Sumedang, 15 Desember 2024 – Delapan tahun pasca pembangunan Bendungan Jatigede, eksistensi satwa di Gunung Surian yang terisolasi akibat genangan air waduk masih menjadi perhatian. Gunung Surian, yang terletak di tengah Bendungan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menjadi habitat bagi berbagai satwa endemik, seperti burung bangau, ayam hutan, dan monyet.
Satwa yang paling mencolok keberadaannya adalah kawanan monyet yang terlihat menghuni tebing-tebing Gunung Surian. Diperkirakan jumlah mereka mencapai ratusan, namun kondisinya sangat memprihatinkan, dengan tubuh kurus yang mengindikasikan kekurangan makanan.
Jujun, seorang pengemudi perahu wisata di kawasan tersebut, menyampaikan bahwa monyet-monyet itu sering menampakkan diri saat ada perahu yang mendekat.
“Mungkin mereka berharap diberi makan. Sudah sering terlihat mereka menunggu di tebing,” ujarnya.
Kawanan monyet ini diduga bertahan hidup dengan memakan pucuk-pucuk dedaunan dan buah-buahan dari pohon yang ada di Gunung Surian. Namun, jumlah pohon berbuah di sana tidak cukup untuk menopang kebutuhan semua kawanan.
“Mereka jelas membutuhkan perhatian khusus. Habitat seperti ini tidak ideal untuk jangka panjang,” kata Angga, seorang pemerhati lingkungan yang mengunjungi lokasi tersebut. Ia menyarankan agar dilakukan langkah konkret seperti penanaman pohon berbuah di kawasan tersebut atau relokasi ke habitat yang lebih layak.
Langkah Perlindungan yang Diperlukan
Kelangsungan hidup satwa endemik Gunung Surian menjadi tanggung jawab bersama. Relokasi atau pelestarian habitat dengan memperbanyak vegetasi yang mendukung ketersediaan makanan adalah solusi yang patut dipertimbangkan.
Selain itu, edukasi kepada wisatawan agar tidak memberi makan sembarangan juga penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan tersebut. Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan segera turun tangan agar satwa-satwa ini tidak terancam punah akibat kurangnya sumber daya di habitatnya.
Gunung Surian, sebagai bagian dari Bendungan Jatigede, tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga simbol penting perlindungan ekosistem di tengah tantangan pembangunan infrastruktur. Upaya pelestarian satwa di kawasan ini dapat menjadi contoh nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di Indonesia. ***


















