Kabupaten Sumedang bukan hanya dikenal sebagai kota tahu, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perjalanan peradaban Sunda di tanah Parahyangan. Dari masa kerajaan hingga era kebupatian, Sumedang menyimpan kisah tentang kepemimpinan, perjuangan, budaya, hingga identitas masyarakat Sunda yang masih terasa sampai sekarang.

Awal Berdirinya Sumedang Larang

Sejarah Sumedang Larang dipercaya berawal dari Kerajaan Tembong Agung yang didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih sekitar abad ke-7. Kerajaan ini berada di wilayah Citembong Girang, daerah yang kini termasuk kawasan Darmaraja.

Tokoh penting dalam sejarah awal Sumedang adalah Batara Kusuma yang kemudian dikenal sebagai Prabu Tajimalela. Ia dianggap sebagai pendiri Kerajaan Sumedang Larang sekaligus sosok yang melahirkan filosofi terkenal:

“Insun Medal Insun Madangan”

Ungkapan ini berarti “Aku lahir untuk memberi penerangan.” Filosofi tersebut muncul ketika Prabu Tajimalela bertapa dan menyaksikan cahaya besar di kaki Gunung Cakrabuana. Dari peristiwa itulah lahir nama “Sumedang”.

Selain memiliki makna spiritual, nama Sumedang juga diartikan sebagai tanah yang indah dan tiada bandingnya. Filosofi ini menjadi identitas masyarakat Sumedang yang menjunjung kebijaksanaan, kesabaran, dan kehormatan.

Masa Kejayaan Sumedang Larang

Setelah dipimpin beberapa generasi penerus, Sumedang Larang berkembang menjadi kerajaan penting di Tatar Sunda. Hubungannya erat dengan kerajaan besar lain seperti Galuh dan Pajajaran.

Tokoh paling terkenal dalam sejarah Sumedang Larang adalah Prabu Geusan Ulun. Pada masa pemerintahannya antara tahun 1578–1610, Sumedang Larang mencapai puncak kejayaan.

Ketika Kerajaan Pajajaran runtuh akibat serangan Kesultanan Banten pada 1579, pusaka-pusaka Pajajaran diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun. Peristiwa ini dianggap sebagai simbol bahwa Sumedang Larang menjadi penerus sah kekuasaan Sunda di wilayah Parahyangan.

Wilayah kekuasaan Sumedang saat itu sangat luas, membentang dari kawasan Brebes di timur hingga Sungai Cisadane di barat. Karena itulah Prabu Geusan Ulun sering dianggap sebagai nalendra atau pemimpin besar tanah Sunda setelah runtuhnya Pajajaran.

Kisah Harisbaya dan Perang dengan Cirebon

Salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah Sumedang adalah peristiwa Harisbaya. Kisah ini bermula ketika Prabu Geusan Ulun singgah di Cirebon sepulang belajar dari Demak dan Pajang.

Di sana ia bertemu kembali dengan Ratu Harisbaya, istri Panembahan Ratu Cirebon yang dahulu pernah memiliki hubungan dengannya. Harisbaya akhirnya ikut pergi ke Sumedang bersama Geusan Ulun, sehingga memicu konflik besar antara Sumedang dan Cirebon.

Perang pun terjadi. Dalam kisah ini muncul legenda pohon hanjuang di Kutamaya yang dijadikan tanda kemenangan oleh Senapati Jaya Perkosa. Hingga kini, kisah Hanjuang Kutamaya masih menjadi bagian penting dalam cerita rakyat Sumedang.

Dari Kerajaan Menjadi Kebupatian

Setelah wafatnya Prabu Geusan Ulun, Sumedang Larang mulai mengalami perubahan politik besar. Putranya, Pangeran Rangga Gempol, memilih menyerahkan Sumedang kepada Kesultanan Mataram pada tahun 1620.

Sejak saat itu, Sumedang berubah dari kerajaan merdeka menjadi wilayah kebupatian di bawah Mataram. Nama wilayah Priangan mulai digunakan untuk menyebut daerah bekas kekuasaan Sumedang Larang.

Meski demikian, pengaruh Sumedang tetap besar di wilayah Priangan. Para bupati Sumedang memiliki posisi penting dalam pemerintahan Jawa Barat pada masa itu.

Pangeran Panembahan dan Perlawanan Politik

Pada abad ke-17 muncul sosok Pangeran Panembahan yang dikenal berani dan cerdas. Ia berhasil memperluas kembali pengaruh Sumedang hingga ke wilayah pantai utara Jawa Barat seperti Ciasem, Pamanukan, dan Indramayu.

Pangeran Panembahan juga terkenal karena kemampuannya memainkan politik antara Mataram, Banten, dan VOC Belanda. Meski sempat menghadapi serangan besar dari Banten, ia tetap mampu mempertahankan eksistensi Sumedang.

Pada masa inilah pusat pemerintahan dipindahkan ke Regolwetan, wilayah yang kini menjadi pusat Kota Sumedang.

Pangeran Kornel dan Legenda Cadas Pangeran

Nama Pangeran Kornel menjadi salah satu tokoh paling legendaris dalam sejarah Sumedang. Ia memimpin pada masa pembangunan Jalan Raya Pos oleh Gubernur Jenderal Daendels.

Rakyat Sumedang dipaksa membelah tebing cadas untuk pembangunan jalan Anyer–Panarukan. Banyak rakyat menderita akibat kerja paksa tersebut.

Dalam sebuah kisah terkenal, ketika Daendels datang meninjau proyek, Pangeran Kornel menyambutnya dengan tangan kiri sambil tangan kanan memegang keris. Sikap itu menjadi simbol keberanian membela rakyat di hadapan penguasa kolonial.

Lokasi pembangunan jalan tersebut kini dikenal sebagai Cadas Pangeran dan menjadi salah satu ikon sejarah Sumedang.

Masa Modern dan Pembangunan Sumedang

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Sumedang dipimpin oleh Pangeran Aria Suria Atmadja yang dikenal sebagai pemimpin visioner.

Ia melakukan banyak pembangunan di bidang:

  • pertanian,
  • pendidikan,
  • kesehatan,
  • perikanan,
  • kehutanan,
  • hingga ekonomi rakyat.

Pangeran Aria Suria Atmadja juga mendirikan sekolah, bank desa, sistem irigasi, serta mendorong pelestarian budaya Sunda. Karena jasa-jasanya, ia dikenang sebagai salah satu bupati terbesar dalam sejarah Sumedang.

Warisan Budaya Sumedang

Hingga sekarang, warisan sejarah Sumedang masih dapat ditemukan melalui berbagai situs budaya dan peninggalan sejarah. Salah satu pusat pelestarian sejarah tersebut adalah Museum Prabu Geusan Ulun yang menyimpan pusaka, naskah kuno, dan benda-benda peninggalan kerajaan.

Semangat “Insun Medal Insun Madangan” tetap hidup dalam identitas masyarakat Sumedang modern. Filosofi itu bukan sekadar slogan, melainkan cerminan karakter masyarakat Sunda yang menjunjung ilmu, kehormatan, dan pengabdian kepada sesama.***