BANDUNG, Kamis (4/6/2026) – Mata yang tampak menonjol atau melotot tidak selalu merupakan bawaan lahir. Dokter spesialis mata lulusan Universitas Padjadjaran, Tri Wahyu, mengungkapkan kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada kelenjar tiroid yang dikenal sebagai Thyroid Eye Disease (TED) atau penyakit mata tiroid.

Menurut dr. Tri Wahyu, sekitar 50 persen penderita gangguan tiroid mengalami komplikasi pada mata. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 persen merupakan pasien dengan hipertiroid atau kelebihan hormon tiroid, meskipun sebagian lainnya memiliki kadar hormon normal bahkan rendah.

“Sekitar 50 persen pasien dengan gangguan tiroid mengalami komplikasi pada mata. Sebanyak 90 persen di antaranya memiliki kondisi hipertiroid atau kelebihan hormon tiroid, meski sisanya bisa memiliki kadar hormon normal atau bahkan rendah,” ujarnya.

Penyakit mata tiroid merupakan gangguan autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat di sekitar bola mata. Antibodi yang menyerang kelenjar tiroid juga dapat bereaksi terhadap otot dan jaringan lemak di belakang mata sehingga menyebabkan peradangan dan pembengkakan.

Akibatnya, bola mata terdorong ke depan dan tampak menonjol atau melotot. Kondisi tersebut menjadi salah satu ciri khas yang paling sering ditemukan pada penderita TED.

“Terjadi peregangan dan pembengkakan pada otot bola mata, itulah yang membuat mata tampak menonjol. Ini adalah ciri khas yang paling sering ditemukan pada pasien TED,” jelas dr. Tri.

Selain mata melotot, penderita penyakit mata tiroid juga dapat mengalami berbagai gangguan penglihatan seperti penglihatan ganda, kelopak mata yang sulit menutup sempurna, mata juling, gerakan bola mata yang terbatas, serta mata kering dan terasa perih.

Dr. Tri menjelaskan, gejala hipertiroid yang menjadi pemicu utama penyakit ini sering kali tidak disadari karena sifatnya yang tidak spesifik. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain tangan sering gemetar, mudah berkeringat terutama pada malam hari, berat badan sulit bertambah meski nafsu makan baik, serta frekuensi buang air besar yang meningkat.

“Banyak pasien baru menyadari mereka punya gangguan tiroid setelah gejalanya muncul di mata. Mereka datang ke dokter mata karena matanya berubah bentuk, baru kemudian diketahui akar masalahnya ada di kelenjar tiroid,” katanya.

Penyakit mata tiroid lebih sering ditemukan pada perempuan berusia di atas 40 tahun dibandingkan laki-laki. Faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena penyakit ini meliputi riwayat keluarga dengan gangguan tiroid, tingkat stres yang tinggi, serta kebiasaan merokok baik aktif maupun pasif.

Menurut dr. Tri, kandungan zat dalam rokok dapat memperburuk peradangan di sekitar mata sehingga penyakit menjadi lebih sulit ditangani.

Selain berdampak pada kesehatan, TED juga dapat memengaruhi kondisi psikologis penderitanya. Perubahan bentuk mata yang mencolok sering membuat pasien kehilangan rasa percaya diri, mengurangi aktivitas sosial, hingga mengganggu pekerjaan.

“Deteksi dini dan penanganan medis yang tepat sangat krusial. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang menjaga fungsi mata tetap baik dan meminimalkan dampak pada penampilan pasien,” tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat yang mengalami perubahan bentuk mata atau merasakan gejala gangguan tiroid untuk segera memeriksakan diri ke dokter agar dapat memperoleh diagnosis dan penanganan sejak dini sebelum terjadi komplikasi yang lebih berat.***