Indeks

Serangan Israel Tewaskan Sedikitnya 92 Warga Palestina di Gaza, Krisis Kelaparan Memburuk

Para wanita di Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza berpelukan, sambil berduka cita atas orang-orang terkasih mereka selama pemakaman para pencari bantuan Palestina yang terbunuh oleh tembakan Israel .
Mahmoud Issa/Reuters via aljazeera/SUMEDANGONLINE
Para wanita di Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza berpelukan, sambil berduka cita atas orang-orang terkasih mereka selama pemakaman para pencari bantuan Palestina yang terbunuh oleh tembakan Israel .

Gaza – Setidaknya 92 warga Palestina tewas dalam serangan terbaru Israel di seluruh Jalur Gaza, di tengah krisis kelaparan yang terus memburuk dan upaya putus asa masyarakat untuk mendapatkan bantuan pangan.

Menurut laporan dari otoritas kesehatan Gaza, sejak Kamis dini hari, 64 korban tewas tercatat di Gaza City dan wilayah utara, sementara 16 lainnya tewas saat menunggu bantuan kemanusiaan di dekat Koridor Netzarim, jalur yang membelah Gaza menjadi utara dan selatan.

Setiap hari, warga Palestina yang kelaparan berkumpul di wilayah itu untuk mendapatkan paket bantuan dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF) — sebuah lembaga yang didukung AS dan Israel namun telah dikecam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena dianggap memanipulasi bantuan sebagai senjata.

Bassam Abu Shaar, saksi mata serangan di titik distribusi bantuan, mengatakan kepada AFP bahwa warga telah menunggu sejak malam hari dengan harapan mendapat makanan.

Sekitar pukul 1 dini hari, mereka mulai menembaki kami. Tembakan dari tank, pesawat, dan bom quadcopter semakin intens,” ungkapnya melalui sambungan telepon. “Kami tak bisa membantu yang terluka, bahkan tak bisa melarikan diri. Kerumunan terlalu padat untuk menghindar dari tembakan Israel,” lanjutnya, menggambarkan kekacauan di Persimpangan Shuhada.

Dalam beberapa pekan terakhir, serangan terhadap warga Palestina yang sedang berupaya mendapatkan bantuan pangan terus meningkat, dengan puluhan orang tewas.

Melaporkan dari Deir el-Balah, jurnalis Al Jazeera Tareq Abu Azzoum menyebut serangan terhadap titik bantuan kini menjadi “rutinitas harian”. “Lebih dari tiga bulan blokade penuh Israel terhadap perlintasan perbatasan telah menjadikan Gaza sebagai pusat kelaparan. Masyarakat kini terpaksa mendatangi pusat distribusi untuk mendapatkan tepung, air, dan makanan bernutrisi rendah,” jelasnya.
Koridor kemanusiaan kini telah berubah menjadi medan pembantaian,” tambahnya.

Militer Israel, melalui pernyataan kepada Reuters, mengklaim bahwa ada “tersangka” yang mencoba mendekati pasukan di sekitar Netzarim, yang dinilai sebagai ancaman. Pasukan Israel menyebut telah melepaskan tembakan peringatan, namun tidak menyampaikan bukti dan mengaku belum mengetahui adanya korban.

Dalam insiden terpisah, serangan drone Israel terhadap tenda darurat tempat warga mengisi daya perangkat elektronik di Kamp Pengungsi Al Shati menewaskan 13 orang. Serangan udara besar-besaran juga menghantam sejumlah rumah di Jabalia, Gaza utara.

Jurnalis Al Jazeera Hind Khoudary, juga dari Deir el-Balah, menyebut bahwa serangan terhadap tempat pengisian daya tersebut terjadi setelah lebih dari satu setengah tahun tanpa listrik di Gaza. Ia menggambarkan bagaimana serangan terhadap pusat bantuan mencerminkan kondisi yang kian memburuk, di mana warga Gaza kini harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan makanan.

“Hanya sedikit truk bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza setiap harinya. Warga sangat putus asa. Mereka dibunuh saat mencoba mendapatkan apa pun yang ada di truk bantuan itu,” ujarnya.

Dalam 24 jam terakhir, rumah sakit di Gaza menerima 69 jenazah, termasuk dua korban yang baru ditemukan, serta 221 orang luka-luka, menurut sumber medis.

Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, sedikitnya 55.706 orang telah terbunuh dan 130.101 lainnya terluka, menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza. ***

Sumber: aljazeera
Exit mobile version