SUMEDANG.ONLINE – Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang memberikan tanggapan sebagai hak jawab atas pemberitaan, yang menyebutkan jika pihaknya dan panitia penyelenggara abai atas keselamatan para peserta pada perhelatan Tari Umbul Kolosal di Jatigede. Pada acara itu menyebabkan 78 peserta pingsan dan belasan lainnya kasurupan di penghujung Tahun 2019.
“Atas nama Pemerintah Daerah, pertama saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh lapisan masyarakat baik yang terlibat langsung dalam acara maupun tidak. Sehingga bisa berlangsung sesuai rencana,” ujar Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokol, H Asep Tatang Sujana, dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Sabtu, 4 Januari 2020.
Dia memastikan, apa yang dilakukan oleh para peserta dan panitia sangat patut mendapat apresiasi karena mampu menyajikan atraksi yang sungguh mempesona meski melibatkan begitu banyak orang.
“Secara pribadi, saya sendiri begitu tersentuh dan sangat terkesan dengan penampilan kemarin. Para penari melakukan gerakan secara serempak. Begitu indah dan begitu memukau. Untuk menghasilkan ini, tentu banyak pengorbanan yang diberikan,” ucapnya.
Namun dia menyayangkan adanya pihak yang menyudutkan Pemda dan Panitia yang dituding abai atas keselamatan peserta.
“Saya melihat sendiri secara langsung betapa tanggapnya para petugas medis yang berjaga di Posko menangani para peserta yang pingsan atau kecapaian. Tidak ada satu pun yang dibiarkan. Semuanya ditangani,” kata Asep.
Bahkan semua yang hadir, termasuk penonton, turut membantu penyembuhan para penari yang jatuh pinsan maupun yang kasurupan.
“Semuanya secara sepontan mau membantu, termasuk dari pihak keamanan bahkan penonton,” tuturnya.
Senada dikatakan Tatang Sobana, dirinya selaku panitia yang bertugas sebagai koordinator para penari telah menyiapkan berbagai halnya.
“Kami telah menyiapkan ambulans di lima titik termasuk tim medisnya untuk mobilisasi jika ada yang sakit dan memerlukan evakuasi secepatnya. Itu belum termasuk ambulans yang diikutkan dari masing-masing kecamatan,” ucapnya.
Dikatakan, setiap ada kejadian oleh masing-masing tim kreatif yang ada di kelompok kecamatan langsung dilaporkan kepada panitia.
“Setelah mendapat laporan dari tim kreatif, kami langsung menjemput ke lokasi untuk melakukan tindakan. Ada yang ditangani di sana, seperti di mesjid. Ada juga yang dibawa langsung oleh ambulans,” tutur Tatang.
Pihaknya mengakui dan memohon maaf jika dalam pelaksanaan pagelaran tersebut masih ada kekurangan seraya berharap ke depan. “Atas nama panitia saya ucapkan terima kasih atas kritik dan sarannya. Tentunya ini adalah sebagai pemacu untuk perbaikan ke depannya. Mohon maaf atas segala kekurangan,” kata budayawan yang sering disapa Apih tersebut.
Sebagai informasi sanggahan dari pemerintah ini disampaikan setelah banyaknya sorotan tajam dari berbagai pihak atas kegiatan tersebut. Salahsatunya datang dari politisi Anggota DPRD Sumedang, dr. Iwan Nugraha. Dalam sebuah surat kabar lokal, dia menyebutkan dalam event itu Panitia dan Pemda abai dalam urusan keselamatan penari. Meski demikian dirinya mengapresiasi kegiatan tersebut.
“Saya secara pribadi mengapresiasi dilakasanakannya kegiatan ikonik seperti ini,” ujar dr Iwan Nugraha seperti dikutip SUMEDANG ONLINE dari Koran Sumeks.
Dikatakan dia momen seperti ini memang bisa menjadi daya tarik wisata dan budaya, khususnya untuk pariwisata Sumedang. “Akan tetapi jangan terkesan mencari prestasi dan prestise rekor muri dan sebagainya. Harus safety first,” tandasnya.
Dia pun meminta untuk kedepannya panitia untuk dapat berkeca dari pengalam sebelumnya di event Paralayang Dunia. Sehingga setiap acara dapat dilakukan matang dari mulai persiapan hingga urusan keselamatan peserta.
Senada Rachmat Djuliadi, dia mengatakan Pemda selalu memiliki kebiasaan tidak bisa mengantisipasi kemungkinan yang bakal terjadi dalam sebuah event besar. Dirinya menilai Pemerintah Daerah seharusnya telah dapat belajar dari event Paralayang yang dilaksanakan beberapa waktu lalu dalam mengantisipasi segala kemungkinan yang bakal terjadi.
“Tari umbul ini lebih besar lagi dari Paralayang kemarin. Harusnya persiapan bisa lebih matang. Dan yang saya lihat malah tidak seperti itu, banyak hal yang tidak terantisipasinya,” ujar Rahmat pada wartawan, Selasa, 31 Desember 2019.
Anggota Komisi III DPRD Sumedang yang membidangi kesehatan itu pun, secara khusus menyorot berkaitan dengan tim medis di lokasi acara. ”Saya sendiri menyaksikan puluhan yang pinsan, bahkan menurut informasi lebih banyak. Banyak yang histeris kata orang kesurupan. Tapi kalau dalam istilah medis itu disebut heatstroke. Akibat dari tubuh tidak tahan karena suhu yang panas. Sehingga dehidrasi dan dia pinsan. Mereka tidak tahan akibat kelelahan datang dari malam, kurang rehat, kurang asupan makanan dan menunggu di area yang sangat panas,” paparnya. ***IWAN RAHMAT ***

