SUMEDANG – Menjelang pelaksanaan Karnaval Mahkota Kemaharajaan Sunda dan Kirab Panji Sumedang Larang dalam rangka Milangkala Tatar Sunda 2026, Keraton Sumedang Larang bersama Masyarakat Adat Darmaraja menggelar prosesi sakral ngaruhan Panji Sumedang di sejumlah karomah leluhur di Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Kamis (30/4/2026).
Prosesi ngaruhan tersebut diawali dengan ziarah dan doa di Karomah Paniis, kemudian dilanjutkan ke Karomah Cipaku yang berada di kawasan Astana Gede. Namun, karena lokasi Astana Gede kini telah tergenang oleh Bendungan Jatigede, rangkaian kegiatan di Cipaku dilaksanakan di Padepokan Cipaku dan dipimpin langsung oleh juru pemelihara makam setempat.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian spiritual sebelum digelarnya Karnaval Mahkota Kemaharajaan Sunda dan Kirab Panji Sumedang Larang yang rencananya akan diarak di sembilan kabupaten/kota di Jawa Barat, dengan melibatkan peserta dari 27 kabupaten/kota.
Perwakilan Keraton Sumedang Larang, Asep Sulaeman Fadil, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa prosesi ini mengandung pesan moral yang mendalam bagi masyarakat.
“Kita sekarang sudah bersatu bersama Pemerintah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dan Keraton Sumedang Larang dalam acara Mapag Pajajaran Anyar, Milangkala Tatar Sunda. Ini sebagai simbol membuka Cupumanik Astagina yang diwujudkan dalam Mahkota Binokasih,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa momentum ini menjadi simbol persatuan dan kasih sayang dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, tahun 2026 menjadi tahun penggenapan menuju kebangkitan nilai-nilai Sunda di masa mendatang.
“Semoga ini menjadi awal yang baik. Tahun 2026 adalah tahun penggenapan, dan mudah-mudahan pada 2027 ke depan kita bisa mulai menegakkan kembali marwah Sunda dan marwah Nusantara,” lanjutnya.
Lebih jauh, Asep menegaskan bahwa pesan moral dari kegiatan ini juga relevan dengan kondisi global saat ini. Di tengah dinamika dunia yang tidak stabil, simbol Mahkota Binokasih diharapkan menjadi perekat nilai kemanusiaan.
“Dunia saat ini tidak baik-baik saja. Kita melihat bagaimana blok Barat dan Timur sedang berhadapan. Maka pesan moral dari Mahkota Binokasih ini adalah cinta kasih, kadeudeuh jeung kanyaah, sebagaimana telah diwariskan oleh leluhur kita sejak lama,” pungkasnya.
Prosesi ngaruhan Panji Sumedang ini pun menjadi refleksi spiritual sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga nilai budaya, persatuan, dan kearifan lokal di tengah arus perubahan zaman.***
