Sumedang, 27 September 2025 – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sebelas April (Unsap) Sumedang berkolaborasi dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung menggelar program Pelatihan Pengembangan Media Publikasi Pelestarian Kearifan Lokal Berbasis Digital di Dusun Sindang, Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang.
Program yang berlangsung sejak Juni hingga September 2025 ini diikuti oleh 40 anak muda setempat dan mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui skema hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Sementara pelaksanaan inti pelatihan digelar pada 18–20 Agustus 2025.
Tradisi yang Mulai Punah
Ketua Tim PKM, Rika Kusdinar (Prodi Administrasi Publik, Unsap), bersama anggota tim Imam Setyobudi (Prodi Antropologi Budaya, ISBI) dan Irma Hermayanty (Prodi Administrasi Publik, Unsap) menjelaskan bahwa program ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap semakin berkurangnya ritual adat di Dusun Sindang.
Tradisi seperti hajat golong dan terebang buhun kini jarang dilakukan, sementara upacara mitembeuyan bahkan sudah punah. Faktor penyebabnya antara lain minimnya dukungan pemerintah dalam pengelolaan budaya desa wisata, konflik internal pelaku ritual, rendahnya minat generasi muda, hingga perubahan fungsi upacara akibat teknologi pertanian modern.
Digitalisasi sebagai Solusi
Melalui pelatihan ini, peserta belajar membuat dan mengelola berbagai media digital, mulai dari website, akun media sosial (Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube), hingga produksi konten kreatif yang menarik dan edukatif.
“Generasi muda di Dusun Sindang sebenarnya sudah akrab dengan gadget dan media sosial, tetapi lebih banyak sebagai konsumen. Kami ingin mereka menjadi produsen konten yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal,” ujar Rika Kusdinar.
Selain keterampilan teknis, peserta juga dibekali dengan manajemen media digital agar publikasi tradisi ritual dapat berjalan berkelanjutan dan mendorong Dusun Sindang menjadi destinasi wisata budaya dengan daya tarik upacara adat serta potensi ekonomi kreatif.
Tahapan dan Keberlanjutan
Program PKM ini dilaksanakan melalui lima tahapan, mulai dari sosialisasi dan FGD, pelatihan desain konten serta keamanan siber, hingga produksi konten budaya, pendampingan, evaluasi, dan rencana keberlanjutan bersama pemerintah desa dan kelompok seni lokal.
Tim PKM bersama mitra, Kelompok Seni Dusun Sindang Hurip, berkomitmen melanjutkan pemanfaatan media digital untuk mendokumentasikan dan mempromosikan warisan budaya takbenda (WBTB).
“Dengan teknologi, kami berharap anak-anak muda di Sindang menjadi garda depan pelestarian tradisi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambah Imam Setyobudi.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah, Dusun Sindang diharapkan dapat menjadi contoh desa wisata budaya yang tetap menjaga akar tradisi di tengah arus modernisasi.***
