Bupati Sumedang: “Toga Bukan Sekadar Simbol Akademik, Tapi Mahkota Perjuangan”

Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir memberikan pesan mendalam kepada para wisudawan Universitas Sebelas April (UNSAP) dan STAI Sebelas April Sumedang dalam Wisuda Ke-43 yang digelar di Graha Asia Plaza Sumedang, Rabu (5/11/2025).
Iwan Rakhmat/SUMEDANGONLINE
Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir memberikan pesan mendalam kepada para wisudawan Universitas Sebelas April (UNSAP) dan STAI Sebelas April Sumedang dalam Wisuda Ke-43 yang digelar di Graha Asia Plaza Sumedang, Rabu (5/11/2025).

SUMEDANG – Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir memberikan pesan mendalam kepada para wisudawan Universitas Sebelas April (UNSAP) dan STAI Sebelas April Sumedang dalam Wisuda Ke-43 yang digelar di Graha Asia Plaza Sumedang, Rabu (5/11/2025).

Di hadapan ribuan peserta dan tamu undangan, Bupati menegaskan bahwa toga bukan sekadar simbol akademik, melainkan mahkota perjuangan yang di dalamnya tersimpan doa, kerja keras, serta pengorbanan panjang.

“Toga yang kalian kenakan hari ini adalah mahkota perjuangan. Di baliknya ada kerja keras, mimpi masa kecil, dan doa orang tua yang tak pernah putus. Karena itu, syukurilah hari ini sebagai puncak dari proses panjang perjuangan kalian,” ujar Dony.

Bupati mengingatkan para wisudawan agar tidak berhenti belajar setelah meraih gelar sarjana. Menurutnya, tantangan kehidupan sesungguhnya justru dimulai setelah keluar dari bangku kuliah.

“Selesainya kuliah bukan berarti selesai belajar. Justru setelah ini, kalian akan menghadapi kehidupan nyata di luar kampus. Di situlah teori yang dipelajari diuji dalam praktik,” tuturnya.

Ia mendorong para lulusan untuk menjadi pembelajar sejati, tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh dan berintegritas dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Lebih lanjut, Bupati Dony menguraikan empat bekal penting yang harus dimiliki setiap wisudawan untuk meraih kesuksesan, yakni pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan integritas.

“Pengetahuan diperoleh dari pendidikan formal maupun nonformal. Pengalaman ditempa dari berbagai kegiatan organisasi atau pekerjaan. Jaringan sosial membuka peluang, dan integritas menjadikan seseorang dipercaya,” paparnya.

Menurutnya, perbedaan utama antara orang yang berhasil dan gagal bukan pada kecerdasan, melainkan pada kejujuran dan karakter.

“Integritas itu kunci. Orang yang jujur, tangguh, dan punya karakter kuat akan selalu dipercaya. Itu yang membedakan orang yang sekadar pintar dengan yang benar-benar sukses,” tegasnya.

Bupati juga menekankan bahwa setiap lulusan harus mampu menunjukkan perubahan nyata dalam pola pikir, sikap, dan tindakan setelah mengenakan toga.

“Harus ada bedanya sebelum dan sesudah memakai toga. Pola pikir harus lebih dewasa, sikap harus lebih bijak, dan tindakan harus lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari niat dan hati yang tulus.

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri. Maka perubahan harus dimulai dari hati, dari niat yang baik. Niat yang baik akan melahirkan pikiran positif, tindakan positif, hingga menjadi kebiasaan baik,” katanya.

Menutup arahannya, Bupati berharap momentum wisuda menjadi titik awal pengabdian bagi para lulusan untuk memberikan manfaat bagi lingkungan dan daerah.

“Ilmu tidak berhenti di atas kertas. Jadikan ilmu yang kalian peroleh sebagai amal dan karya nyata. Toga ini harus melahirkan perubahan, harus membawa manfaat bagi masyarakat,” tandasnya. ***

Disclaimer: Iklan atau Konten dalam kotak ini bukan dibuat oleh Redaksi, tetapi pihak ke-tiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE Terima Tidak