Haji Atam, Buruh Tani Asal Sumedang yang Jadi Penolong Jemaah Haji

Haji Tatang saat melakukan terapi pijat tradisional, ia membantu meringankan keluhan jemaah haji yang membutuhkan.
Iwan Rakhmat/SUMEDANGONLINE
Haji Atam saat melakukan terapi pijat tradisional, ia membantu meringankan keluhan jemaah haji yang membutuhkan.

Makkah, 4 Juni 2025 – Di antara ribuan jemaah haji asal Sumedang, Jawa Barat, terdapat satu sosok sederhana yang menjadi sorotan: Haji Atam. Pria berusia 60 tahun ini sehari-harinya adalah buruh tani di Dusun Manco, Desa Gudang, Kecamatan Tanjungsari. Namun di balik kesederhanaannya, Haji Atam memiliki kemampuan istimewa yang bermanfaat bagi sesama jemaah haji.

Saat menunaikan ibadah haji bersama Kloter 17 / KJT, banyak jemaah yang merasa kelelahan, pegal-pegal, atau mengalami keluhan fisik lainnya akibat aktivitas ibadah yang padat. Di saat itulah Haji Atam hadir sebagai penolong. Dengan keahliannya dalam terapi pijat tradisional, ia membantu meringankan keluhan jemaah haji yang membutuhkan.

Yang lebih mengagumkan, Haji Atam melakukan semua ini dengan sukarela dan tanpa pamrih. “Ini niat ibadah juga, mumpung bisa bantu sesama jemaah, insya Allah jadi amal,” ucapnya dengan rendah hati. Baginya, membantu sesama jemaah haji bukan sekadar keahlian, tetapi juga bagian dari ibadah dan amal kebaikan.

BACA JUGA : Menag Imbau Jemaah Haji Indonesia Jaga Kesehatan dan Patuhi Aturan di Tanah Suci

Kisah Haji Atam menjadi inspirasi bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berbuat kebaikan, tidak peduli apa profesinya. Dari ladang di kampung halaman hingga ke tanah suci, Haji Atam menunjukkan bahwa niat tulus dan keinginan membantu sesama adalah bekal utama untuk beramal.

Ia menjadi contoh nyata bahwa amal kebaikan tidak harus selalu besar atau mewah. Dengan keterampilan sederhana yang dimiliki, seperti pijat tradisional, Haji Atam berhasil menghadirkan manfaat dan menjadi penyejuk hati bagi para jemaah yang sedang berjuang menunaikan ibadah haji.

Kehadiran Haji Atam di Tanah Suci adalah pengingat bahwa kebaikan selalu memiliki ruang, bahkan dalam perjalanan ibadah yang suci. Dari seorang buruh tani menjadi penolong sesama jemaah, kisah Haji Atam adalah cerminan indahnya berbuat kebaikan dengan apa yang kita miliki. ***

Disclaimer: Iklan atau Konten dalam kotak ini bukan dibuat oleh Redaksi, tetapi pihak ke-tiga.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE Terima Tidak