Saya tumbuh di lingkungan pedesaan yang sederhana. Jalan-jalan sempit, sawah yang membentang, dan interaksi antarwarga yang hangat menjadi bagian dari keseharian. Namun, satu hal yang selalu saya amati dari dulu hingga kini adalah satu pertanyaan besar: Mengapa ekonomi desa begitu tergantung pada bantuan dari luar? Mengapa desa tidak diberi ruang lebih untuk berdiri di atas kakinya sendiri?
Dari pertanyaan itu, saya mulai merenungi lebih dalam tentang koperasi desa—bukan sekadar tempat simpan pinjam, tapi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat. Belakangan, saya mengenal konsep Koperasi Desa Merah Putih, sebuah gagasan tentang koperasi yang di inisiasi, di intervensi dan di fasilitasi oleh Pemerintah yang proses lebih lanjut dibangun oleh warga, untuk warga, dan dikembangkan dengan semangat gotong royong melalui Musyawarah Desa khusus.
Yang menarik perhatian saya bukan hanya proses dan aktivitas ekonominya yang dilakukan , tetapi potensi besarnya sebagai insentif fiskal tidak langsung. Ya, saya menyebutnya begitu, karena ketika koperasi desa merah putih sehat dan mandiri, desa ikut tumbuh. Daya beli meningkat, ekonomi berputar, lapangan kerja terbuka, dan akhirnya—meski tidak langsung—pendapatan desa dan daerah bisa terdongkrak.
Sementara itu, banyak pemerintah daerah masih sibuk mengajukan proposal ke pusat, menanti aliran dana yang seringkali habis sebelum sempat mengakar. Padahal, jika koperasi desa dibiayai dengan skema yang berpihak dan berjangka panjang, maka kita sedang menanam benih kemandirian fiskal dari dalam. Tanpa perlu menunggu belas kasihan APBN.
Pembiayaan koperasi bukanlah subsidi. Ia investasi sosial-ekonomi. Jika pemerintah serius ingin memberdayakan desa, maka koperasi seharusnya menjadi mitra strategis, bukan pelengkap program pembangunan.
Bayangkan jika setiap desa punya koperasi desa merah putih yang diberi akses pembiayaan berkeadilan. Kita tak hanya bicara angka pertumbuhan, tapi juga harga diri. Desa tak lagi sekadar objek pembangunan, tetapi subjek yang punya suara dan kekuatan.
Saya menulis ini bukan sebagai ahli ekonomi, tapi sebagai warga yang percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dari koperasi, dari desa, dan dari keberanian kita memberi ruang bagi yang membumi untuk tumbuh. (*)
*Penulis adalah Ketua Dewas Fokus Sinergi Kemitraan, Perkumpulan Studi dan Aksi Pemberdayaan Masyarakat.










