Gaza, 25 Juni 2025 – PBB mengeluarkan peringatan keras bahwa kelanjutan blokade bahan bakar di Gaza akan menyebabkan lebih banyak kematian, termasuk di antaranya anak-anak, di tengah laporan penembakan terhadap warga sipil yang tengah mencari bantuan kemanusiaan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan pada Selasa bahwa masyarakat Gaza terus menjadi korban tewas dan luka-luka, termasuk di dekat lokasi distribusi bantuan non-PBB atau di jalur yang ditetapkan oleh otoritas Israel untuk pengambilan truk bantuan.
“Otoritas Israel harus mengizinkan masuknya bahan bakar dalam jumlah yang cukup ke Gaza, termasuk ke wilayah utara,” tegas OCHA. “Jika operasi penyelamatan ini terhenti, lebih banyak orang akan meninggal.”
Krisis Air dan Gizi Anak Meningkat
Dana Anak PBB (UNICEF) mengingatkan bahwa jika blokade bahan bakar yang telah berlangsung lebih dari 100 hari tidak dihentikan, anak-anak akan mulai meninggal karena kehausan. Bahan bakar sangat penting untuk memproduksi, mengolah, dan mendistribusikan air bersih bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza.
UNICEF mencatat lonjakan hampir 50 persen jumlah anak yang dirawat karena malnutrisi akut selama Mei dibandingkan dengan April, mencerminkan keruntuhan sistem air dan sanitasi di wilayah tersebut.
OCHA menyebutkan bahwa pasokan bahan bakar yang tersimpan di Rafah masih digunakan untuk menjaga layanan kritis di Gaza bagian selatan, tetapi ini hanya memberi waktu tambahan yang sangat terbatas. Pada Senin, tim PBB berhasil memperoleh pasokan bahan bakar dari Rafah dalam sebuah misi yang dikatakan berhasil.
Kesehatan Mental Anak Gaza Memburuk
OCHA juga menyoroti kondisi kesehatan mental anak-anak Gaza yang semakin memburuk. Para pengasuh melaporkan bahwa anak-anak mengalami stres psikologis yang meningkat, terutama karena kondisi hidup yang memburuk dan kekurangan pangan.
PBB dan mitranya memberikan lebih dari 1.000 sesi dukungan emosional kepada anak-anak di kamp pengungsian di Gaza City, Deir al-Balah, dan Khan Younis. Sebanyak 2.000 pengasuh juga menerima layanan dukungan kesehatan mental.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa ratusan pekerja kemanusiaan garis depan telah dilatih dalam pertolongan pertama psikologis untuk memberikan rasa aman bagi warga Gaza yang tertekan.
Perintah Pengungsian Baru dan Krisis Tempat Tinggal
Militer Israel kembali mengeluarkan perintah pengungsian untuk tiga wilayah di Jabalya, Gaza utara, yang diperkirakan dihuni sekitar 30.000 orang. OCHA mencatat bahwa sebagian besar wilayah Gaza saat ini berada di bawah perintah pengungsian.
Namun, bantuan berupa bahan bangunan dan tempat berlindung telah dilarang masuk selama lebih dari 16 minggu, sementara ratusan ribu warga baru saja terusir dari rumah mereka. Di Khan Younis, mitra PBB mencoba mengatasi krisis dengan menggunakan palet kayu dari pengiriman makanan untuk membangun tempat tinggal darurat.
Akses Bantuan Dibatasi, Banyak Misi Ditolak
Dari 14 misi kemanusiaan yang dikoordinasikan oleh PBB di Gaza, enam di antaranya ditolak sepenuhnya oleh otoritas Israel. Ini termasuk pengiriman bahan bakar dan air, serta pengambilan jenazah dan kendaraan rusak. Misi yang berhasil dilakukan meliputi kegiatan kesehatan, gizi, dan pengangkutan limbah padat. ***
