Home / ARSIP

Jumat, 29 Oktober 2010 - 13:03 WIB

Dilema Jatigede



jatigede.html/n43927582880_6683">

Ilustrasi

Berbicara masalah bendungan Jatigede sejak digulirkan pemerintah di era jaman orde Baru tahun 1960-an sampai pemerintah sekarang, merupakan salah satu program yang spektakuler dalam sejarah dunia. Bendungan Prabu Gajah Agung yang lebih dikenal dengan Bendungan Mega Proyek Jatigede akan menjadi salah satu bendungan Proyek terbesar di Asia.

Pembangunan yang melibatkan kalangan Intansi Pemerintah Menteri Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, kebudayaan dan pariwisata, tenaga kerja dan transmigrasi, menteri kehutanan, Provinsi jabar dan Kabupaten-kabupaten yang terlibat dalam pembangunan ( Sumedang, Majalengka, Indramayu dan Majalengka ).

Pemerintah bersepakat untuk menangani dan menyelesaikan dampak sosial pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang meliputi, masalah pembebasan lahan, pemindahan penduduk, pelestarian benda cagar budaya dan konservasi lahan kritis serta sumberdaya air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk. Dengan membentuk tim percepatan pembangunan dengan membentuk Satuan kerja (Satker), Satuan Petugas (Satgas) dan tim Panitia Pengadaan Tanah (P2T).

Baca Juga  Drainase Jalan Provinsi Mulai Diperbaiki

Padahal secara geografis wilayah Sumedang adalah merupakan daerah yang terletak jauh di atas permukaan laut (bukan dataran rendah). Seharusnya pemerintah mendahulukan reboisasi di hulu sungai Cimanuk untuk mencegah endapan lumpur yang tidak diharapkan sehingga saat terjadi hujan deras bendungan dapat menampung air tanpa adanya endapan lumpur, yang akan membahayakan wilayah yang mendapat pasokan air, seperti yang terjadi di bendungan waduk Jatiluhur.

Masyarakat korban Jatigede menangis dengan perilaku oknum – oknum tertentu yang datang dari berbagai kalangan dengan membentuk suatu konsfirasi permainan demi kepentingan dan kepuasan pribadi belaka, contoh soal penggelebungan lahan dan harga, relokasi penduduk serta membuat rumah – rumah baru di lahan yang akan dibebaskan dan masih banyak lagi modus yang akan dilakukan oleh oknum – oknum tertentu sehingga jelas ini merupakan fenomena yang hebat untuk kita tonton.

Ternyata tidak sampai disitu, warga masyarakat dampak Jatigede kembali menjerit dengan tidak direalisasikan-nya pembangunan – pembangunan jalan, jembatan yang rusak parah, serta bangunan – bangunan yang berkaitan dengan dunia pendidikan pun rusak, seperti diabaikan oleh pemerintah dengan alasan “itu adalah daerah genangan”. Padahal masyarakat Jatigede masih menjadi warga Sumedang. mereka mengharapkan perbaikan dan renovasi bangunan yang sudah rusak karena masyarakat Jatigede masih tinggal di tempat kelahirannya.

Baca Juga  Posisi Bupati Sumedang terancam , jika tak tangani kasus ini segera

Masyarakat jatigede sebagai anak baru beranjak dewasa hanya mengharapkan kail yang bagus dan berkualitas dari seorang ayah yang baik, bukan ikan yang kami dapat, karena sebesar apapun ikan itu kalau tidak bisa memancingnya hanya sekali itulah kita bisa menikmati ikan, inilah sebagai curahan hati warga Jatigede di mana para pemegang kebijakan Pemerintah dan pemegang kekuasaan mega proyek waduk Jatigede hanya menutup mata dengan kedua tangan terbuka?? Atau hanya mencibir manis senyum bibir di balik kaca sang pemimpin.** (Mul)

Sumber Berita: SUMEDANG ONLINE

Share :

Baca Juga

ARSIP

GERAK JALAN SEHAT SUMEKS 2010

ARSIP

Crew SumedangOnline Nyungsep di Eba

ARSIP

Waduk Jatigede Selesai 2014

ARSIP

Pembebasan Lahan Tol Cisumdawu selesai di 2010

ARSIP

Acara Darmaraja Festival II

ARSIP

600 Ha Lahan Jatigede, Masih Bermasalah

ARSIP

Terbakar, Gudang Mie Dilempar Petasan

ARSIP

DUDI MELANGKAH BERAT DENGAN SEGUDANG PERSOALAN