SUKASARI – Turunnya harga sembakau super per-20 sasag yang dihargai bandar dikisaran Rp 100 ribu, membuat sejumlah petani tembakau mengeluh. Pasalnya biaya sarana produksi pertanian tembakau jauh lebih besar, imbasnya dipastikan mereka akan merugi.
Lain dari itu, untuk kebutuhan produksi selama proses penanaman hingga panen, tak sedikit petani yang ngijon ke bandar. “Jika harga tetap seperti ini, kami merasa kerepotan apalagi memikirkan uang untuk membayar cicilan pinjaman bekas modal,” terang Dadan, seorang petani warga setempat, Kamis (12/7).
Menurut keterangan Dadan, salahsatu yang menjadi alasan petani karena naiknya nilai harga pita cukai. Sejumlah petani di Sukasari pun berharap agar pemerintah segera menurunkan bantuan untuk membantu mereka.
“Jangan hanya ke petani yang masuk gapoktan (gabungan kelompok tani) saja, tapi tolong pemerintah juga memberikan bantuan ke petani non gapoktan,” terangnya.
Sebelumnya tersiar kabar jika Asosiasi Petani Tembakau akan mendapatkan kucuran bagi hasil tembakau, namun informasi tersebut sejauh ini para petani tak mengetahuinya.(IRP)

