[Pilkada Sumedang] Survey Daring JMPD, DOAMU unggul jauh

BANDUNG – Jaringan Masyarakat Peduli Demokrasi (JMPD) merilis hasil survey daring terhadap bakal calon Pilkada di enam kabupaten/kota, salahsatunya untuk Pemilihan Kepala daerah di Kabupaten Sumedang.

Dari rilis yang diterima redaksi survey daring dilaksanakan di laman resmi JMPD beralamatkan

www.jmpd.or.id dengan jumlah suara yang masuk per kabupaten/kota hingga Minggu (12/11) pukul 23.00 WIB bervariatif.

Berikut hasil lengkapnya:

Survey dimulai tanggal 24 September 2017 dan jumlah suara 1.650 votes, berdasarkan kuantifikasi voter per Balon sebagai berikut:
Dony Ahmad Munir (34%) 555 votes,
Rachmat Gurnita (15%) 239 votes,
Dudi Supardi (14%) 228 votes,
Uteng Nurhayat (9%) 147 votes,
Yadi Mulyadi (8%) 135 votes,
Irwansyah Putra (4%), 62 votes,
Asep Kurnia (3%) 51 votes,
Erwan Setiawan (3%) 50 votes,
Zaenal Alimin (3%) 43 votes,
Eka Setiawan (35) 43 votes,
Agung Anugerah (2%) 31 votes,
Ade Irawan (1%) 22 votes,
Taufik Gunawansyah (1%) 18 votes,
Jafar Sidik (1%) 13 votes,
Euis Mully (0%) 5 votes,
Agus Wellianto (0%) 4 votes,
Enni Sumarni (0%) 3 votes, dan
Ecek Karyana (0%) 1 vote.

Baca Juga  Tenaga Penyuluh Berjuang Jadi PNS Bersama Herman dan Maruarar

Sementara untuk survey daring Pilgub Jabar 2018 yang mencapai 17.827 suara, terjaring 16 nama Bakal Calon Gubernur Jawa Barat 2018, berdasarkan kuantifikasi voter sebagai berikut: Iwa Karniwa (24%, 4.384 Votes), Abdy Yuhana (24%, 4.272 Votes), Ahmad Syaikhu (22%, 3.810 Votes), Deddy Mizwar (11%, 2.044 Votes), Ridwan Kamil (5%, 969 Votes), Uu Ruzhanul Ulum (5%, 855 Votes), Dedi Mulyadi (2%),385 Votes), Puti Guntur Soekarno (2%, 343 Votes), Agung Suryamal (1%, 230 Votes), Nanat Fatah Natsir (1%,  172 Votes), Abdullah Gymnastiar (1%, 149 Votes), Dede Yusuf (1%, 91 Votes), Netty Prasetiyani (0%, 53 Votes), Ineu Purwadewi Sundari (0% 45 Votes), Dessy Ratnasari (0%, 40 Votes), dan Asep A. Maoshul Affandy (0%, 21 Votes).

Dalam penjelasan pengantar siaran pers yang dipublikasikan Ketua Divisi Penerbitan dan Publikasi Yadi Mardiansyah, menyebutkan Survei daring adalah survei di dunia digital, sehingga respondennya adalah masyarakat pengguna internet. “Survei ini berbasis internet, sehingga subjek penelitian adalah masyarakat digital, baik digital native maupun digital immigrant. Indikator faktual dalam survei daring kemungkinan berbeda dengan faktual berdasarkan survei luring yang terjun langsung ke lapangan mengunjungi masyarakat, karena survei daring dikhususkan pada masyarakat pengguna gadget (komputer dan hp berjaringan). Maka sangat wajar jika hasilnya akan berbeda dengan survei luring,” ungkapnya.

Baca Juga  Terbukti Pakai Mahar Politik, Paslon Bisa Didiskualifikasi

Sebut mereka, metode survei dilakukan dengan logged by Cookie and IP, maskudnya sistem mendeteksi alamat perangkat (IP address) dan jejak singgah (cookie) dari perangkat yang digunakan responden, sehingga prinsip one man one vote dalam survei ini tetap terjaga. Deteksi IP dan cookie memungkinkan responden digital tidak bisa memilih untuk lebih dari sekali dengan perangkat yang sama.

Survei Daring dibuat, dengan pertimbangan bahwa banyak Bakal Calon Gubenur, Bupati dan Walikota melakukan sosialisasi di dunia digital. Mereka membangun website sendiri atau membuat laman-laman di media sosial; terbanyak tersedia dalam facebook, instagram, dan twitter. Bahkan bukan hanya bakal calon, partai politik pengusung dan penyelenggara Pilkada juga dalam optimalisasi kinerja, membangun sosialisasi dan interaksi dengan masyarakat di dunia digital. “Sehingga survei daring ini bisa menjadi bahan rujukan bagi para bakal calon, sebagai evaluasi tingkat sosialisasi yang mereka bangun di dunia digital,” imbuhnya.

Baca Juga  Perselisihan Internal Musda Golkar Sumedang X 2020 Masuk Persidangan II Mahkamah Partai

Meski demikian, setelah melakukan evaluasi, Tim IT JMPD akan memperbaharui sistem survei daring agar lebih canggih dengan metode lebih ketat, sehingga melahirkan data voter yang lebih akurat, yaitu voter diharuskan register dengan akun google, dan facebook. “Sistem ini, selain dapat membaca IP address dan cookie, voter pun akan teridentifikasi, mulai usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lokasi dan identitas lainya yang dapat dijadikan rujukan bahan evaluasi, baik bagi penyelenggara Pilkada (KPU) dalam program sosialisasi maupun bagi para bakal calon dan partai politik. JPMD akan dapat memetakan kuantifikasi voter berdasarkan identifikasi terhadap data voter. Namun, terkait dengan nama dan alamat lengkap dan informasi privat yang dapat mengancam kerahasiaan voter akan tetap terjaga,” jelasnya.

Dalam rilis itu pun menyebutkan mulai minggu depan, JMPD akan mulai launching survei daring format dan metode baru untuk Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018. Kemudian akan dilanjutkan secara bertahap untuk Pilkada Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Barat. ***rls

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE OK TIDAK