21 Jul 2010 11:39 WIB | PENULIS: asnang | EDITOR: Redaksi
Majelis ulama Indonesia atau MUI Kabupaten Sumedang membantah terjadinya revisi arah kiblat. Sebab, dari dulu MUI tidak mengubah arah kiblat, yakni ke kabah di mekah. Sedangkan mengenai pendapat kiblat itu ke barat, karena posisi Arab Saudi tempat Kabah berada ada pada posisi Barat Indonesia. Hal itu dikemukakan Ketua MUI Kabupaten Sumedang KH. Adam Malik Ibrahim. Adam Malik mengatakan arah sholat adalah kiblat artinya mengarah pada keberadaan Kabah di Mekkah. Sehingga bagi Indonesia harus mengarah ke Barat dengan kemiringan 25 derajat ke arah Barat Laut. Ia mengungkapkan, yang kemarin ramai diperbincangkan di media elektronik itu merupakan fenomena alam yang sering terjadi. Adam menerangkan, pada suatu waktu ada kalanya matahari berada tepat di atas kabah, dan saat itulah merupakan waktu yang tepat untuk menyempurnakan ibadah. Untuk tahun ini peredaran matahari di atas kabah atau yanng melintas di mekah terjadi du akli yakni pada 26-30 mei dan 14-18 juli 2010. saat itu merupakan waktu yang sempurna untuk mengupayakan pelurusan arah kiblat. Menurutnya, pihaknya tidak terlalu mempermasalahkan mengenai terjadinya pergeseran lempeng bumi, namun biasanya setiap tahun itu penomena itu ada, dan setelah itu arah kiblat kembali lagi seperti semula. Sebab, lanjutnya, setelah mengeluarkan edaran ke setiap kecamatan, ternyata kesimpulan dan hasilnya kiblat yang dituju, yakni ke mekah sama. Jadi, sekali lagi tidak ada revisi mengenai arah kiblat. Sedangkan masjid-masjid yang saat shalatnya dimiringkan, lanjutnya, itu dikarenakan pada saat membangun masjid tersebut belum ditentukan arah kiblatnya, atau terjadi pergeseran. Sebelumnya MUI merevisi Fatwa nomor 3 tahun 2010 tentang arah kiblat masjid di Indonesia yang ternyata keliru, jika selama ini pemahaman umat islam kebanyakan bahwa kiblat indonesia menghadap ke barat ternyata tidak sepenuhnya akurat./SUMEDANG ONLINE

Majelis ulama Indonesia atau MUI Kabupaten Sumedang membantah terjadinya revisi arah kiblat. Sebab, dari dulu MUI tidak mengubah arah kiblat, yakni ke kabah di mekah. Sedangkan mengenai pendapat kiblat itu ke barat, karena posisi Arab Saudi tempat Kabah berada ada pada posisi Barat Indonesia.

Hal itu dikemukakan Ketua MUI Kabupaten Sumedang KH. Adam Malik Ibrahim. Adam Malik mengatakan arah sholat adalah kiblat artinya mengarah pada keberadaan Kabah di Mekkah. Sehingga bagi Indonesia harus mengarah ke Barat dengan kemiringan 25 derajat ke arah Barat Laut. Ia mengungkapkan, yang kemarin ramai diperbincangkan di media elektronik itu merupakan fenomena alam yang sering terjadi. Adam menerangkan, pada suatu waktu ada kalanya matahari berada tepat di atas kabah, dan saat itulah merupakan waktu yang tepat untuk menyempurnakan ibadah.

Untuk tahun ini peredaran matahari di atas kabah atau yanng melintas di mekah terjadi du akli yakni pada 26-30 mei dan 14-18 juli 2010. saat itu merupakan waktu yang sempurna untuk mengupayakan pelurusan arah kiblat. Menurutnya, pihaknya tidak terlalu mempermasalahkan mengenai terjadinya pergeseran lempeng bumi, namun biasanya setiap tahun itu penomena itu ada, dan setelah itu arah kiblat kembali lagi seperti semula. Sebab, lanjutnya, setelah mengeluarkan edaran ke setiap kecamatan, ternyata kesimpulan dan hasilnya kiblat yang dituju, yakni ke mekah sama. Jadi, sekali lagi tidak ada revisi mengenai arah kiblat.

Sedangkan masjid-masjid yang saat shalatnya dimiringkan, lanjutnya, itu dikarenakan pada saat membangun masjid tersebut belum ditentukan arah kiblatnya, atau terjadi pergeseran. Sebelumnya MUI merevisi Fatwa nomor 3 tahun 2010 tentang arah kiblat masjid di Indonesia yang ternyata keliru, jika selama ini pemahaman umat islam kebanyakan bahwa kiblat indonesia menghadap ke barat ternyata tidak sepenuhnya akurat.

Install SUMEDANGONLINE MOBILE
| Advertorial