KESEHATAN, Pilihan Redaksi

Ini penjelasan BPOM terkait Nata De Coco asal Majalengka yang diduga mengandung urea

Penulis: Redaksi | Editor: Redaksi
Kepala Badan POM Kota Bandung, Abdul Rahim mengatakan Abdul Rahim menjelaskan akan memeriksa kembali kandungan amonium sulfat yang digunakan pada produksi Nata de Coco di Majalengka tersebut. | FOTO:  

BANDUNG – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) masih terus melakukan penelitian terhadap kandungan Nata De Coco asal Majalengka. Nata De Coco tersebut dilaporkan diduga mengandung pupuk urea.

Kepala Badan POM Kota Bandung, Abdul Rahim mengatakan Abdul Rahim menjelaskan akan memeriksa kembali kandungan amonium sulfat yang digunakan pada produksi Nata de Coco di Majalengka tersebut.

Dia menjelaskan Nata De Coco merupakan produk fermentasi, dalam proses pembuatannya dibutuhkan acetobacter xylinum, yaitu sejenis mikroba.  Nutrisi bakteri tersebut antara lain Nitrogen yang terkandung dalam amonium sulfat yang berasal dari pupuk dan sebagainya.  ”Jadi menggunakan pupuk itu sebenarnya mengambil amonium sulfat. Zat ini tidak berdampak untuk proses pembuatan Nata De Coco, asalkan sesuai dengan takaran yang sudah ditetapkan,”katanya kepada wartawan di Bandung seperti dilansir laman resmi pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kamis (5/10/2017)

Baca Juga  PPB Gelar Diskusi Media, 4 Tahun Kinerja Pemerintahan Jokowi-JK

Sejauh ini, Badan POM belum mengidentifikasi kandungan Nata de Coco di Majalengka, apakah mengambil dari pupuk atau foodgrade. Selain itu, harus dicek terlebih dahulu izin penggunaan bahan tersebut termasuk proses pembuatan produknya. ”Karena yang diperbolehkan oleh makanan yang diambil dari foodgrade. Tentunya harus dilihat sumbernya,”ujarnya

Baca Juga  Asa Medika Peduli, Bantu Pengobatan Warga Cimanintin

Dia mengatakan dalam proses fermentasi, amonium sulfat memang boleh digunakan melalui persyaratan tertentu. Namun dalam proses akhirnya, tidak boleh ditemukan adanya amonium sulfat dalam bahan makanan yang diolah. ”Pupuk urea menganduk aminium sulfat (ZA). Namun zat ini masih harus dikaji kembali apakah digunakan dalam foodgrade. Makanya harus diteliti kembali,”pungkasnya. (MAT)

Tinggalkan Balasan