Menyusuri Jejak Doa dari Cicadas ke Baitullah: Kisah Santi dan Ibunda Tercinta

"Awal mula pendaftaran haji, saya yang daftarkan papa dan mama. Saat itu saya belum tahu kalau takdirnya justru saya yang akan dampingi mama ke sini." - Susanti Triapriyanti -

Santi dan ibunda saat tiba di Bandara King Abdulazis International, Jeddah,Arab Saudi
Istimewa/SUMEDANGONLINE
Santi dan ibunda saat tiba di Bandara King Abdulazis International, Jeddah,Arab Saudi

Petang itu, langkah Susanti Triapriyanti atau akrab disapa Santi, terhenti tepat di pintu kedatangan fast track Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Pandangannya tak lepas dari pintu tempat para jemaah haji keluar satu per satu. Tatapannya cemas, hatinya gelisah. Ia menanti sosok perempuan paling penting dalam hidupnya—sang ibu—yang sedang dibantu keluar menggunakan kursi roda.

“Maaf, saya boleh menunggu ibu saya?” tanyanya pelan kepada seorang petugas haji di bandara.

“Silakan, Teh,” jawab sang petugas dengan senyum tulus.

Beberapa menit kemudian, sang ibu muncul bersama rombongan Kloter JKS 31. Santi menyambut dengan senyum lega, campuran antara syukur dan keharuan. Tangannya menggenggam erat pegangan kursi roda, seolah tak ingin kehilangan satu detik pun momen kebersamaan mereka di Tanah Suci.

“Alhamdulillah ya Allah, kami diberi kemudahan sejak dari asrama hingga tiba di Jeddah. Petugasnya ramah dan sangat membantu. Mama saya diperlakukan dengan baik,” ucapnya sambil menuntun sang ibu menuju terminal bus bandara.


Perjalanan Panjang dari Cisadas

Di balik raut wajah tenang Santi, tersimpan kisah penuh keteguhan dan cinta keluarga. Santi adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Ayahnya telah berpulang beberapa tahun lalu. Saat ibunda mendapat panggilan berhaji, ia meminta sang kakak untuk mendampingi. Namun karena alasan tertentu, tugas itu akhirnya jatuh ke tangan Santi.

Awalnya, ia menolak. Bukan karena enggan, tetapi karena takut membebani sang ibu, yang selama bertahun-tahun menabung dari hasil berjualan peralatan jenazah di pinggir jalan Cicadas, Bandung—sebuah profesi yang telah dijalani turun-temurun sejak neneknya.

Namun pada akhirnya, cinta mengalahkan segalanya.

“Ibu saya menunjuk kakak, tapi beliau menolak. Ibu lalu minta saya. Saya sempat menolak juga karena merasa belum siap dan takut membebani. Tapi hati saya luluh,” kisahnya.

Sejak kecil, Santi tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana. Ayah dan ibunya adalah pedagang perlengkapan jenazah—kain kafan, bunga tabur, kapas, tikar, semua dijajakan dengan tangan sendiri di lapak kecil di Cicadas. Penghasilan yang tak seberapa itu mereka sisihkan demi impian mulia: pergi ke Tanah Suci.


Dari Luka ke Cahaya

Pada tahun 2016, ibunda Santi mengalami kecelakaan motor yang cukup parah. Luka di lututnya kala itu dianggap biasa. Namun, waktu berkata lain. Tahun 2024, kaki sang ibu kembali sakit hingga tak mampu berjalan. Kursi roda menjadi teman setianya.

Namun, mukjizat kecil terjadi setibanya mereka di Tanah Suci.

“Alhamdulillah, kondisi kaki mama mulai membaik di sini. Tidak separah waktu menjelang berangkat. Rasanya bahagia dan senang sekali bisa mendampingi mama ke Baitullah,” ungkap Santi, matanya berkaca-kaca saat dihubungi dari Jeddah, Minggu (25/5/2025).

Dalam hati kecilnya, ia tak bisa menahan haru. Sosok ayahnya—yang dulu mendaftar haji bersama sang ibu—terus hadir dalam bayangannya. Meski sang ayah tak bisa turut serta secara fisik, Santi merasa kehadiran beliau nyata dalam setiap sujud dan doa.

“Antara tidak percaya dan terharu… Raut wajah papa selalu terbayang. Serasa papa ada bersama kami di sini,” ucapnya lirih.


Ringan Karena Cinta, Mudah Karena Ikhlas

Keraguan sempat menyelimuti hati Santi. Ia khawatir perjalanan haji akan terasa berat dengan kondisi sang ibu. Tapi semua ketakutan itu sirna. Petugas haji Indonesia yang sigap dan penuh empati membuat perjalanannya menjadi mudah.

“Awalnya saya pikir bakal repot banget bawa mama yang pakai kursi roda. Tapi semuanya dipermudah. Petugasnya sangat membantu. Saya benar-benar merasa didampingi dan tidak sendiri,” ujar Santi penuh syukur.

Kini, setelah menunaikan Umrah Wajib dan menginjakkan kaki di tempat suci yang selama ini hanya menjadi impian, Santi mengerti bahwa semua pengorbanan tak pernah sia-sia.


Doa yang Terjawab

Jualan rampe—yang mungkin bagi sebagian orang hanyalah pekerjaan sederhana—telah menjadi jalan menuju surga bagi keluarga Santi. Lebih dari 60 tahun, usaha itu telah menjadi napas kehidupan bagi tiga generasi di keluarganya.

“Awal mula pendaftaran haji, saya yang daftarkan papa dan mama. Saat itu saya belum tahu kalau takdirnya justru saya yang akan dampingi mama ke sini,” ucapnya.

Kini, di antara gemuruh doa jemaah, suara azan dari Masjidil Haram, dan harumnya udara Tanah Suci, Santi berdiri di sisi ibunya. Bersyukur. Tegar. Penuh cinta. Ia tahu, perjalanan ini bukan hanya tentang menunaikan rukun Islam, tapi tentang bakti, harapan, dan cinta tanpa akhir dari seorang anak kepada ibunya—dan kepada sang ayah yang telah tiada.

Dari Cicadas ke Baitullah, kisah keluarga kecil ini menjadi bukti bahwa jalan menuju surga bisa dimulai dari lapak sederhana di pinggir jalan.


Akhir kata, Tanah Suci tak hanya menjadi tempat bertemu dengan Allah, tapi juga menjadi ruang bertemu dengan kenangan dan cinta yang tak pernah hilang.

Disclaimer: Iklan atau Konten dalam kotak ini bukan dibuat oleh Redaksi, tetapi pihak ke-tiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE Terima Tidak