BISNIS

Perajin Opak Tradisional di Sumedang Perlu Sentuhan Branding Pemasaran

Penulis: IWAN RAHMAT | Editor: Redaksi
Bupati Sumedang, H Dony Ahmad Munir saat kunjungan kerja ke Desa Linggajaya memerlihatkan opak Bakom.
Bupati Sumedang, H Dony Ahmad Munir saat kunjungan kerja ke Desa Linggajaya memerlihatkan opak Bakom. | FOTO: Istimewa via Humas Setda Sumedang

SUMEDANG ONLINE – Perajin opak di Dusun Bakom, Desa Linggajaya, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang perlu sentuhan teknologi dan branding dalam hal pemasaran.

Masalah branding, menjadikan opak Bakom kurang dikenal masyarakat, padahal di Kampung itu dalam seminggu mampu menghasilkan produksi opak Bakom hingga 4 ribu biji.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ketidak tahuan market atas opak Bakom beralasan, karena selama ini para perajin opak Bakom tidak mengemas dengan branding khusus.

Baca Juga  Dinkes Sumedang Sebut Vaksinasi untuk Pelajar Sudah Dimulai

Kemasan masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan plastik transparan.

“Kemasannya hanya diplastikin polos, sehingga pembeli di pasar-pasar tak tahu bahwa opak itu di produksi orang bakom,” kata Eris perajin opak Bakom.

Meski dilakukan secara tradisional namun dalam seminggu, para perajin opak Bakom mampu memroduksi opak Bakom hingga 4 ribu biji dengan target pemasaran pasar tradisional.

Baca Juga  Adhi Karya Bidik Garap Tol Cisumdawu

“Ya variasi per orangnya, kalau dijumlahin semua opak buatan warga Bakom bisa ribuan perharinya,” ujarnya.

Harga opak Bakom dijual relatif murah, dalam satu kemasan plastik berisi 100 biji dijual dengan harga Rp30 ribu.

Hal sama diakui Mimin, dia mengatakan produksi opak Bakom masih dilakukan skala produksi rumah tangga.

“Produksi opak di kami setiap hari karena membuat opak sudah jadi lahan usaha kebanyakan warga kampung Bakom,” kata Mimin warga Bakom.

Baca Juga  Salon dan Cafe Methani Hadir di Sumedang

Mimin pun membenarkan jika selama ini belum banyak yang mengetahui jika opak yang dipasarkan di sejumlah pasar tradisional maupun toko merupakan opak yang diproduksi masyarakat Bakom. Itu terjadi karena kemasan mereka tidak mencantumkan brand opak Bakom.

Pemasaran pun lebih condong dari individu ke individu. ***

Tinggalkan Balasan