim terkendali di Selat Hormuz. Kapal-kapal disebut tidak dapat melintas tanpa otorisasi dari pihak Iran.

Zona tersebut mencakup wilayah dari Kuh-e Mubarak di Iran hingga selatan Fujairah, Uni Emirat Arab, di sisi timur selat, serta dari ujung Pulau Qeshm hingga Umm al-Quwain di sisi barat.

Sebelum konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran pecah pada 28 Februari 2026, sekitar 20 persen ekspor energi global melewati Selat Hormuz. Konflik tersebut mendorong Iran melakukan blokade terhadap jalur pelayaran strategis itu.

Sebagai respons, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran yang berdampak pada ekspor minyak negara tersebut.

Ketegangan berkepanjangan ini memicu tekanan besar terhadap pasar energi global sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan dampak kemanusiaan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi memicu krisis harga pangan global dalam enam hingga 12 bulan mendatang.

FAO menyebut dampak krisis berkembang secara bertahap, mulai dari sektor energi, pupuk, benih, penurunan hasil panen, kenaikan harga komoditas, hingga inflasi pangan.

“Guncangan terjadi bertahap: energi, pupuk, benih, hasil panen lebih rendah, kenaikan harga komoditas, lalu inflasi pangan,” kata FAO.

Di sisi lain, negosiasi antara Washington dan Teheran masih mengalami kebuntuan. Presiden AS Donald Trump mengklaim terdapat kemajuan dalam pembicaraan, tetapi juga mengancam akan melanjutkan aksi militer jika kesepakatan tidak tercapai.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa konflik lanjutan akan membawa konsekuensi yang lebih besar.

“Jika perang kembali terjadi, akan ada lebih banyak kejutan,” ujarnya.

IRGC turut menyatakan bahwa jika Iran kembali diserang, konflik akan meluas melampaui kawasan Timur Tengah.

Analis dari Center for Strategic and International Studies, Will Todman menilai kedua pihak tampak meyakini bahwa mempertahankan tekanan ekonomi akan meningkatkan posisi tawar masing-masing dalam negosiasi.***

Sumber: aljazeera
Exit mobile version