Keterbatasan peralatan tak selalu menjadi penghalang kreativitas. Hal itu dibuktikan KIM Kecamatan Darmaraja yang berhasil meraih Juara 2 Kategori Video Kreatif Pembangunan Daerah pada KIM Award 2025, ajang yang digelar Forum KIM Sumedang bekerja sama dengan Diskominfosanditik Sumedang.
Di balik video berdurasi tiga menit tersebut, tersimpan cerita unik sekaligus inspiratif. Andri Mulyadi, host sekaligus kameramen video, mengaku harus berimprovisasi karena lupa membawa tripod saat pengambilan gambar di Mata Air Cikukulu, tepat di bawah kaki Bukit Golempang.
“Saat itu saya lupa bawa tripod. Terpaksa saya kokotètengan mencari bambu untuk menyangga ponsel yang dijadikan kamera,” tutur Andri sambil tertawa mengenang pengalamannya.
Dengan bilah bambu seadanya, ponsel miliknya tetap berdiri kokoh. Dari sanalah visual pembangunan infrastruktur air bersih dan upaya pelestarian alam di Kecamatan Darmaraja direkam dengan penuh kesungguhan.
Tak hanya soal teknis pengambilan gambar, Andri juga terlibat langsung dalam proses yang diangkat di video tersebut. Ia menyebutkan bahwa bibit-bibit pohon yang ditanam di sejumlah mata air di Darmaraja sebagian besar berasal dari hasil semaian tangannya sendiri.
“Saya ngipuk sendiri dari pohon kihujan tua yang ada di lapang Sirna Raga,” ungkapnya, merujuk pada pohon kihujan (trembesi) yang dikenal mampu menjaga cadangan air tanah.
Ratusan pohon telah ia tanam tanpa pamrih. Andri menegaskan, dirinya tak pernah berharap imbalan dari setiap bibit yang ia bagikan.
“Kalau yang minta bibit banyak. Prinsip saya, asal bibit itu ditanam, ya saya kasih. Walaupun tidak saya jual,” katanya sederhana.
Sementara itu, Ketua KIM Darmaraja, Igun Gunawan, mengungkapkan bahwa tema video tersebut lahir dari diskusi internal sebelum mengikuti lomba. Ia mengusulkan agar KIM Darmaraja mengangkat isu pembangunan infrastruktur air bersih yang dibarengi dengan kesadaran menjaga alam.
“Saya rasa tema ini penting untuk diketahui. Kita tidak hanya mau memanfaatkan alamnya saja, tapi juga harus memeliharanya. Kalau kita sudah bersahabat dengan alam, alam pun akan bersahabat dengan kita,” ucap Igun.
Menurutnya, sebenarnya ada beberapa ide lain yang sempat mengemuka, seperti mengangkat seni buhun beluk atau potensi peternakan domba. Namun, akhirnya tema air bersih dan pelestarian alam dipilih karena dinilai paling relevan dengan kondisi masyarakat Darmaraja.
Dengan peralatan sederhana dan semangat gotong royong, KIM Darmaraja akhirnya mampu membuktikan bahwa pesan kuat tak selalu lahir dari teknologi mahal. Igun pun mengaku bersyukur atas capaian tersebut.
“Alhamdulillah, meski dengan peralatan seadanya, kami bisa lolos dan meraih juara 2. Ini jadi motivasi besar bagi kami,” pungkasnya.
Dari tripod bambu hingga ratusan bibit pohon, kisah KIM Darmaraja menjadi bukti bahwa kreativitas, kepedulian, dan ketulusan masih menjadi fondasi utama dalam pembangunan berbasis masyarakat.***










