Sumedang

Warga Berharap Pabrik Jagung Hidup Kembali

Seorang warga tengah menunjuk letak pabrik pengolahan jagung di KAS yang kondisisnya sudah tidak terawat.

KOTA – Pabrik pengolahan jagung di Kawasan Agroteknobisnis Sumedang (KAS) yang terletak di Dusun Nangorak Desa Margamekar Kecamatan Sumedang Utara, kondisisnya sudah tidak terawat.

Pabrik yang dulunya memproduksi tonan jagung itu, kini menjadi sarang laba–laba lantaran sudah tidak aktivitas. Salah seorang warga yang juga merupakan pekerja di KAS, Gino (40), ia membenarkan jika kondisinya sudah tidak terawat lagi karena selain tidak dipakai produksi lagi tapi juga tidak ada yang merawat.

“Wah kondisinya memang sudah tidak terawat setelah berhenti produksi,” kata Gino kepada Sumeks, Jumat (3/5).

Sepengetahuanya, pabrik tersebut dibangun Tahun 2004 oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Pusat untuk mengolah jagung. Pada masa itu, kata Gino, daerah Nangorak dijadikan kawasan riset dan percontohan perkebunan jagung. Pengolahan meliputi pemipilan, pemisahan jagung dengan tongkol hingga pengolahan jagung menjadi tepung.

“Dibangun oleh BPPT pusat, dulu kan kawasan ini dijadikan riset dan percontohan perkebunan jagung, jadi sekalian dibuatkan pabrik pengolahanya, dari mulai pemisahan tongkol hingga jadi tepung jagung,” ungkapnya.

Ia menambahkan, jagung yang diproduksi di pabrik tersebut tidak hanya dari Nagorak saja, tetapi dari beberapa daerah lain seperti dari Buahdua, Surian, Jatinunggal dan berbagai lokasi perkebunan jagung lainya. Selain itu, di KAS juga dilakukan pembuatan bibit jagung unggul pada waktu itu, dan didatangkan langung insinyur bidang penelitian dari BPPT pusat.

“Tak hanya itu, disini juga pernah dilakukan pembuatan bibit unggul. Insinyur nya langsung dari Pusat, jadi beberapa jenis jagung itu dikawinkan,” tandasnya.

Namun sejak 2007, pabrik tersebut berhenti beroperasi karena pasokan jagung dari beberapa daerah mulai berkurang, hingga pabrik yang dulunya mempunyai karyawan, menjadi tidak ada sama sekali. Selain itu pada waktu tersebut juga merupakan masa peralihan dari BPPT ke pemerintah daerah sebagai pengelola yakni Bappeda sebagai SKPD yang ditunjuk.

”Ya mulai berhenti operasinya mah pada tahun 2007 karen pasokan jagung dari daerah penyuplai berkurang, selain itu mungkin karena kekurangan modal kan dari BPPT dialihkan pengelolaanya ke Pemda/karyawan yang tadinya jumlahnya 40 orang berkurang menjadi 10 dan lama-lama tidak ada,” lanjutnya.

Ia berharap, Pemkab Sumedang bisa memberdayakan kembali pabrik tersebut, karena selain bisa mendongkrak sektor pertanian jadung, akan tetapi juga warga sekitar bisa diberdayagunakan untuk bekerja di pabrik tersebut.

”Saya harap pemda yang sekarang sebagai pengelola bisa memberdayakan kembali, seperti waktu dikelola oleh BPPT kan bagus,” pungkasnya. (asp)

 

⚠️ Pemberitahuan: Isi komentar merupakan tanggung jawab penuh pemberi tanggapan. Redaksi Sumedang Online tidak bertanggung jawab atas isi atau dampak yang ditimbulkan dari komentar yang dikirimkan.

Tinggalkan Tanggapan

Exit mobile version