Jakarta — Penyakit Hirschsprung (HSCR) merupakan gangguan bawaan yang terjadi ketika sebagian usus besar tidak memiliki sel saraf ganglion yang berfungsi untuk mengatur pergerakan usus. Kondisi ini menyebabkan kesulitan buang air besar (BAB) pada bayi, anak-anak, hingga dewasa.
Dokter Dito Anurogo MSc PhD, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar, menjelaskan bahwa penyakit ini terjadi karena mutasi genetik yang mengganggu migrasi sel saraf ke dinding usus. Gejalanya meliputi bayi yang tidak BAB dalam 48 jam pertama, perut buncit, muntah hijau, serta risiko infeksi usus (enterokolitis). Pada anak-anak dan remaja, gejalanya termasuk sembelit kronis, kembung, dan nyeri perut.
“Penanganan utama penyakit Hirschsprung adalah pembedahan, yaitu operasi pull-through untuk mengangkat bagian usus yang tidak memiliki sel saraf,” ujar Dokter Dito. “Selain itu, pemantauan ketat pasca operasi sangat penting untuk mencegah komplikasi seperti enterokolitis dan sembelit berulang.”
Menariknya, kemajuan terapi regeneratif seperti stem cell, terapi gen, organoid, dan teknologi CRISPR kini membuka harapan baru. “Terapi-terapi ini menargetkan penggantian sel saraf usus yang hilang, serta koreksi mutasi genetik penyebab penyakit Hirschsprung,” kata Dokter Dito.
Sebagai orang tua, penting untuk mewaspadai tanda-tanda sembelit parah pada anak dan segera memeriksakan ke dokter. “Deteksi dini dan penanganan yang tepat akan memberikan prognosis yang baik,” tambahnya.
Yuk, selalu waspada dan perhatikan kesehatan saluran cerna anak! ***










