Darmaraja Festival XV, Api Seni Buhun yang Tak Pernah Padam

Salahsatu adegan dari Sendra Tari Mapag Dangiang Tembong Agung pada Darmaraja Festival XV Tahun 2025.
Igun Gunawan/SUMEDANGONLINE
Salahsatu adegan dari Sendra Tari Mapag Dangiang Tembong Agung pada Darmaraja Festival XV Tahun 2025.

Sumedang – Halaman Alun-alun Kecamatan Darmaraja, Selasa (19/8/2025) malam, berubah menjadi panggung sejarah hidup. Suara gamelan, tabuhan kohkol, dan alunan angklung buncis buhun berpadu dalam puncak Darmaraja Festival XV, seakan membangunkan kembali denyut peradaban lama di tanah Sumedang.

Festival yang telah berlangsung selama 15 tahun ini berawal dari gagasan seniman Yoyon Daryono sejak 2006. Meski sempat terhenti ketika Yoyon mengajar seni tradisi di Paris dan Aljazair, api festival tetap dijaga. Tahun ini, penyelenggaraan diinisiasi Sanggar Seni Raksa Mandala dengan dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat, Kementerian Kebudayaan.

Mengusung tema “Ngamumulé Budaya, Ngaronjatkeun Jatidiri Sunda”, festival ini tidak hanya menghadirkan seni pertunjukan, tetapi juga menjadi ikrar kebudayaan: seni buhun masih hidup, layak diwariskan, dan penting untuk masa depan.

“Festival ini adalah penghormatan pada leluhur sekaligus tanggung jawab generasi hari ini. Budaya hanya akan bertahan jika ada kesadaran kolektif untuk merawatnya,” ujar Tepi Ayani, Ketua Pelaksana Darmaraja Festival XV.

Berbagai pertunjukan ditampilkan, mulai dari Seni Koromong Eyang Jangel, Angklung Buncis Buhun, seni Kohkol, Tari Jaipong, hingga karya kontemporer BreakPong (breakdance jaipong) oleh Nizar Iskandar serta ditutup dengan Sendra Tari Mapag Dangiang Tembong Agung. Kehadirannya bukan sekadar hiburan, melainkan ruang ingatan kolektif masyarakat bahwa Darmaraja adalah salah satu pusat lahirnya kebudayaan Sumedang.

Perwakilan BPK Wilayah IX Jawa Barat, Cut Dewi Mayangsari, menegaskan pentingnya pewarisan budaya kepada generasi muda.

“Darmaraja Festival XV yang mengangkat kesenian buhun ini diharapkan bisa menjadi wadah pewarisan budaya. Jadi bukan hanya generasi kaum tua saja yang mengetahui kebudayaan ini, tetapi generasi muda juga bisa ikut bergabung, memahami, dan mencintai kebudayaannya sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Hilman Abdilah, Camat Darmaraja, memberikan apresiasi tinggi terhadap para seniman yang konsisten menjaga kelestarian seni buhun. Ia mengingatkan bahwa Darmaraja pernah menjadi pusat kerajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kabupaten Sumedang.

“Meski patilasannya sudah tenggelam oleh Bendungan Jatigede, tapi ruhnya, semangatnya, harus kita pelihara dan wariskan kepada generasi emas kita. Supaya mereka dapat menghargai dan melanjutkan apa yang menjadi warisan leluhur,” katanya.

Dalam sambutannya, Yoyon Daryono menegaskan bahwa Darmaraja Festival adalah perjalanan panjang yang harus terus dijaga. “Lima belas tahun ini adalah awal baru. Seni buhun bukan hanya milik masa lalu, melainkan bagian dari masa depan,” tegasnya.

Darmaraja Festival XV pun menegaskan perannya sebagai penopang identitas di tengah derasnya arus budaya global. Selama gamelan masih dimainkan, kohkol ditabuh, jaipong ditarikan, dan lagu buhun dinyanyikan, selama itu pula masyarakat Sunda memiliki alasan untuk merasa utuh. ***

Disclaimer: Iklan atau Konten dalam kotak ini bukan dibuat oleh Redaksi, tetapi pihak ke-tiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE Terima Tidak