Indeks
Opini  

Membayangkan Desa Wisata Hybrid Butom: Jalan Lain Menyambut Rebana Metropolitan

Ilustrasi keindahan di desa.
AI ChatGPT/SUMEDANGONLINE
Ilustrasi keindahan di desa.

Ketika orang berbicara tentang wisata desa, bayangan yang muncul seringkali klise: saung di sawah, kecapi suling, angklung, dan kuliner khas. Tapi apakah itu cukup untuk menjawab tantangan kawasan hinterland seperti Buahdua, Ujungjaya, dan Tomo atau yang di sebut BUTOM  yang sedang bersiap menyambut gelombang industrialisasi dari Rebana Metropolitan?

Bagi warga yang tinggal dan tumbuh di kawasan ini, mereka merasa waktu terus mendekat pada satu persimpangan penting. Di satu sisi, mereka menyambut pembangunan. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran yang pelan-pelan muncul: bagaimana agar desa mereka tidak hanya menjadi tempat tidur pekerja industri atau sekadar pelengkap infrastruktur kawasan ekonomi. Apakah desa harus pasif dan menunggu arus datang, atau bisa mengambil inisiatif lebih dulu?

Saya membantu menjawab sederhana: desa harus mendahului.

Pariwisata Sebagai Skema Transisi

Warga di kawasan  BUTOM sadar ,  tidak punya aset wisata “kelas berat” seperti pantai Bali, Candi Borobudur, atau Gunung Bromo, atau Pangandaran . Tapi desa punya satu hal yang tak bisa ditiru: keaslian. Interaksi otentik antara tamu dan warga, suasana yang tak dibuat-buat, dan kisah-kisah lokal yang tak ada di tempat lain.

Dengan semangat itu, beberapa warga di kawasan BUTOM harus  mulai menggagas skema pariwisata desa berbasis koperasi. Bukan untuk menjadi destinasi masal, tetapi sebagai jalan alternatif. Saya  menyebutnya “desa wisata hybrid”  bukan hanya alam dan budaya, tapi juga aktivitas warga sehari-hari, produk lokal, sampai pengalaman hidup di desa yang dikemas dalam bentuk paket wisata tematik.

Tiga Paket, Tiga Rasa Desa

Saya menyodorkan gagasan , ada tiga tipe paket wisata yang bisa ditawarkan:

RASA (Rasa Desa) – wisata kuliner berbasis dapur warga: dari sale pisang Buahdua, tape, hingga aren asli.

RAGA (Raga Sehat) – jalan sehat, yoga di sawah, pijat tradisional, dan workshop herbal di Tomo.

RUANG (Ruang Budaya) – workshop bambu, permainan rakyat, dongeng desa, hingga musik dan tari lokal.

Ketiganya dikemas bukan hanya untuk wisatawan biasa, tapi juga cocok untuk keluarga urban, pelajar, bahkan perusahaan yang ingin kegiatan retreat CSR di desa.

Mengapa Koperasi?

Saya menyarankan untuk  memilih koperasi sebagai badan usaha dan momentum ini bisa dimanfaatkan oleh Koperasi Desa Merah Putih yang sudah dibentuk di Desa , karena pariwisata bukan sekadar urusan promosi, tapi distribusi manfaat. Tanpa kelembagaan rakyat, wisata desa hanya akan mengulang cerita lama: investor masuk, warga menonton.

Dengan koperasi, warga bisa bergabung sebagai pemilik sekaligus pelaksana. Warga menyumbang ide, tempat, tenaga, dan mendapat pembagian hasil. Model koperasi juga memungkinkan pembangunan dilakukan perlahan tapi merata, dimulai dari warga yang siap.

Lebih dari Sekadar Industri Wisata

Kita  tahu pariwisata bukan obat semua masalah. Tapi ia bisa menjadi “jembatan” dari ekonomi agraris menuju keterlibatan produktif dalam skenario baru Rebana. Sambil menunggu industri masuk, warga sudah bisa belajar manajemen usaha, hospitality, branding, sampai digitalisasi layanan.

Di sisi lain, model ini membantu desa mempertahankan identitasnya. Kita tidak ingin BUTOM menjadi wilayah urban baru yang tercerabut dari akar budaya. Justru dengan wisata berbasis cerita lokal, desa punya alasan kuat untuk menjaga hutan kecilnya, mempertahankan kebiasaan gotong royong, atau mewariskan kerajinan tradisional.

Harapan untuk Pemerintah dan Mitra

Yang warga butuhkan bukan mega proyek, tapi dukungan ringan yang tepat: pelatihan SDM, promosi awal, fasilitasi koperasi, dan akses pembiayaan mikro. Dengan hibah kecil dan pendampingan komunitas, desa bisa mulai bergerak tanpa tergantung proyek besar.

Kita  juga berharap pemerintah daerah, BUMD, dan CSR bisa melihat ini sebagai “buffer zone” pembangunan. Dengan desa yang kuat, urbanisasi bisa lebih tertata, dan ketimpangan ekonomi bisa dikurangi sejak awal.

Menuliskan Masa Depan dari Desa

BUTOM memang tidak punya objek wisata spektakuler. Tapi mereka  punya warga yang siap bergerak, dan cerita yang belum ditulis. Jika hari ini kita mulai menanam gagasan, besok-besok anak-anak mereka tak perlu pergi jauh untuk mencari kerja — karena desanya sendiri sudah menjadi ruang tumbuh yang bernilai.

Barangkali inilah saatnya kita membalik pertanyaan: bukan “apa yang dimiliki desa?”, tapi “apa yang ingin desa ceritakan kepada dunia?” Dan  warga BUTOM, harus sudah mulai menulisnya  pelan-pelan, dari desa. (*)


*Penulis Adalah Ketua Dewas Fokus Sinergi Kemitraan, Pusat studi dan aksi pemberdayaan masyarakat.

Exit mobile version