SUMEDANG – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumedang kembali menggelar seleksi pelatihan bahasa dan budaya Jepang serta fasilitasi penempatan kerja ke Jepang untuk tahun 2025. Seleksi berlangsung selama dua hari, pada 23–24 Juli 2025, bertempat di Makodim 0610 Sumedang dan diikuti oleh 207 peserta dari berbagai wilayah di Sumedang.
Kegiatan ini merupakan salah satu langkah konkret Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam membuka akses kerja internasional bagi generasi muda sekaligus menekan angka pengangguran.
Kepala Bidang Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Disnakertrans Sumedang, Irma Dewi Agustin, menjelaskan bahwa seleksi dilakukan secara ketat untuk menjaring peserta yang benar-benar siap menghadapi dunia kerja di Jepang.
“Pada hari pertama, peserta menjalani tes kesehatan dan fisik seperti push-up, sit-up, dan lari. Hari kedua dilanjutkan dengan ujian matematika dasar, bahasa Jepang dasar, serta psikotes,” terangnya.
Dari 207 peserta, hanya 125 orang yang akan lolos dan dikirim ke Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) mitra Disnakertrans untuk mengikuti pelatihan intensif. Selanjutnya, mereka akan difasilitasi penempatan kerja ke Jepang melalui lembaga seperti Sending Organization (SO) dan P3MI yang telah bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Irma menegaskan pentingnya seleksi yang ketat, mengingat standar profesionalitas dan fisik di Jepang yang sangat tinggi. “Kami memilih Makodim 0610 karena fasilitasnya representatif dan didukung penuh oleh Kodim untuk pelaksanaan tes fisik,” ujarnya.
Program penempatan kerja ini mencakup sektor-sektor strategis seperti pengolahan makanan, pertanian, peternakan, perawatan lansia, manufaktur, hingga konstruksi. Penempatan akan disesuaikan dengan minat dan kapabilitas peserta.
Program ini juga mendapatkan dukungan finansial yang signifikan dari Pemkab Sumedang berupa subsidi pelatihan sebesar Rp7,5 juta per peserta. Selain itu, peserta juga difasilitasi dana talangan keberangkatan melalui kerja sama dengan Bank Sumedang dan Bank BJB, sehingga tidak terbebani secara finansial di awal program.
Meski peminatnya terus meningkat setiap tahun, Irma mengakui bahwa tantangan tetap ada. “Dari kuota 125 orang, biasanya hanya 40–50 yang betul-betul memenuhi kualifikasi. Tapi kami terus memberikan pembinaan dan konseling untuk mendorong mereka bisa lolos standar Jepang,” jelasnya.
Minimnya informasi di masyarakat juga menjadi kendala tersendiri. Untuk itu, Disnakertrans Sumedang berkomitmen memperluas sosialisasi program ini melalui berbagai kanal informasi dan kerja sama dengan lembaga pelatihan.
“Program ini merupakan arahan langsung dari Bupati Sumedang untuk menjembatani angkatan kerja dengan peluang kerja luar negeri. Ke depan, kami juga sedang menjajaki kerja sama dengan negara lain seperti Korea dan Jerman,” pungkas Irma.
Dengan program ini, Pemerintah Kabupaten Sumedang tidak hanya mencetak tenaga kerja siap pakai berstandar internasional, tetapi juga membuka jalan bagi anak muda Sumedang untuk menembus pasar kerja global. (**)










