Jakarta, 4 Juli 2025 – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan pelemahan aktivitas manufaktur global di tengah ketidakpastian geopolitik dan perdagangan internasional. Hal ini disampaikannya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Kamis (4/7/2025).
“Indeks PMI global terkontraksi, harga komoditas fluktuatif, dan konflik Timur Tengah memicu volatilitas harga minyak. IMF dan Bank Dunia pun memangkas proyeksi pertumbuhan 2025,” jelas Menkeu.
Meski tekanan global membayangi, ekonomi Indonesia dinilai masih resilien dengan inflasi inti terkendali di 1,9% dan surplus neraca perdagangan. Namun, dampak perlambatan mulai terlihat:
Aktivitas manufaktur masuk zona kontraksi
Penjualan semen & mobil terkoreksi
Volatilitas pasar keuangan meningkat
Paket Stimulus Rp24 Triliun Diluncurkan
Untuk mengantisipasi dampak lebih dalam, pemerintah meluncurkan Paket Stimulus Ekonomi Tahap II dengan fokus:
Diskon Transportasi (Rp1,59 triliun):
Tiket kereta/pesawat/kapal selama libur sekolah
Potongan tarif tol
Bansos Tambahan:
Rp200 ribu/bulan (Kartu Sembako) selama 2 bulan
Beras 10 kg/bulan (Rp11,93 triliun)
Subsidi Upah (Rp10,72 triliun):
Rp300 ribu untuk 17,3 juta pekerja gaji <Rp3,5 juta
Guru Kemendikbud & Kemenag
“Stimulus ini kami harap bisa mengompensasi tekanan global yang berisiko menekan pertumbuhan ke 4,7%,” tegas Sri Mulyani.
Analisis:
Langkah ini menjadi krusial menyambut triwulan III di tengah eskalasi perang dagang AS-China dan kebijakan tarif “Liberation Day” Presiden Trump. (***)


















