Sumedang – Proses pengujian material terhadap Mahkota Binokasih Sanghyang Pake milik Keraton Sumedang Larang dilakukan menggunakan alat X-Ray Fluorescence (XRF) untuk mengetahui komposisi material artefak secara ilmiah.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat, Retno Raswaty, menjelaskan bahwa alat XRF digunakan untuk menganalisis unsur material yang terkandung dalam sebuah artefak tanpa merusaknya.
“Ini merupakan alat yang bernama XRF atau X-Ray Fluorescence, yang digunakan untuk mengetahui kandungan material yang digunakan dalam pembuatan sebuah artefak. Dalam hal ini adalah Mahkota Binokasih,” ujar Retno.
Menurutnya, pengujian yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat tersebut merupakan bagian dari proses pengumpulan data ilmiah untuk mendukung penetapan Mahkota Binokasih sebagai Cagar Budaya Nasional oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Selain Mahkota Binokasih, tim juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah artefak penyerta yang selama ini digunakan dalam berbagai upacara adat di lingkungan Keraton Sumedang Larang.
Beberapa artefak yang turut diuji di antaranya kalung panjang yang biasa dikenakan oleh raja, serta sejumlah benda lain yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan maupun perkakas yang digunakan dalam prosesi penobatan.
Retno menyebutkan bahwa pemeriksaan terhadap artefak-artefak tersebut penting untuk memastikan keaslian serta mengetahui komposisi materialnya sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya.
“Pengujian ini dilakukan untuk memperoleh data ilmiah terkait kandungan material artefak, yang nantinya menjadi bagian dari proses penetapan Mahkota Binokasih sebagai cagar budaya nasional,” katanya.***










