Sumedang, 17 April 2025 – Menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumedang ke-447, Karaton Sumedang Larang (KSL) kembali menggelar tradisi Kirab Panji dan Mahkota Binokasih Sanghyangpake. Kirab tahun ini menempuh perjalanan lintas daerah, dimulai dari Kabupaten Ciamis, dilanjutkan ke Kabupaten dan Kota Bogor, dan akan berakhir di Kabupaten Sumedang.
Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang Mahkota Binokasih yang berpindah dari Galuh (Ciamis), ke Pakuan (Bogor), dan akhirnya ke Sumedang Larang pada 22 April 1578. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 27 April 2025, dengan prosesi dari Situs Hanjuang Kutamaya menuju Alun-alun Sumedang.
Mahapatih Karaton Sumedang Larang, Rd. Lily Djamhur Soemawilaga, menegaskan bahwa kirab ini lebih dari sekadar seremoni budaya. “Kirab ini tidak hanya mengenang perjalanan sejarah Mahkota Binokasih, tetapi juga merekatkan kembali hubungan historis antara Sumedang, Ciamis, dan Bogor sebagai wilayah yang pernah menjadi bagian dari Kemaharajaan Sunda,” tuturnya.
Lily juga menjelaskan latar belakang historis penetapan Hari Jadi Sumedang. “Alasan mengapa ketiga wilayah itu dilibatkan, karena melihat sejarah perjalanan Mahkota Binokasih Sanghyangpake yang diawali dari Kerajaan Galuh (Kabupaten Ciamis), kemudian ke Pakuan (Bogor), hingga akhirnya diserahkan ke Kerajaan Sumedang Larang pada tanggal 22 April 1578 kepada Prabu Geusan Ulun atau Pangeran Angka Wijaya, putera dari Pangeran Santri (Kusumah Dinata I) dan Ratu Pucuk Umum.”
Penyerahan mahkota tersebut dilakukan oleh empat tokoh Kandaga Lante: Sanghyang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nangganan), Sangyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot. “Saat itu, Kerajaan Padjadjaran menghadapi ancaman perang saudara karena tekanan dari Kesultanan Banten dan Cirebon. Untuk menghindari konflik, Padjadjaran membubarkan diri. Peristiwa ini dikenal dengan nama Burak Padjadjaran. Sejak penyerahan mahkota itu, ditetapkanlah tanggal 22 April 1578 sebagai Hari Jadi Kabupaten Sumedang,” jelas Lily.
Sejarah Kirab Panji sendiri, menurut Lily, telah berlangsung sejak tahun 2009 tanpa melibatkan daerah lain, dengan rute awal dari Kecamatan Darmaraja ke Gedung Bale Agung Srimanganti Karaton Sumedang Larang. “Sementara Kirab Mahkota Binokasih Sanghyangpake dimulai tahun 2014, dimulai dari Situs Hanjuang di Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara, dan menyambung Kirab Panji dari Darmaraja,” lanjutnya.
Pada tahun ini, kirab melibatkan tiga kabupaten dan satu kota, dimulai dari Ciamis pada 19 April 2025. “Kami dari Sumedang akan berangkat Sabtu pagi, dan prosesi kirab dimulai Minggu pagi, 20 April. Peserta kirab dari Karaton sekitar 30 orang, dipimpin langsung oleh saya dan Radya Anom Karaton, Rd. Luky Djohari Soemawilaga,” ucapnya.
Setelah dari Ciamis, rombongan akan melanjutkan ke Kabupaten Bogor, dan diterima oleh Pemerintah Kabupaten Bogor pada Senin, 21 April. Prosesi kirab di Bogor akan dilaksanakan pada Selasa, 22 April bersama Bupati dan jajaran dinas terkait. Kirab kemudian langsung menuju Kabupaten Sumedang dan diperkirakan tiba pada sore hari.
Di kesempatan terpisah, Sri Radya H.R.I. Lukman Soemadisoeria menekankan pentingnya kesadaran pemerintah daerah dalam melestarikan sejarah. “Sejarah adalah jati diri. Kirab ini seharusnya menjadi refleksi dan pemersatu. Pemerintah daerah jangan lupa sejarah, dan harus memberi perhatian lebih terhadap kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, Radya Anom Rd. Luky Djohari Soemawilaga menegaskan bahwa Mahkota Binokasih adalah simbol kehormatan yang harus dijaga dan diwariskan. “Biasanya, pemerintah daerah merancang agenda Hari Jadi, termasuk sidang paripurna DPRD dan ziarah ke makam leluhur. Namun hingga kini, belum tampak ada pembentukan panitia resmi. Karena itu, Karaton mengambil inisiatif agar Hari Jadi Sumedang tetap berlangsung meriah,” jelasnya.
Luky juga menyampaikan bahwa meskipun tanggung jawab teknis kegiatan ada di pihak pemerintah, Karaton tetap terbuka untuk bersinergi. “Kami berharap sinergi antara budaya dan pemerintah bisa saling menguatkan,” tutupnya. ***


















