Setelah menempuh perjalanan misi kesenian selama hampir dua pekan di Jerman, grup musik tradisi Simpay Panaratas akhirnya kembali ke tanah air dan disambut hangat masyarakat Sumedang.
Kedatangan tim di Berlin pada 1 Agustus 2025 lalu disambut langsung oleh Kepala KUAI serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin. Sehari berselang, pada 2-3 Agustus, Simpay Panaratas menggelar Workshop Gamelan di Rumah Budaya Indonesia (RBI) Berlin, diikuti pelajar hingga pekerja Indonesia yang antusias mempelajari seni tradisi Nusantara.
Rangkaian misi budaya berlanjut ke kota Munchen pada 4-7 Agustus 2025. Di kota yang identik dengan klub sepak bola Bayern Munchen ini, Simpay Panaratas menyelenggarakan workshop dan pertunjukan gamelan bersama pecinta musik tradisi, baik dari dalam maupun luar kota. Workshop ditutup dengan sebuah pertunjukan sederhana di EineWeltHaus yang sukses menyita perhatian penonton. Demikian dikatakan, Pimpinan Simpay Panaratas, Dedy Hernawan. Sabtu,16/08/2025.
Lanjutnya, Kesuksesan di Munchen menjadi pijakan menuju penampilan besar berikutnya di Berlin. Simpay Panaratas diundang panitia Young Euro Classic Festival untuk tampil di Konzerthaus Berlin pada 8-10 Agustus 2025. Dalam panggung megah tersebut, tiga musisi gamelan Dedy Hernawan, Devi Anggitaningrum, dan Muhammad Gilang Assadillah berkesempatan tampil bersama Tbilisi Youth Orchestra dari Georgia.
Tepat pada 10 Agustus, Simpay Panaratas menutup rangkaian tournya dengan pertunjukan berdurasi satu jam, memadukan karya tradisi hingga kontemporer. Penampilan ini berhasil memukau penonton Eropa dan meninggalkan kesan mendalam.
“Perjuangan mengangkat ajen inajen seni kasumedangan akan terus dilakukan, kapan pun, di mana pun,” ujar Dedy Hernawan, pimpinan Simpay Panaratas, usai kembali ke Sumedang.
Meski membawa nama baik Sumedang hingga kancah internasional, perjalanan misi budaya ini ternyata sepenuhnya dilakukan secara mandiri tanpa dukungan dari Disparbudpora maupun Bupati Sumedang. Kondisi ini dinilai ironis, mengingat Sumedang menyandang predikat sebagai Puseur Budaya Sunda namun justru membiarkan senimannya berjuang sendiri demi mengharumkan nama daerah.
Dengan berakhirnya rangkaian misi budaya 2025, Simpay Panaratas kini tengah menyiapkan langkah berikutnya. Tahun 2026 direncanakan akan menjadi perjalanan yang lebih luas, sekaligus mempertegas gerakan budaya untuk terus “put Sumedang on the maps” di pentas dunia. ***










