Home / Nasional

Rabu, 24 Juni 2020 - 03:51 WIB

24 Ton per Hari, Jabar Tangani Limbah Medis COVID-19 Provinsi Lain

Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) via PT Jasa Medivest (Jamed) berkomitmen untuk menangani limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) infeksius, khususnya limbah COVID-19. Limbah medis COVID-19 sejumlah provinsi pun ditangani Jamed.

HUMAS JABAR TANGANI LIMBAH: Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) via PT Jasa Medivest (Jamed) berkomitmen untuk menangani limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) infeksius, khususnya limbah COVID-19. Limbah medis COVID-19 sejumlah provinsi pun ditangani Jamed.


KOTA BANDUNG — Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) via PT Jasa Medivest (Jamed) berkomitmen untuk menangani limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) infeksius, khususnya limbah COVID-19. Limbah medis COVID-19 sejumlah provinsi pun ditangani Jamed.

Olivia Allan, selaku Direktur Jasa Medivest mengatakan, kapasitas penanganan limbah B3 infeksius Jamed telah mencapai 24 ton per hari, sejak April lalu. Hal itu sebagai upaya antisipasi lonjakan limbah medis, terkait penanggulangan pandemi COVID-19 di Jabar.

“Kapasitas kami sudah 24 ton per hari. Limbah medis infeksius, termasuk COVID-19. Dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Yogyakarta, Sumatera Barat, Jambi, dan DKI Jakarta, kami tangani juga,” kata Olivia, Selasa (23/6/20).

PT Jamed sendiri merupakan anak perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jasa Sarana yang fokus dalam pengelolaan limbah medis, berlokasi di kawasan Dawuan, Kabupaten Karawang.

Adapun limbah medis merupakan segala jenis sampah yang mengandung bahan infeksius (atau bahan yang berpotensi infeksius), berasal dari fasilitas kesehatan seperti tempat praktik dokter, rumah sakit, praktik gigi, laboratorium, fasilitas penelitian medis, serta klinik hewan.

Baca Juga  Kota Sukabumi, Zona Hijau Pertama di Jabar

OIivia menyatakan, volume limbah medis yang ditangani pihaknya meningkat sekitar 20 persen selama pandemi COVID-19. Dalam kurun Maret-April, Jamed sudah menangani sekitar 1,5 ton limbah COVID-19 dari berbagai provinsi.

“Kemarin kami diminta Kementerian Kesehatan mengangkut limbah infeksius hasil dari penggunaan APD, bekas alat suntik, dan peralatan pengambilan swab di Asrama Karantina Pademangan, Jakarta Utara,” ucapnya.

Selain itu, kata Olivia, Jamed rutin menangani limbah COVID-19 di Gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jabar yang merupakan pusat isolasi pasien COVID-19. Kemudian, Jamed menangani limbah medis pelaksanaan rapid tes di Institut Teknologi Nasional Bandung.

“Kami siap untuk menangani limbah COVID-19 dari berbagai wilayah. Kita siap di Jabar, dan daerah lain, karena kapasitas penanganan kami sudah mumpuni,” katanya.

Protokol Ketat

Olivia memastikan, penanganan limbah medis COVID-19 aman terhadap lingkungan. Sebab, pemusnahan menggunakan insinerator berbasis teknologi “Stepped Heart Controlled Air” dengan dua proses pembakaran bersuhu 1.000-1.200 derajat celcius, dilengkapi pula alat kontrol polusi udara.

Mesin pembakaran mampu menetralkan emisi gas buang seperti partikel-partikel, acid gas, toxic metal, organic compound, CO, dioxin dan furan, sehingga gas buang yang dikeluarkan dapat memenuhi parameter standar baku emisi internasional.

Baca Juga  Ledakan Kilang Balongan, Ridwan Kamil: Keselamatan Warga Adalah yang Utama

“Teknologi yang kami pakai sudah standar KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Kami setiap tiga bulan sekali ada pengecekan, karena ada standar dari KLHK yang harus diikuti,” ucapnya.

Jamed menerapkan standar operasional prosedur (SOP) penanganan limbah medis dengan ketat. Mulai dari distribusi limbah medis dari fasyankes, pemilahan, sampai proses pembakaran. Limbah COVID-19 selalu didahulukan dalam penanganan, guna menekan potensi sebaran COVID-19.

“Kalau penanganannya itu kami sudah siapkan SOP-nya. Pasti ada kemasan yang berbeda. Dilabeli COVID-19. Pasti kami dahulukan,” kata Olivia.

Menurut Olivia, Jamed pun telah menyusun SOP bagi karyawan dengan komprehensif. Semua karyawan harus mengenakan APD lengkap. Lalu, Jamed menyediakan asupan gizi untuk menjaga imunitas karyawan.

“Asupan gizi karyawan kami perhatikan. Vitamin C setiap hari wajib dan kami sediakan. Untuk makanan, ada tambahan buah-buahan. Kita tambahkan kurma juga. Lalu, kami siapkan juga susu untuk karyawan,” ucapnya. ***

Sumber Berita: SUMEDANG ONLINE

Share :

Baca Juga

Nasional

Tinjau OTT, Presiden: Pecat Pejabat yang Terbukti Lakukan Pungli

Nasional

Cianjur Tetapkan Status Tanggap Darurat

Nasional

[PRAY FOR NTB] Alat Berat Bantu Evakuasi Korban Tertimpa Reruntuhan Masjid

Nasional

Banyak Keluhan APD, Presiden: Kita Telah Siap 105 Ribu APD

Nasional

Menpora Baca Puisi Indonesia Tanah Sajadah Karya Zawawi Imron
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menyerahkan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2020 kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Jabar di Kantor BPK Jabar, Kota Bandung, Senin (29/3/2021).

Nasional

Ledakan Kilang Balongan, Ridwan Kamil: Keselamatan Warga Adalah yang Utama
Obat Covid yang didistribusikan.

Nasional

Ini Syarat Mendapatkan Paket Obat Covid-19 dari Pemerintah
Jalan Tol Jakarta-Cikampek

Nasional

Jasa Marga Bakal Sesuaikan Tarif Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road, Ini Rinciannya