Home / FEATURE & OPINI / Pilihan Redaksi

Jumat, 23 November 2018 - 02:03 WIB

Memperingati Maulid Nabi Muhammmad Saw, Merekatkan Ukhuwah Islamiyah



MAULID Nabi Muhammad Saw, kadang-kadang disebut Maulid Nabi atau Maulud adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir.  Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara substansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw. (https://id.m.wikipedia.org) Bahkan ada yang mengatakan memperingati Mualid Nabi adalah bentuk ekspresi kecintaan secara massal kepada junjungan tercinta, Rasulullah Saw. (https://dingkeli.net)

Nabi Muhammad SAW ialah Nabi yang membawa agama Islam dari Allah SWT. Agama yang mengatur hubungan manusia dengan Khaliq-nya, dengan dirinya dan dengan manusia sesamanya. Hubungan manusia dengan Khaliq-nya tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya tercakup dalam perkara akhlak, makanan, dan pakaian. Hubungan manusia dengan sesamanya tercakup dalam perkara mu’amalah dan ‘uqubat (sanksi). (Peraturan Hidup dalam Islam, 117)

 

Oleh : Usup Supriadi, S.Pd.I

(Guru PAI di MIS Cikoneng – Ganeas)

Ayat al-Qur’an dan al-Hadits berikut ini penting diketahui oleh umat Islam yang tengah berada dalam suasana Maulid Nabi. Pertama, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara ….” (TQS. Al-Hujurat [49]:10). Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, menjelaskan ayat diatas, bahwa jika ada pada diri seseorang dimanapun, baik di timur maupun di barat muka bumi ini, pada diri seseorang tersebut ada keimanan kepada Allah, para Malaikat, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Qadha dan Qadar serta Hari Akhir, maka sesungguhnya orang tersebut saudara bagi orang beriman lainnya. (Tafsir as-Sa’di). Kedua, “Sungguh, orang beriman bagi orang beriman seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR. Bukhari, Muslim, an-Nasai, at-Tirmidzi dan Ahmad). Ketiga, “Berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah secara bersama-sama dan janganlah berpecah-belah ….” (TQS. Ali-Imran [3]:103). Frasa “tali Allah” menurut Abu Said al-Khudri, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda : “Kitab Allah adalah tali Allah yang membentang dari langit hingga bumi.” (HR. At-Tirmidzi). Kitab Allah tak lain adalah al-Qur’an. Dengan demikian Tali Allah adalah Al-Qur’an. Adapun frasa “janganlah berpecah-belah” menurut Imam Al-Qurthubi, maksudnya jangan berselisih dalam agama, seperti umat Yahudi dan Nasrani. Frasa tersebut juga maksudnya jangan bergolong-golongan mengikuti hawa nafsu dengan berbagai tujuan duniawi. (Tafsir al-Qurthubi, IV/159).

Baca Juga  Di Asian Games, Menpora Berharap Pencaksikat Raih Medali

Tentu masih ada ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang menerangkan tentang bagaimana seharusnya orang beriman terhadap sesama orang beriman lainnya. Yang intinya sesama orang beriman adalah bersaudara dan harus bersatu. Inilah yang pernah terucap dari lisan Rasulillah Nabi Muhammad Saw. Inilah yang pernah dilakukan oleh Beliau Saw. manusia teramat mulia -yang hari kelahirannya diperingati dan dirayakan setiap tahun sebagai wujud kecintaan kepada Beliau Saw-. Hingga muncullah pertanyaan-pertanyaan kritis untuk direnungkan. Pertama, Sudah cukupkah bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw hanya dengan memperingati atau merayakan hari lahirnya? Kedua, kalau benar cinta kepada Nabi Muhammad Saw, sudahkah memperlakukan atau bersikap layaknya saudara terhadap sesama orang beriman lainnya? Ketiga, kalau benar cinta kepada Nabi Muhammad Saw, sudahkah kita dengan sesama orang beriman lainnya saling menguatkan, saling mengokohkan, bukan saling melemahkan, saling manjatuhkan? Keempat, kalau benar cinta kepada Nabi Muhammad Saw, sudahkah kita berpegang teguh secara bersama-sama kepada al-Qur’an dan tidak berpecah-belah, tidak bercerai-berai?

Baca Juga  Tiba di Bekasi Calon Jamaah Haji Sumedang Langsung Tes Kesehatan

Oleh karena itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw jangan hanya menjadi kegiatan rutin semata tanpa muatan perubahan ke arah yang lebih baik dalam hal ini ke arah persatuan umat Islam. Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw tahun ini mari menjalin persaudaraan Islam. Mari saling menguatkan, saling mengokohkan, tidak saling melemahkan, jangan saling manjatuhkan. Mari  berpegang teguh kepada al-Qur’an dan tidak berpecah-belah, jangan bercerai-berai. Mari kita rekatkan Ukhuwah Islamiyah sebagai bukti kecintaan kita kepada Nabi Muhammad Saw. dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Mari bersatu dalam ikatan akidah Islam. Ikatan akidah Islam adalah ikatan yang kokoh. Hanya inilah ikatan yang Allah perintahkan buat kita laksanakan agar kita diselamatkan oleh-Nya di dunia dan akhirat.

 

Wallaahu ‘alam bi showaab. [ ]

Sumber Berita: SUMEDANG ONLINE

Share :

Baca Juga

Anggota DPR/MPRI RI Dony Ahmad Munir

Pilihan Redaksi

Dony: LGBT, Cegah Obati, Tolak!

Pilihan Redaksi

Wow, 8.480 Kader satuan Komunitas Pramuka Paguyuban Pasundan Dilantik

Pilihan Redaksi

Ini Harapan Pimpinan Al Masoem ke Dony-Erwan
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sumedang, Irwansyah Putra saat secara simbolis menyerahkan bantuan dari Mantan anggota DPR RI Periode 2004-2019, Maruarar Sirait pada pengurus Anak Cabang PDI Perjuangan Sumedang. Jumat, 15 Mei 2020.

Pilihan Redaksi

Merasa Diperhatikan, Sosok Ara Dirindukan Kader PDIP Sumedang

Pilihan Redaksi

KPU Tetapkan Lima Pasangan Calon Peserta Pilkada Sumedang 2018

Persib Aing

Nyikut Pemain Persela, Hariono Tak Bisa Tampil Lawan PS Tira

Pilihan Redaksi

Pembebasan Lahan Bendung Rengrang Mandek, Dadang: Harusnya Sudah Dimulai
Soliditas TNI-Polri Tak Sekadar Slogan, Kapolres Sumedang Ikut Rayakan HUT Juang Kartika

Pilihan Redaksi

Soliditas TNI-Polri Tak Sekadar Slogan, Kapolres Sumedang Ikut Rayakan HUT Juang Kartika