Sumedang

Patilasan Pangeran Jayakarta pun tenggelam oleh Jatigede

Menurut cerit tutur tinular, yang kembali dituturkan Iri, menurut cerita orang tua terdahulu meski tak diketahui keturunan siapa yang mulai mengisahkannya. Disebutkan Iri, jika dulu semasa zaman ia masih suka membuat rakit. Ketika kali Cimanuk tiba-tiba mendadak banjir, menyebabkan rakit yang ditambatkan dipinggir sungai tersebut terbalik.
“Kemudian dia membenarkan rakit yang terbalik itu, tapi malah justru kakinya yang terperosok ke dalam rakit hingga terjepit, dan kakinya terkilir. Masyarakat meyakni, jika Mbah Dira dan Mbah Toa itu adalah Pangeran Jayakusumah,” ungkapnya.
Kemudian Jayakusumah tersebut bertugas di sungai Ciliwung dan disana menjadi Pangeran Jayakarta. Menurut Iri, pangeran itulah yang membedah sungai Cisadane dan Ciliwung.
“Dari sana tidak ada cerita lagi, tapi tahu-tahu ada semacam petunjuk ke salahsatu warga yang menyebutkan jika leluhur (Pangeran Jayakarta) sudah kembali, dalam petunjuk tersebut ia berpesan ingin di pelihara oleh masyarakat Lameta, sebagai cirinya jika leluhur tersebut ada didaerah tersebut, jika ada burung yang lewat akan terjatuh ke tanah. Dulunya memang tanah ini sebuah kebun,” ungkapnya.
Namun Iri pun belum dapat memastikan kebenaran cerita tutur tinular tersebut karena sejauh ini belum ada penggalian secara serius.(*)

Laman: 1 2

⚠️ Pemberitahuan: Isi komentar merupakan tanggung jawab penuh pemberi tanggapan. Redaksi Sumedang Online tidak bertanggung jawab atas isi atau dampak yang ditimbulkan dari komentar yang dikirimkan.

Tinggalkan Tanggapan

Exit mobile version